Januari 2015


Selain Indonesia yang menggunakan bahasa Jawa terutama dikalangan suku Jawa, ternyata bahasa Jawa juga digunakan di beberapa negara lain. Tentu saja bukan bahasa resmi negara tersebut dan masih ada hubungannya dengan orang-orang Jawa di masa lampau.


1. Suriname
Dahulu disebut Guyana Belanda dengan ibukotanya Paramaribo, yaitu sebuah negara jajahan Belanda di Amerika Selatan. Antara tahun 1890-1939 banyak orang-orang Jawa yang dikirim ke Suriname sebagai budak dibeberapa perkebunan. Meskipun sekarang orang-orang Jawa disana sudah keturunan generasi ke-4 atau 5, tetapi masih banyak yang menggunakan bahasa Jawa terutama bahasa jawa ngoko (tingkatan terendah dalam penggunaan bahasa jawa). Sebab jaman dahulu penggunaan bahasa jawa krama (tingkatan penggunaan bahasa jawa yang halus) di tanah Jawa sendiri masih terbatas di kalangan keraton atau keluarga bangsawan (ningrat) dan kalangan terpelajar.

2. Kaledonia Baru
Sebuah negara di Samudra Pasifik sisi selatan dan juga disebut Kepulauan Kanaki. Kanaki itu merupakan sebutan untuk penduduk asli pulau tersebut. Kepulauan ini merupakan jajahan Perancis sehingga disebut juga Nouvelle-Caledonie dengan ibukota Noumea. Di pulau tersebut dahulu banyak orang-orang jawa yang menjadi kuli-kontrak untuk bekerja di perkebunan-perkebunan milik orang Perancis. Pengiriman orang-orang Jawa yang menjadi kuli-kontrak di Kaledonia Baru, dihentikan sejak tahun 1949. Tetapi sudah tidak seperti waktu pertama kali orang jawa dikirim ke sana dan tetap menggunakan bahasa Jawa hingga bertahun-tahun lamanya. Anak cucu mereka yang sekarang ini sudah tidak bisa berbicara memakai bahasa Jawa dan hanya menggunakan bahasa Perancis.
[next]

3. Singapura
Beberapa orang Jawa yang umumnya berasal dari daerah Jawa Tengah dikirim ke Singapura mulai tahun 1825, untuk dipekerjakan di perkebunan karet, konstruksi rel kereta/trem, dan konstruksi jalan raya. Para pekerja tersebut dikumpulkan di sebuah tempat yang dinamakan Kampong Jawa di pinggiran sungai Rochor. Ada juga yang ditempatkan di daerah Kallang (sekarang Kallang Airport Estate).

4. Malaysia
Mulai tahun 1900-an banyak orang Jawa yang sengaja pindah ke Malaysia terutama karena faktor ekonomi. Masyarakat Jawa di Malaysia yang sekarang sudah generasi ke-3 atau 4 meskipun sebagian masih menggunakan adat dan tatacara Jawa, tetapi menurut undang-undang Malaysia sudah dianggap sebagai Melayu Pribumi. Orang-orang Jawa disana banyak yang mendiami Negri Selangor terutama di daerah Tanjung Karang, Sabak Bernam, Kuala Selangor, Kelang, Banting dan Sepang. Di kawasan Johor juga ada tetapi generasi mudanya sudah banyak yang lupa dengan tradisi leluhurnya, dan sebagian yang lain nampak malu mengakui jika masih keturunan Jawa.

5. Belanda
Banyak orang Jawa yang dikirim ke negeri Belanda dan dipekerjakan di rumah-rumah (pekerja domestik) yang dahulu disebut jongos. Tetapi kondisi sekarang sudah berubah, anak cucu para pembantu rumah tangga tersebut kehidupannya sudah maju dan memiliki derajat yang sama dengan warga Belanda lainnya.


[full-post]

Sengkuni utawa Sakuni iku patih ing Ngastina. Sengkuni putrane Prabu Kiswara/Suwala/ Suprala. Sedulure ana papat, yaiku Prabu Gandara, Dewi Gendari, Harya Sarabasata, Harya Gajaksa. Sesebutan liyane kajaba Sengkuni, Harya Suman, Trigantalpati, Suwalaputra. Sengkuni mapan ing Plasajenar. Gar-wane Sengkuni nama Dewi Sukesti. Peputra Arya Antisura, Arya Surabasah, Ian Dewi Antiwati. Dewi Antiwati dadi garwane Patih Udawa, pepatih ing Dwarawati.
Miturut carita, Sengkuni iku panjalmane Bathara Dwapara, dewa pangrusak, mungsuhe kautaman. Mula sengkuni iku watake culika, licik, drengki, srei, murang tata, waton sulaya, Ian seneng laku cidra. Jaman enome Sengkuni aran Trigantalpati, satriya sing bagus. Wujude dadi elek, cangkeme mewek, marga disuwek¬suwek dening Patih Gandamana. Wektu samana padha-padha suwita ing Ngastina. Sengkuni kepengin dadi patih. Patih Gandamana, patihe Prabu Pandhu, dipaeka (dipitenah) dening Sengkuni. Gandamana ing jeblungake sumur, dikrutuk gegaman Ian watu, banjur diurugi. Gandamana ora mati, males lava marang Sengkuni, banjur dijuwing-juwing kuwandhane.
Nalika Dewi Gendari dadi prameswarine Prabu Dhestarata, Sengkuni dadi patihe. Kalungguhane patih langgeng nganti jumenenge Prabu Duryudana (putrane Dhestarata karo Gendari). Kanthi rekadayane Sengkuni, Kurawa tansah kepengin nyimakake Pandhawa.
Ing Bharatayuda, kabeh senapati wis gugur (Bhisma, Karna, Durna, Salya), Duryudana bingung, nggetuni lelakone mung amarga kena pambujuke patihe ya Sengkuni. Sengkuni maju perang, nglepasake panah dadi ula maewu-ewu. Akeh para prajurit Pandhawa mati kacokot ula. Janaka mateg aji maruta, angin tumiyup nyingkirake ula-ula mau. Sengkuni pancen sekti, ora empan kabeh sanjata. Janaka kalah. Wrekudara bingung kabeh kadigdayane, aji-ajine ora bisa mateni Sengkuni.
Kresna minangka titising Wisnu mangerti apa sebabe. Kabeh awake Sengkuni tau dilaburi lenga tala mula ora empan senjata. Dena sing ora kelaburan mung papan buwangane. Sawise mangerti pengapesane, Werkudara enggal nyandhak Sengkuni, diwalik awake, dalan buwangane disuwek nganggo kuku Pancanaka. Sengkuni mati sanalika.
matur nuwun,

kapethik saking seratanipun Ibu Yuyun Dian wonten ing Yuyun's Blog
ilustrasi kapendhet saking Situs Sutresna Jawa

Legenda Rara Mendut - Pranacitra sampai sekarang masih menjadi salah satu cerita Kethoprak (seni drama tradisional Jawa) yang mempesona. Menjadi pertanyaan banyak orang, cerita yang mirip kisah Romeo dan Juliet itu memang sungguh-sungguh terjadi atau hanya khayalan para pujangga kerajaan Mataram di jaman Sultan Agung Hanyokrokusuma?

Sebagian mengatakan itu hanyalah dongeng sanepan (ada makna lain yang terselubung). Kejadianya sendiri nyata, tetapi para pelakunya dirahasiakan/disamarkan, karena Rara Mendut dan Pranacitra itu masih kerabat raja.  Bapak Iman Sobro (alm), jurukunci makam Rara Mendut di desa Gandhu, Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Prop. Yogyakarta, semasa beliau masih hidup juga pernah mengatakan, tidak percaya jika Rara Mendut itu hanyalah seorang pidak pedarakan (wong cilik/rakyat jelata). Mestilah masih keturunan trah di kalangan kerajaan.

Ada lagi yang berpendapat apabila Rara Mendut memang benar ada dan menjadi salah seorang selir Tumenggung Wiraguna (Tumenggung adalah pangkat tertinggi di kalangan prajurit militer jaman kerajaan, setara dengan pangkat jendral di jaman sekarang). Kemudian yang namanya Pranacitra itu hanyalah nama samaran. Sesungguhnya 'kekasih gelap' Rara Mendut tersebut adalah seorang putra mahkota yang dikemudian hari menjadi Amangkurat Agung (atau disebut pula Amangkurat Seda Tegalarum, karena meninggal di desa Tegal Arum. Seda artinya mati/meninggal). Dan yang dikubur bersamaan dengan Rara Mendut itu adalah salah seorang abdi putra mahkota tersebut.
[next]
Ada babad (legenda) diceritakan saat putra mahkota mengambil istri selirnya Wiraguna, seluruh abdi putra mahkota tersebut dihukum mati (termasuk Rara Mendut ?). Sedangkan putra mahkota tersebut dibuang di hutan Lipura. Untuk menutup rasa malu yang menimpa Kanjeng Sultan Agung, jenasah Rara Mendut dikubur bersamaan dengan seorang abdi putra mahkota tersebut.

Yang membuat bingung para ahli sejarah, mengapa makam Rara Mendut itu ada di 3 tempat? (Bahkan lebih karena di daerah Gresik pun ada makam yang dianggap sebagai makam Rara Mendut). Satu makam di desa Gandhu, satu makam ada di desa Kajor Wetan, Kelurahan Selapamiara, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan ada satu makam lagi di desa Blambangan, Kelurahan Jagatirta, Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman. Ketiga tempat tersebut masih di wilayah Yogyakarta. Lebih aneh lagi, sebelum diterbitkan larangan di tahun 1965, para peziarah yang ingin terwujud keinginannya, harus melakukan hubungan intim (ritual sex) dengan peziarah lain yang bukan muhrimnya. Kepercayaan tak lazim dan menyimpang seperti ini hanya terdapat di makam Gandhu.

Dari ketiga makam tersebut memiliki kesamaan cerita turun-temurun. Yaitu, setelah Kerajaan Pati di pesisir utara pulau Jawa dikalahkan kerajaan Mataram (tahun 1627), Tumenggung Wiraguna mendapat hadiah putri boyongan yang cantik parasnya dan bernama Rara Mendut, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya menaklukkan Pati. Jendral Wiraguna sendiri sudah berusia lanjut, tetapi tetap menjadi pimpinan prajurit yang sangat disegani. Untuk mengisi waktu-waktu luang, istri selir sang jendral yang bernama Rara Mendut tersebut, diberi kebebasan berjualan rokok yang dikenal sebagai rokok ndika (rokok sampeyan/ rokok anda). Kebetulan juga ada perjaka ganteng bernama Pranacitra yang suka keluyuran tanpa tujuan, ketika beranjangsana di rumah katumenggungan, melihat Rara Mendut yang sangat cantik dan seketika itu pula merasa jatuh cinta. Bagaikan gayung bersambut, Rara Mendut yang masih belia tersebut, juga menanggapi cinta Pranacitra. Keduanya memadu kasih secara rahasia.
[next]
credit: warisdjati.blogspot.com
Pada suatu hari, keduanya bertekad untuk pergi dan melarikan diri dari ndalem (rumah) katumenggungan. Mereka melarikan diri ke arah selatan  dan ketika hendak menyeberang sungai Oya di desa Dogongan, mampu dikejar oleh prajurit-prajurit Wiraguna. Keduanya ditangkap dan dibawa menghadap Tumenggung Wiraguna. Betapa murkanya sang jendral yang sudah kenyang pengalaman di berbagai peperangan tersebut. Meskipun Pranacitra sudah meminta maaf dan bersimpuh di kaki sang jendral, tetap tidak mampu meredakan amarah Tumenggung Wiraguna. Pranacitra disuruh pergi. Baru beranjak beberapa langkah, Wiraguna yang teringat harga dirinya yang telah direndahkan, seketika menjadi kalap dan Pranacitra ditusuk dengan sebilah keris dari belakang tembus ke dada. Rara mendut yang menyaksikan kejadian tersebut kaget dan spontan berlari memeluk 'kekasihnya' itu. Tak hayal lagi, keris yang tembus di dada Pranacitra juga menusuk dada Rara Mendut. Keduanya mati bersamaan.

Kanjeng Sultan Agung ketika mendengar laporan peristiwa ini, menjadi sangat sedih dan prihatin. Beliau menitahkan agar keduanya dikubur dalam satu lobang di desa Gadhuhan.

Pada jaman sekarang jika dilihat dari banyaknya bunga dan sisa-sisa pembakaran menyan,  makam Gandhu ini masih sering dikunjungi para peziarah yang kebanyakan berasal dari luar Yogyakarta. Meskipun makam dibuka 24 jam bagi para peziarah, tetapi tidak diperbolehkan sampai ada yang menginap. Bahkan sebagian makam tersubut dihancurkan oleh warga setempat supaya tidak lagi dijadikan tempat untuk ritual maksiyat.

credit: fredfound.wordpress.com

|*referensi dari Jaya baya dan berbagai sumber.
[full-post]

Kasebut ing ramalan Jayabaya sing kaloka: Kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange, wong lanang ilang kaprawirane, wong wadon ilang wirange Ian wong Jawa ilang jawane. Pak Suryo Warsito ngandharake yen wong Jawa ilang jawane iku sabenere wis wiwit 371 taun kepungkur, yaiku nalika Sultan Agung ndhawuhake (dekrit ratu ?) owah-owahan taun Jawa sing asale manut petungan Syamsiah (taun Saka) diganti petungan Kamariah (taun Jawa) wiwit tanggal 8 Juli 1633 M utawa tanggal 17 Kasa 1555 Saka. Wiwit dina iku wong Jawa dipeksa ninggalake taun Jawa sing asli yaiku taun Saka, didadekake bareng karo taun Hijriyah. Tanggal 1 Sura dibarengake tanggal 1 Muharom, mung angka taune nerusake taun Saka. Mesthi wae saben taune umure luwih cendhak H dina, saengga nganti seprene wis kacek 11 taun karo taun Saka.
Nalika taun 1926, wis dianakake owah¬-owahan ing paugeran nulis aksara Jawa, diarani wewaton Sri Wedari: dianakake aksara rekan Ian taling tarung palsu. Owah-owahan iki bisa ditampa tanpa masalah dening wong Jawa. Rong taun sawise iku, tanggal 28 Oktober 1928, kanthi anane Sumpah Pemuda, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Wektu semana ana pilihan loro sing bisa dadi bahasa persatuan, yaiku: siji, basa Jawa merga akeh dhewe penuture Ian sijine basa mlayu sing wis ngembrah dienggo komunikasi wong sa Nuswantara. Kanthi kepilihe basa Melayu dadi basa Indonesia, rasane pancen pas banget. Kabeh basa Daerah ora ana sing rumangsa menang, kabeh rumangsa kalah. Kita ngrumangsani, pilihan mau pancen pas! Negara kita duwe basa persatuan sing ditampa kanthi aklamasi, tanpa protes. Yen negara Iiya kaya India upamane, basa nasional isih bermasalah, basa kita wis sukses megar tanpa alangan.
Wong Jawa sing kaloka gedhe toleransine, gelem ngalah. Jawa ora dadi basa nasional, ora papa. Mung wae nyatane tanggal 28 Oktober 1928 dadi pathokan (tonggak) sejarah wong Jawa ilang jawane sing kaping pindhone. Mung sajroning wektu kira-kira 76 taun, basa Jawa kocar-kacir, yen ora arep diarani ajur nganti meh-meh mati. Kanggo generasi penerus basa Jawa wis dudu basa Ibu. Mbaka sithik bocah-bocah wis padha ora bisa basa krama sing becik. Kalebu ing kutha Ngayogyakarta Ian Surakarta, akeh bocah yen ditakoni dening wong tuwa nganggo basa Jawa, anggone njawab milih nganggo basa Indonesia, jalaran ora bisa krama. Gandhengane wis cetha, tulisan Jawa saya ora dikenal, disingkur. Tulisan ]awa wis mati tenan! Wong Jawa wis ilang jawane tenan!.
Isih ana gandhengan sing ora kurang wigatine yaiku babagan budi pekerti. Ana unen-unen, bahasa menunjukkan bangsa. Yen sinau basa Jawa, wis mesthi budi pekerti kejawen uga melu disinau, awit ing wulangan basa Jawa uga katut diwulangake unggah ungguh Ian tata krama. Kanthi mengkono, wong sing basa Jawane isih ganep, saora-orane piwulang budi pekerti becik isih melu dingerteni. 
Mbaleni tulisan Jawa gagrag anyar, sabenere pertu apa ora? Penulis duwe panemu yen bab iki isih tetep perlu. Senajan tulisan Jawa minangka basa tulisan saiki wis mati, nanging kita wajib setiyar, wajib nindakake iradat. Jalaran kodrat saka Kang Maha Kuwasa lagi bisa kita weruhi yen kahanan wis kedadeyan. Kita durung ngerti apa sing bakal kelakon. Sapa ngerti ana olak-aliking jaman. Saora-orane tulisan Jawa gagrag anyar minangka usaha pelestarian sabisa bisane, sinambi ndedongi marang Pangeran muga-muga tulisan Jawa bisa ngrembaka maneh.
                                                                                                                               ngaturaken panuwun,

referensi;
-kalawarti Panjebar Semangat

Adhedhasar Babad Demak, Syekh Maulana Maghribi iku sawijine wong Arab kang mumpuni ilmu agama Islam. Asale saka tanah Pasai. Critane isih tedhak turune Kangjeng Nabi Muhammad SAW, lan klebu golongan wali ing tanah Jawa. Anggone angejawa mbarengi adege karaton Demak. Panjenengane mula kagungan ancas tujuwan ngislamake wong Jawa.
Sabedhahe kraton Majapait ganti kraton Demak kang disengkuyung dening para wali. Sawise tentrem negarane para wali andum gawe nyebarake agama Islam. Syekh Maulana kawitan ditugasi ana ing Blambangan. Ana kana dipundhut mantu dening sang adipati. Nanging durung nganti taunan nuli ditundhung, sebabe apa ora kecrita. Saoncate saka Blambangan banjur menyang Tuban, menyang panggonane kanca akrabe lan padha-padha saka Pasai, tunggale Sunan Bejagung karo Syekh Siti Jenar. Saka kono Syekh Maulana banjur lelana tabligh menyang Mancingan.
Nalika tabligh ana Mancingan iki Syekh Maulana sejatine wis peputra kakung asma Jaka Tarub (utawa Kidang Telangkas) saka garwa asma Rasa Wulan, ya rayine Sunan Kalijaga (R. Sahid). Wektu ditinggal ramane lunga Kidang Telangkas isih bayi.
Kawuningana nalika oncat saka Blambangan sejatine Syekh Maulana uga ninggal wetengan kang mbabar kakung, diparingi asma Jaka Samudra. Ing tembe Jaka Samudra jumeneng waliyullah ana Giri, ajejuluk Prabu Satmata utawa Sunan Giri. Nalika Syekh Maulana tekan Mancingan ing kana wis ana sawijine pendhita Budha kang limpad, asmane Kyai Selaening. Daleme ana sawetane Parangwedang. Dene papan pamujane kyai iki karo murid-muride ana candhi kang didegake ana sadhuwure gunung Sentana.
Sakawit Syekh Maulana ethok-ethok meguru karo Kyai Selaening. Ana bebrayan umum Syekh Maulana kadhangkala sok ngatonake pangeram-eram. Suwe-suwe Kyai Selaening midhanget bab iki. Syekh Maulana ditimbali lan dipundhuti priksa apa anane. Ya ing kono iku Syekh Maulana ngyakinake Kyai Selaening bab ilmu agama kang sanyata. Wong loro iku banjur bebantahan ilmu. Nanging Kyai Selaening ora keconggah nandhingi ilmune Syekh Maulana. Mulane panjenengane genti meguru marang Syekh Maulana. Panjenengane banjur ngrasuk agama Islam. Wektu iku ing padepokane Kyai Selaening wis ana putra loro playon saka Majapait kang ngayom ana kono, asmane Raden Dhandhun lan Raden Dhandher, karo-karone putrane Prabu Brawijaya V saka Majapait. Bareng Kyai Selaening mlebu Islam putra Majapait iku uga banjur dadi Islam, asmane diganti dadi Syekh Bela-Belu lan Kyai Gagang (Dami) Aking. Syekh Maulana ora enggal-enggal jengkar saka Mancingan nanging sawatara taun angasrama ana kana, mulang agama marang warga-warga desa. Daleme ana padepokan ing sadhuwure Gunung Sentana, cedhak karo candhi. Candhi iki baka sethithik diilangi sipate. Kyai Selaening isih tetep ana padhepokan sawetane Parangwedang nganti tekan ajale. Welinge marang anak putune, aja pisan-pisan kuburane dimulyakake. Makame iki lagi taun 1950-an dipugar karo sedulur saka Daengan. Banjur ing taun 1961 dipugar luwih apik maneh dening sawijine pengusaha saka kutha. Bareng wis dianggep cukup anggone syiar agama Syekh Maulana banjur jengkar saka Mancingan lan meling supaya tilas padhepokane iku diapik-apik kayadene nalika wong-wong padha mbecikake candi. Ya ing padhepokan iku wong-wong banjur yasa kijing. Sapa sing kepengin nyuwun berkahe Syekh Maulana cukup ana ngarep kijing iki, kayadene ngadhep karo panjenengane.
Syekh Maulana Maghribi utawa Syekh Maulana Malik Ibrahim sawise saka Mancingan nerusake tindake syiar agama ana ing Jawa Timur. Bareng seda jenazahe disarekake ana makam Gapura, wilayah Gresik. Syekh Maulana Maghribi nurunake ratu-ratu trah Mataram. 
Urutane silsilah: Bupati Tuban-Dewi Rasa Wulan (nggarwa Syekh Maulana)-Jaka Tarub (nggarwa Dewi Nawangwulan)-Nawangsih (nggarwa Radhen Bondhan Kejawan)-Kyai Ageng Getas Pendhawa-Kyai Ageng Sela-Kyai Ageng Anis/Henis-Kyai Ageng Pemanahan (Kyai Ageng Mataram)-Kanjeng Panembahan Senapati-Kanjeng Susuhunan Seda Krapyak-Kanjeng Sultan Agung Anyakrakusuma-Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat (Seda Tegalarum)-Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I-Kanjeng Susuhunan Mangkurat Jawi-ratu-ratu karaton Surakarta, Yogyakarta, Pakualaman, lan Mangkunegaran.
matur nuwun,

referensi; Suwarsono L-Jaya Baya

Wit kambil/klapa gadhing (jeneng latine: nudfera var. ebunea) umume wite cendhek antarane loro tekan telung meteran. Diarani klapa gadhing amarga wohe pancen wernane kuning kaya gadhing. Wohe kang nggrembel katon nengsemake, mulane yen ing kutha tanduran iki okeh-okehe kanggo pasren.
Klapa gading uga dianggo ngleluri upacara adat temanten lan tingkeban (mitoni). Yen ana wong pinuju duwe gawe mantu, klapa gadhing asring dipajang ana ing sangarepe gapura sing arep diliwati temanten kakung. Woh kuwi mau digandolke bareng karo sambung tuwuh liyane kayata gedhang, pari, lan tebu kang ditaleni ana ing kiwa tengene plengkungan janur kuning pinangka gapurane.
Dene yen dianggo tingkeban utawa mitoni yaiku rikala si calon ibu uwis mbobot/ngandheg pitung sasi lan bakal nglairake ponang jabang bayi kang tembean / sepisanan.  Sepasang cengkire gadhing kacawisake, siji digambari dewa Kamajaya (dewa sing bagus) lan sijine digambari Kamaratih (dewi kang ayu parase). Uga ana sing nggambari Arjuna lan sijine dewi Sembadra utawa dewi Srikandhi. Salah sijineng cengkir mau banjur dibacok dening si calon bapa. Menawa pas sigar tengah bayi kang bakal lair lanang/putra, menawa menceng ateges bayi kang bakal lair wadon/putri. Ya mangkono iku kapercayan ana ing kalangane masyarakat kejawen.
matur nuwun,

Ana sawatara versi crita bab sapa leluhure Pandawa lan Kurawa. Ana sing ngandharake yen iku Bharata, putrane Prabu Duswanta lan Dewi Sakhuntala. Mula, Pandawa lan Kurawa uga sinebut darah Bharata. Crita liya nyebutake yen kang nurunake iku Bambang Bremani, putrane Bathara Brama kang dhaup karo Dewi Srihunon, putrane Bathara Wisnu. Bremani banjur peputra Bambang Parikenan lan Parikenan peputra Manumayasa. Manumayasa iku satriya linuwih, kinasihan ing Bathara Guru. Nalika semana ngarcapada, nadyan wis akeh manungsane, kahanane durung tumata. Mula Bathara Guru ngersakake mranata kahananing para titah iku. Banjur miji para dewa. Sang Hyang Kanekaputra matur yen ngarcapada kudu ana kang mimpin. Nanging sapa?. Miturut Bathara Kanekaputra, ora ana liya maneh kejaba ya mung Manumayasa iku. Bathara Guru sarujuk, nanging isih sumelang. Yen mung Manumayasa dhewe kang ditugasi, apa bakal bisa ngleksanakake jejibahane kanthi becik?. Sawise rembugan sawatara suwene, Bathara Guru lan Kanekaputra sarujuk ngutus Sang Hyang Ismaya melu tumurun marang ngarcapada ngancani Manumayasa.
Yen ana pewayangan, Bathara Ismaya kuwi jenenge sing luwih populer Semar. Maune uga salah sawijining dewa kang dedunung ing kahyangan. Wiwit dina kuwi Ismaya kadhawuhan tumurun ing ngarcapada kanthi tugas ngemong Manumayasa nganti saanak-turune besuk, amarga anak-turune Manumayasa iku wis dipesthekake dening jawata bakal dadi pemimpine para manungsa, pemimpin kang kudu njejegake kautaman. Supaya anak-turune Manumayasa tansah bisa lumaku ing garis kautaman, Ismaya kudu tlaten ngemong. Kudu tansah ngelikake yen ana kang arep nalisir saka bebener. Sabanjure Semar mapan ing Karangdhempel (uga ana kang ngarani Klampis Ireng). Dene Manumayasa banjur yasa padhepokan ing Wukir Retawu. Semar kerep sowan menyang Retawu, prasasat meh saben dina. Sawise sawatara taun Manumayasa lan Ismaya manggon ana ngarcapada, Bathara Guru lan Bathara Narada bali ngrembug bab Manumayasa lan Ismaya. Pamanggihe Bathara Guru, Manumayasa kudu duwe sisihan supaya duwe keturunan kang besuk dadi pemimpine bangsa manungsa. Mula, wanita kang dadi sisihane Manumayasa iku aja mung sembarang wanita, ning kudu wanita sing duwe pribadi luhur, supaya bisa nurunake anak-anak kang uga becik pakartine. Bathara Guru lan Narada akhire sarujuk nurunake widadari kang duwe sipat ora mung darbe rupa sulistya, ning uga pribadi luhur lan pantes dadi sisihane Manumayasa lan Ismaya. Widadari kang diturunake yakuwi Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri. Nalika tumurun ing ngarcapada, kekarone memba rupa dadi macan. Nuju sawijining dina, Manumayasa didherekake Semar, mbebedhag sato ana ing alas. Dumadakan kepethuk macan loro kang lagi nggereng-nggereng sajak arep mangsa Manumayasa lan Semar. Manumayasa nuli ndudut jemparing loro pisan. Jemparing linepasake, ngenani macan sakloron, sanalika badhar dadi widadari. Dewi Kaniraras lan Dewi Kanastri banjur nyembah marang Manumayasa, lan matur yen kekarone kadhawuhan dening jawata tumurun ing ngarcapada. Gancaring carita, Dewi Kaniraras nuli kapundhut garwa dening Manumayasa. Dewi Kanastri dadi bojone Semar. Manumayasa apeputra loro, yakuwi Sekutrem lan Sriyati. Sekutrem nurunake para ratu Astina, kalebu Pandawa lan Kurawa. Sriyati nurunake para raja Mandaraka. Dene Semar, tetep dadi abdi kang setya. Semar duwe anak telu: Gareng, Petruk, lan Bagong kang uga banjur melu dadi abdine para anak-turune Manumayasa. Nanging uga ana kang kandha, yen sejatine Gareng, Petruk, lan Bagong kuwi dudu anake Semar, amarga dumadine saka dipuja.
matur nuwun,
referensi;
Waluya Djati-Jaya Baya

Nalika ana ing pembukaan World Stamp Championship Indonesia ing Jakarta Convention Center, 18 Juni 2012 kepungkur, Letjend Purnawirawan Soeyono ngendhikakake menawa Indonesia nduweni prangko kang paling larang sing pengajine nganti 20 milyar rupiah. Emane prangko iku uwis dadi darbeke warga negara asing yaiku Presiden Federation Internationale de Philatelie, Tay Peng Hian, ing Singgapur. Prangko kuwi ana 64 carik kanthi gambar Raja Kerajaan Belanda kang ana stempele saka kantor pos Ngawi, Jawa Timur wetonan tahun 1864. Soeyono uga ngendikakake menawa ana wong Indonesia kang uga nduweni prangko kasebut ananging amung secarik.
matur nuwun,

Tumrape wong Jawa, kedhayohan kuwi padha karo nampa rejeki. Mula yen ana tamu ora tau nglirwakake gupuh, lungguh lan suguh. Sapa wae yen kedhayohan mesthi gupuh olehe mbagekake tamune, ngaturi lenggah, terus gawe wedang kanggo suguhan. Merga anane pakurmatan mau mula wong sing maradhayoh kudu ngerti (tahu diri), dadiya tamu sing becik. Aja sakepenake dhewe, aja gawe gelane sing ditamoni, lan bisaa nyenengake sing duwe omah. Apa wae sing perlu digatekake yen maradhayoh?.
ANGON WAYAH, NGERTI WEKTU
Maradhayoh ora kena sakarepe dhewe, kudu ngerti wayah sing trep kanggo mertamu. Aja mertamu wayahe wong ngaso lan turu, kira-kira jam  loro nganti jam papat sore. Aja mertamu wancine wong mangan, embuh wancine sarapan, mangan awan, utawa mangan bengi. Senajan panjenengan dudu wong muslim, nanging yen maradhayoh wancine wong nindakake ibadah prayogane enggal pamitan mulih. Upamane wancine shalat magrib sing wektune mung sethithik, menawa krungu adzan magrib kudu enggal pamitan. Jroning sasi Ramadhan yen mertamu sore saperlune wae, awit wayah sore wancine wong repot nyiapake buka. Aja nganti krungu azan magrib lagi gupuh pamitan. Mertamu sacukupe wae aja kesuwen, mundhak sing ditamoni jeleh lan kesel nemoni. Rembugan aja nglantur!. Sing bisa momong pangrasane sing duwe omah. Yen sajake ora seneng dijak ngrembug sawenehing bab, becike aja diterusake. Yen ana perlu wigati aja kesuwen, enggal dikandhakake apa wigatine anggone mertamu. Mertamu aja kliwat saka sak jam. Kajaba yen wis lawas ora ketemu upamane tilas mitra raket nalika isih sekolah, kanca nyambutgawe ana kutha liya, lan sapanunggalane. Iku wae iya kudu ndeleng kahanane sing ditamoni, seneng apa ora ditekani. Prayogane nalika mertamu nganggo arloji, supaya ngerti wanci. Sebab durung mesthi saben ruang tamu ana jame. Kepriye yen sing duwe omah sing nggandholi? Upamane merga wis suwe ora ketemu, durung mari kangene, angger  arep pamitan mulih digandholi. Panjaluke sing duwe omah kena dituruti nanging saperlune. Yen dirasa keperluane wis cukup lan anggone mertamu wis rada suwe, prayogane tetep nyuwun pamit nanging janji yen arep dolan maneh ing liya wektu.
TRAPSILA
Senajan maradhayoh kuwi ora resmi nanging perlu migatekake tata susila. Klambi sing sopan, apa maneh yen merdhayoh menyang omahe wong sing luwih tuwa. Yen disuguhi aja kesusu diombe apa dipangan sadurunge dimanggakake sing duwe omah. Menawa suguhane wedang diwadhahi cangkir lan lepek, anggone njupuk salepeke, aja mung cangkire wae. Senajan wedange enak, nasthelgi, aja dientekake nganti gusis nanging dingengehake sethithik wae ing dhasare cangkir. Yen disuguhi jajan, panganan, anggone njupuk saperlune senajan jajane enak tur weteng lagi luwe. Kepriye yen dijak mangan? Ana kalane maradhayoh disuguhi mangan senajan ora wancine mangan. Mbokmenawa sing duwe omah lagi masak-masak enak apa lagi slametan ulang tahun anake. Suguhan mau aja ditampik, mundhak gawe gelane sing duwe omah. Yen suguhan mau wis diracik ing piring, kudu dientekake aja nyisa. Menawa dijak mangan ing ruang makan anggone imbuh ngenteni dimanggakake lan njupuk sacukupe wae. Rampung dhahar sendhok lan garpu dikurebake ing piring lan dhaharan ing piring kudu gusis kajaba balung lan eri. Aja watuk sajrone dhahar lan aja glegeken sawise rampung. Menawa kudu watuk utawa glegeken diempet dhisik nganti ninggalake ruang makan. 
AJA PADU
Yen ana wong maradhayoh sing perlune nagih utang, nagih janji, utawa marani barang sing disilih. Sok-sok sing duwe omah gawe anyel, upamane durung bisa nyaur utange, ora netepi janjine lan barang sing disilih rusak. Nanging senajan nesu dikaya ngapa becike diampah sabisane. Sebab kurang prayoga yen nesu lan muni-muni ing omahe liyan. Apa maneh yen keprungu tangga teparo nganti padha metu nonton. Sulayane janji bisa dirembug sing sareh amrih kekarone padha mareme. Senajan lagi nesu nanging yen mulih tetep pamitan sing apik.
matur nuwun,
referensi;
Jaya Baya
foto ilustrasi,  tyothebronew

  • Sa'durunge Abad 17
Akeh julukan kanggo Indonesia lan sing paling umum yaiku Nusantara (nusa=pulo, antara=seje/seberang). Tembung iku dianggo Majapahit kanggo sebutan wilayah telukane, sing nyakup saka bawana Asia nganti Australia. Sebutan mau tinulis jroning naskah-naskah Jawa Kuno ing abad ka-14.
Ngancik abad ka 17, pulo-pulo sing ngasilake rempah iki biasa disebut Ost Indische ( Hindia Wetan ).Ana uga sebutan Kepuloan Hindia ( Indian Arciphelago), Samodra Wetan ( The Eastern Seas), lan Insulinde( Pulo-Pulo Hindia ).
  • Taun 1850
George Samuel Windsor Earl, sawijining pelancong lan pengamat sosial saka Inggris ,  nggagas tembung Indonesia kanggo makili kelompok ras manungsa (polinesia) sing manggon  kepuloan Hindia (etnografis). Mitrane James R. Logan, sawijining etnolog, nduweni panemu tembung Indonesia luwih apik dilebokake ing istilah geografis amarga cekakan saka  Kepuloan Hindia, lan kanggo nyebut sing  manggon/penduduke, Logan usul Indonesian.
  • Walanda Milih Jeneng Hindia-Belanda
Alternatif jeneng Hindia-Belanda nate diangkat ing taun 1919. Volksraad diskusi  bab papat jeneng sing diusulake yaiku : Indonesie, Insulinde, Hindia Belanda, lan Oost-Indie. Jroning pemungutan swara tanggal 26 April 1919, jeneng Insulinde menang kanthi 16 swara. Nanging sawetara dina bacute, keputusan mau dimasalahake, minangka gantine Hindia dipilih tanpa ana udreg-udregan  kanthi alasan yen jeneng mau pancen wis dikenal  apik .
Ing wulan Oktober 1920, Komisi Negara kepengin ngowahi konstitusi  Hindia Belanda. Sawise disetujoni  pamarentah, pasal 1 nyebutake;” Kerajaan Belanda meliputi Belanda, Hindia Belanda, Suriname, dan Curacao….”Pasal iku didiskusekake jroning Volksraad ing Batavia tanggal 26 -29 April 1921.
Sadurunge iku, ing awal taun 1921, Dirk van Hinloopen Labberton, sawijining guru rumangsa trenyuh karo gerakan lan partai-partai kang muncul ing Jawa, nyiapake amandemen lan ngusulke jeneng Indonesia. Dheweke nyiapake karo Ch.Crammer lan Th. Vrede, saengga dikenal minangka  Labberton-Cramer-Vreede. Amandemen iki ditolak saengga ora dibahas jroning sidang Volksraad wulan April 1921. Sawetara wong ing  Volksraad ngremehke “ luwih pantes jeneng mau kanggo salah sijining cerutu “. Ing wiwitan, pemerintah wis negesake yen sebutan  Hindia –Belanda sacara esensial  wis duwe teges jroning hukum internasional.
Second Chamber saka parlemen ing Walanda nganakake diskusi  tanggal 1 November 1921, oleh inpirasi amandemen Labberton-Cramer-Vreede, W.van Ravestern wakil saka komunis, njelasake maneh sebutan Indonesia. Nasibe sami mawon, amandemene ditolak!.
  • Kanggo Identitas Politik
Para muda cerdik cendikia sing nempuh studi ing negara Walanda ngganti jeneng pakumpulane Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) sing madeg taun 1908 dadi Perhimpunan Indonesia (PI) taun 1925. Tembung Indonesia digunakake jumbuh  karo sawijining gegayuhan negara anyar lan identitas politik. Nalika konggres Demokratis Internasional kang manggon ing Bierville, cedhak Paris, Agustus 1925, kanggo sing wiwitan jeneng Indonesia dikenalke. Mohammad Hatta makili PI, jroning pidatone mratelakake perjuangan rakyat Indonesia nggayuh kamardikan nasional. Amarga nggunakake jeneng mau kanggo politik, pamarentah Walanda nglarang  tembung Indonesia ing Hindia Belanda, ananging ora ana sing bisa mbendung.
best regards,
referensi; karangkum saking seratanipun Bp. Mawaradi wonten ing blog Kembang Setaman.

Aksara Jawa mono, manut dongengane, mula bukane saka paraga kang asma Aji Saka, asale saka tanah Hindustan. Ananging isih akeh cerita2 liya bab mula-bukane aksara jawa iku. Sing genah, aksara cacah 20 kang kapantha lima-lima iku duwe kandhutan sawijining crita: Hanacaraka (ana utusan), Datasawala (padha padudon), Padhajayanya (padha digdayane), lan Magabathanga (pada dadi bathang/sampyuh).
Ing Primbon Bektijammal Adammakna, katlesih kandhutan werdining aksara Jawa mau mangkene: Hanacaraka (ana utusan, yaiku utusane Gusti Allah, wong lanang lan wong wadon), Datasawala (utusan mau padha padu, yaiku padha campuh saresmi), Padhajayanya (padha digdayane), lan Magabathanga (lanang wadon padha sampyuh).
Lire, donya iki dumadi saka wong lanang wadon kang mujudake utusane Gusti Allah. Lanang wadon mau padha padu tegese campuh saresmi netepi wajib anggone padha jejodhowan. Padha digdayane, ateges tandhing karosane. Sabubare saresmi biasane kaya wong kang sampyuh ing paprangan, ngglethak angler.
Othak-athik gathuk pancen gaweyane wong Jawa. Klebu werdine aksara Jawa kang rinonce kaya iki: Ha (H)urip, Na (nur), Ca (cahya), Ra (roh/rasa), Ka (kumpul), Da (dadi), Ta (tetes), Sa (sawiji), Wa (wadon), La (lanang), Pa (pati), Dha (dhadhal), Ja (jiwa raga), Ya (ya Allah), Nya (nyata), Ma (manungsa), Ga (gilir gumanti), Ba (bakal), Tha (thukul), Nga (ngalam donya).
Yen tembung-tembung ing dhuwur iku dironce, aksara Jawa cacah 20 iku nduweni teges: Urip (asal saka) nur cahya (lan) roh (kang) kumpul dadi tetes sawiji (nuwuhi) wadon (lan) lanang, (samangsa tumekeng) pati, (bakal) dhadhal jiwa ragane, ya Allah, nyata manungsa gilir gumanti bakal thukul (ing) ngalam donya.
JANGKA KAMARDIKAN
Ing jagad kejawen ana sawijining jangka utawa ramalan kang unine mangkene: Benjing menawi sampun wonten Pandita utawi Wiku Angesthi Sawiji, ing ngriku awit saking karsaning Sang Hyang Widi kendeling dahuru. Tanah Jawi wiwit tata tentrem. Jangka arupa candrasengkala iki tlesihane mangkene: Pandhita (7), Wiku (7), Mangesthi (8), Sawiji (1). Tibane taun Jawa 1877 utawa taun 1945 M. Jangka kasebut duwe karep, kahanan bakal tata tentrem sawise kita merdeka, yaiku taun 1945.
Sawise merdeka, pranyata perang isih makantar-kantar. Ing jaman sawise merdeka iku mula ana maneh tetembungan kang werdine sinengker. Mangkene: Galibedan tudang-tuding kados tiyang edan, metangi sakathahing tiyang. Lan uga tetembungan: Diwolak-walik gosong. Ukara sinengker iki candhakane taun 1881 Jawa (1949 M) yaiku taun penyerahan kedaulatan saka Belanda menyang RI. Angka taun 1881 iku nuduhake tembung tudang-tuding (angka 1 cacah loro) lan tembung diwolak-walik gosong (angkane 1881 diwolak-walik sami mawon). Saliyane iku, angka 1881 yen ditulis nganggo aksara Jawa mangkene: 1 (ga), 8 (pa/aksara gedhe). Banjur dadi tulisan ga-pa-pa-ga (gak, pa-pa, gak). Karepe, ing penyerahan kedaulatan taun 1949 iku Belanda wis gak, pa-pa, gak (ora ana apa-apane), pancene kudu ngono
manut jangka.
Nalika jamane R Ng. Ranggawarsita, tau panjenengane ditakoni dening CF Winter, sawijining bangsa Landa kang kasengsem marang sastra Jawa. Pitakone mangkene, “Kyai Pujangga, manut wawasan Kyai kang waskitha, kapan kira-kira surute panguwasane Belanda ing Tanah Jawa iki?” R. Ng. Ranggawarsita kanthi aris mangsuli, yen mengko wis ana “Ori awoh gaga lan Gusti Patih wuda”, iku titi mangsane Walanda oncat saka bumi Jawa. Mesthi wae CF Winter ora ngerti apa sing dikarepake. Apa ana pring ori kok awoh pari gaga lan Gusti Patih kok ora duwe isin. Sing dikarepake unen-unen mau, Ori dudu pring nanging jenenge Gubernur Jendral Belanda. Gaga dudu pari nanging aksara Jawa “ga” jejer loro, kang tegese angka 11 (sewelas), yaiku samangsa rajane Paku Buwana XI (1939-1945). Ya ing wanci kuwi Walanda bakal oncat saka Jawa. Dene sing dikarepake Gusti Patih wuda, yaiku patihe PB XI ingkang asma Jayanagara. Sing dikarepake wuda yaiku jenenge kang nglegena (Jayanagara), aksara Jawa yen ora disandhangi disebut nglegena (wuda).
PERANG DUNIA I LAN II
Kang pungkasan, yaiku sesambungane aksara Jawa klawan Perang Dunia I lan II. Perang Dunia I suwene limang taun, yaiku 1914-1918. Angka taun 1914 yen digunggung ketemu angka 15 (1+9+1+4). Angka 15 kagunggung maneh candhakane angka 6. Sabanjure angka taun 1915, 1916, 1917, lan 1918, yen digunggung kaya cara ing dhuwur iku bakal ketemu candhakan angka, 7, 8, 9, lan 10. Angka-angka candhakan 6, 7, 8, 9, 10, yen dilebokake ing wilangan aksara Jawa ketemu aksara Da, Ta, Sa, Wa, La (padha padu utawa perang). Pancen bener, taun 1914-1918 ana perang.
Semono uga tumrap mbledhose perang Dunia II kang uga 5 taun suwene, yaiku 1941-1945. Yen angka-angka taun 1941-1945 kita gunggung nganggo cara ing ndhuwur, uga bakal ketemu angka 6, 7, 8, 9, 10. Persis uga kepethuk maneh aksara Datasawala kang ateges ing taun-taun iku dumadi perang.
Apa besuk yen bledhos Perang Dunia III taune uga cocog maneh kaya ing dhuwur iku? Mung Gusti Allah sing pirsa.
matur nuwun,
 referensi;  Poerwanto Rs-Jaya Baya

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.