Cerita Tentang Rara Mendut Itu Sebuah Legenda Atau Kisah Nyata?

Legenda Rara Mendut - Pranacitra sampai sekarang masih menjadi salah satu cerita Kethoprak (seni drama tradisional Jawa) yang mempesona. Menjadi pertanyaan banyak orang, cerita yang mirip kisah Romeo dan Juliet itu memang sungguh-sungguh terjadi atau hanya khayalan para pujangga kerajaan Mataram di jaman Sultan Agung Hanyokrokusuma?

Sebagian mengatakan itu hanyalah dongeng sanepan (ada makna lain yang terselubung). Kejadianya sendiri nyata, tetapi para pelakunya dirahasiakan/disamarkan, karena Rara Mendut dan Pranacitra itu masih kerabat raja.  Bapak Iman Sobro (alm), jurukunci makam Rara Mendut di desa Gandhu, Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Prop. Yogyakarta, semasa beliau masih hidup juga pernah mengatakan, tidak percaya jika Rara Mendut itu hanyalah seorang pidak pedarakan (wong cilik/rakyat jelata). Mestilah masih keturunan trah di kalangan kerajaan.

Ada lagi yang berpendapat apabila Rara Mendut memang benar ada dan menjadi salah seorang selir Tumenggung Wiraguna (Tumenggung adalah pangkat tertinggi di kalangan prajurit militer jaman kerajaan, setara dengan pangkat jendral di jaman sekarang). Kemudian yang namanya Pranacitra itu hanyalah nama samaran. Sesungguhnya 'kekasih gelap' Rara Mendut tersebut adalah seorang putra mahkota yang dikemudian hari menjadi Amangkurat Agung (atau disebut pula Amangkurat Seda Tegalarum, karena meninggal di desa Tegal Arum. Seda artinya mati/meninggal). Dan yang dikubur bersamaan dengan Rara Mendut itu adalah salah seorang abdi putra mahkota tersebut.
[next]
Ada babad (legenda) diceritakan saat putra mahkota mengambil istri selirnya Wiraguna, seluruh abdi putra mahkota tersebut dihukum mati (termasuk Rara Mendut ?). Sedangkan putra mahkota tersebut dibuang di hutan Lipura. Untuk menutup rasa malu yang menimpa Kanjeng Sultan Agung, jenasah Rara Mendut dikubur bersamaan dengan seorang abdi putra mahkota tersebut.

Yang membuat bingung para ahli sejarah, mengapa makam Rara Mendut itu ada di 3 tempat? (Bahkan lebih karena di daerah Gresik pun ada makam yang dianggap sebagai makam Rara Mendut). Satu makam di desa Gandhu, satu makam ada di desa Kajor Wetan, Kelurahan Selapamiara, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul dan ada satu makam lagi di desa Blambangan, Kelurahan Jagatirta, Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman. Ketiga tempat tersebut masih di wilayah Yogyakarta. Lebih aneh lagi, sebelum diterbitkan larangan di tahun 1965, para peziarah yang ingin terwujud keinginannya, harus melakukan hubungan intim (ritual sex) dengan peziarah lain yang bukan muhrimnya. Kepercayaan tak lazim dan menyimpang seperti ini hanya terdapat di makam Gandhu.

Dari ketiga makam tersebut memiliki kesamaan cerita turun-temurun. Yaitu, setelah Kerajaan Pati di pesisir utara pulau Jawa dikalahkan kerajaan Mataram (tahun 1627), Tumenggung Wiraguna mendapat hadiah putri boyongan yang cantik parasnya dan bernama Rara Mendut, sebagai penghargaan atas jasa-jasanya menaklukkan Pati. Jendral Wiraguna sendiri sudah berusia lanjut, tetapi tetap menjadi pimpinan prajurit yang sangat disegani. Untuk mengisi waktu-waktu luang, istri selir sang jendral yang bernama Rara Mendut tersebut, diberi kebebasan berjualan rokok yang dikenal sebagai rokok ndika (rokok sampeyan/ rokok anda). Kebetulan juga ada perjaka ganteng bernama Pranacitra yang suka keluyuran tanpa tujuan, ketika beranjangsana di rumah katumenggungan, melihat Rara Mendut yang sangat cantik dan seketika itu pula merasa jatuh cinta. Bagaikan gayung bersambut, Rara Mendut yang masih belia tersebut, juga menanggapi cinta Pranacitra. Keduanya memadu kasih secara rahasia.
[next]
credit: warisdjati.blogspot.com
Pada suatu hari, keduanya bertekad untuk pergi dan melarikan diri dari ndalem (rumah) katumenggungan. Mereka melarikan diri ke arah selatan  dan ketika hendak menyeberang sungai Oya di desa Dogongan, mampu dikejar oleh prajurit-prajurit Wiraguna. Keduanya ditangkap dan dibawa menghadap Tumenggung Wiraguna. Betapa murkanya sang jendral yang sudah kenyang pengalaman di berbagai peperangan tersebut. Meskipun Pranacitra sudah meminta maaf dan bersimpuh di kaki sang jendral, tetap tidak mampu meredakan amarah Tumenggung Wiraguna. Pranacitra disuruh pergi. Baru beranjak beberapa langkah, Wiraguna yang teringat harga dirinya yang telah direndahkan, seketika menjadi kalap dan Pranacitra ditusuk dengan sebilah keris dari belakang tembus ke dada. Rara mendut yang menyaksikan kejadian tersebut kaget dan spontan berlari memeluk 'kekasihnya' itu. Tak hayal lagi, keris yang tembus di dada Pranacitra juga menusuk dada Rara Mendut. Keduanya mati bersamaan.

Kanjeng Sultan Agung ketika mendengar laporan peristiwa ini, menjadi sangat sedih dan prihatin. Beliau menitahkan agar keduanya dikubur dalam satu lobang di desa Gadhuhan.

Pada jaman sekarang jika dilihat dari banyaknya bunga dan sisa-sisa pembakaran menyan,  makam Gandhu ini masih sering dikunjungi para peziarah yang kebanyakan berasal dari luar Yogyakarta. Meskipun makam dibuka 24 jam bagi para peziarah, tetapi tidak diperbolehkan sampai ada yang menginap. Bahkan sebagian makam tersubut dihancurkan oleh warga setempat supaya tidak lagi dijadikan tempat untuk ritual maksiyat.

credit: fredfound.wordpress.com

|*referensi dari Jaya baya dan berbagai sumber.
[full-post]

Kisah asmara Rara Mendut dan Pranacitra yang berakhir tragis.

Labels:
[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.