Kita Terlalu Sering Menganggap Hidup Sebagai Ujian
Ada orang yang sedang duduk minum kopi, tetapi pikirannya sudah pergi ke mana-mana. Besok bagaimana? Pekerjaan bagaimana? Uang cukup atau tidak? Kalau rencana ini gagal bagaimana? Kalau orang lain tidak menyukai kita bagaimana? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?
Pertanyaan-pertanyaan itu datang satu per satu, lalu berkembang biak seperti semut menemukan gula.
Sementara itu, kopi di atas meja sudah lama kehilangan asapnya.
Barangkali kita memang sering seperti itu. Tubuh kita sedang duduk di sebuah warung, tetapi pikiran sedang berada di kantor, di hari esok, di masa lalu, bahkan di berbagai kemungkinan yang belum tentu akan terjadi.
Kita hadir di satu tempat, tetapi kepala kita sibuk menjalani sepuluh kehidupan sekaligus di tempat lain.
Akhirnya, sesuatu yang sederhana pun sulit dinikmati. Makan sambil memikirkan pekerjaan. Berjalan sambil memikirkan tagihan. Berbaring sambil memikirkan hari esok. Bahkan ketika sedang berlibur, sebagian pikiran masih sibuk memeriksa apa yang belum selesai.
Seolah-olah hidup adalah sebuah ujian besar yang setiap soalnya harus dijawab dengan benar.
Kita merasa harus selalu tahu apa yang akan terjadi, harus selalu punya rencana, harus selalu mengambil keputusan yang tepat. Sedikit saja melenceng dari rencana, kita mulai panik. Seolah-olah hidup akan memberikan nilai merah hanya karena satu jawaban kita keliru.
Padahal hidup bukan lembar ujian yang sudah menyediakan kunci jawaban di halaman belakang.
Ada banyak hal yang memang perlu kita usahakan. Tetapi ada pula begitu banyak hal yang berada di luar kendali kita: cuaca, pendapat orang, kemacetan, perubahan rencana, bahkan sebagian besar kejadian yang akan datang.
Lalu mengapa kita begitu serius memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi?
Mungkin karena kita lupa satu hal sederhana: tidak semua hal dalam hidup harus diselesaikan hari ini, dan tidak semua hal harus berjalan sesuai keinginan kita agar hari ini tetap menjadi hari yang baik.
Sesekali, mungkin kita hanya perlu kembali kepada kopi yang ada di depan mata.
Sebelum benar-benar dingin.
Kita Ingin Semua Hal Berjalan Sesuai Rencana
Ada sesuatu yang lucu dalam diri manusia: kita suka membuat jadwal untuk hidup yang bahkan belum terjadi. Pada umur tertentu kita merasa harus sudah memiliki pekerjaan yang mapan. Setelah itu mungkin rumah. Kemudian keluarga. Lalu tabungan. Lalu pencapaian berikutnya. Seolah-olah kehidupan mempunyai daftar periksa yang harus dicentang satu per satu agar kita bisa dianggap berhasil.
Kita membuat rencana bukan hanya untuk hari Senin atau liburan akhir pekan, tetapi juga untuk lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan.
Masalahnya, hidup tidak pernah ikut rapat ketika rencana itu dibuat.
Kita sudah menentukan kapan berangkat, lalu hujan turun tepat ketika kita keluar rumah.
Kita sudah menghitung waktu perjalanan dengan cermat, lalu jalanan macet entah karena apa.
Kita sudah memikirkan sesuatu berulang-ulang sebelum mengatakannya kepada seseorang, tetapi orang itu justru menanggapinya dengan cara yang sama sekali tidak kita duga.
Yang lebih merepotkan lagi, kadang-kadang kita sendiri berubah pikiran.
Dulu ingin tinggal di kota, sekarang ingin pulang kampung. Dulu mengejar pekerjaan tertentu, kemudian sadar bahwa pekerjaan itu ternyata tidak seperti yang dibayangkan. Dulu mengira hidup akan berjalan ke arah tertentu, lalu beberapa tahun kemudian mendapati diri sedang berada di jalan yang sama sekali berbeda.
Tidak selalu ada patut dipersalahkan.
Memang begitulah hidup.
Kita sering kecewa bukan semata-mata karena sesuatu berjalan buruk, tetapi karena sesuatu berjalan berbeda dari yang kita bayangkan sebelumnya.
Ini bagian yang menarik dari pemikiran Stoik. Kita boleh membuat rencana, bekerja keras, berhati-hati, dan mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin. Tetapi ada batas yang tidak bisa kita lewati: kita tidak memiliki kendali penuh atas apa yang kemudian akan terjadi.
Kita bisa memilih kapan berangkat, tetapi tidak bisa mengatur hujan.
Kita bisa berkendara dengan hati-hati, tetapi tidak bisa mengatur perilaku semua pengendara di jalan.
Kita bisa berbicara dengan niat baik, tetapi tidak bisa menentukan bagaimana orang lain memahami ucapan kita.
Dan kita bisa membuat rencana dengan sangat rapi, tetapi kehidupan tetap mempunyai hak untuk menambahkan satu-dua baris yang tidak kita minta.
Karena itu, mungkin yang perlu dilatih bukan kemampuan membuat rencana yang semakin sempurna, melainkan kemampuan tetap waras ketika rencana itu tidak berjalan seperti yang kita harapkan.
Sebab ada perbedaan antara kejadian yang berantakan dan diri kita yang ikut berantakan.
Hujan turun—itu satu persoalan.
Lalu kita marah-marah sepanjang hari karena hujan turun—itu persoalan yang lain.
Kereta terlambat—satu hal.
Kemudian kita membuat seluruh pagi terasa menyebalkan karena kereta terlambat—itu hal lain lagi.
Di sinilah prinsip Stoik menjadi masuk akal dalam kehidupan sehari-hari: kita tidak selalu bisa menentukan apa yang akan terjadi, tetapi kita masih mempunyai ruang untuk menentukan bagaimana kita menghadapinya.
Bukan berarti kita harus selalu tenang seperti patung.
Kesal tetap boleh.
Kecewa tetap manusiawi.
Mengeluh sebentar juga tidak akan membuat filsafat runtuh.
Tetapi setelah itu, kita bisa bertanya sederhana:
"Sekarang, apa yang masih bisa kulakukan?"
Pertanyaan itu mungkin tidak mengubah keadaan.
Hujan tetap turun. Jalan tetap macet. Rencana tetap gagal.
Tetapi setidaknya, kita tidak menambahkan kekacauan baru ke dalam sesuatu yang memang sudah kacau.
Mungkin hidup tidak membutuhkan kita untuk selalu punya rencana yang sempurna.
Mungkin kita hanya perlu punya cukup kelenturan untuk mengubah rencana, ketika kehidupan tiba-tiba berkata,
"Ah! Bukan hari ini."
Dan kalau sesuatu memang berantakan, barangkali kita tidak perlu ikut berantakan.
Tidak Semua Masalah Membutuhkan Wajah yang Tegang
Ada kebiasaan aneh yang sering kita lakukan ketika menghadapi masalah: kita mengerutkan dahi. Entah mengapa, kita seperti percaya bahwa semakin tegang wajah kita, semakin serius pula kita sedang menyelesaikan persoalan. Dahi berkerut, napas berat, mondar-mandir, lalu menghela napas panjang. Seolah-olah masalah akan merasa takut melihat kesungguhan kita.
Padahal masalah biasanya tidak peduli.
Motor mogok di tengah jalan, misalnya. Kita boleh mengomel dari kilometer pertama sampai kilometer terakhir, tetapi mesin tetap tidak akan menyala karena mendengar keluhan kita.
Ketinggalan bus juga begitu. Kita boleh mengejar sambil marah-marah, tetapi bus yang sudah pergi tidak akan tiba-tiba berpikir, "Kasihan juga orang itu, sebaiknya saya putar balik ah."
Salah mengirim pesan pun sama. Panik tidak akan membuat jempol kita memutar waktu beberapa detik ke belakang. Yang bisa dilakukan hanyalah mengakui kesalahan, meminta maaf jika perlu, lalu belajar lebih teliti lain kali.
Begitu juga ketika hujan turun saat kita sedang ingin bepergian. Langit tidak akan berubah pikiran hanya karena kita berdiri di teras sambil menggerutu.
Tentu saja, bukan berarti semua masalah boleh ditertawakan atau dibiarkan. Ada masalah yang memang harus diselesaikan dengan sungguh-sungguh. Motor yang mogok perlu diperbaiki. Pesan yang salah perlu dibereskan. Urusan yang penting tetap membutuhkan tanggung jawab.
Tetapi serius menyelesaikan masalah tidak sama dengan harus tegang sepanjang waktu.
Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar, menarik napas, lalu bertanya dengan kepala yang lebih dingin: "Baiklah, sekarang apa yang bisa kulakukan?"
Pertanyaan sederhana itu jauh lebih berguna daripada sepuluh menit mengomel.
Barangkali inilah salah satu bentuk kedewasaan yang sering kita lewatkan. Kita tidak selalu bisa memilih masalah apa yang datang kepada kita, tetapi kita masih bisa memilih wajah seperti apa yang kita bawa ketika menghadapinya.
Sebab ada masalah yang memang perlu tenaga.
Tetapi hampir tidak ada masalah yang menjadi lebih ringan hanya karena kita mengerutkan dahi.
Belajar Menertawakan Diri Sendiri
Ada satu jenis humor yang paling sehat: ketika kita bisa menertawakan diri sendiri. Bukan karena kita menganggap diri kita bodoh. Bukan pula karena kita tidak menghargai kesalahan. Justru sebaliknya, kemampuan menertawakan diri sendiri menunjukkan bahwa kita cukup lapang untuk mengakui bahwa kita memang tidak selalu benar, tidak selalu pintar, dan kadang-kadang bisa sangat konyol.
Kita pernah salah jalan, padahal merasa sudah hafal jalannya.
Pernah salah mengira seseorang, lalu dengan penuh keyakinan menyapanya dari jauh—dan baru sadar setelah orang itu menatap kita dengan wajah bingung.
Pernah terlalu percaya diri mengatakan, "Ah, gampang!" lalu beberapa jam kemudian duduk bengong di depan persoalan yang ternyata jauh lebih rumit daripada dugaan.
Kita juga pernah membuat rencana dengan begitu meyakinkan, lengkap dengan tanggal, jadwal, dan target, lalu hidup mengacak-acak semuanya hanya dalam beberapa hari.
Belum lagi kekhawatiran yang pernah kita pelihara berhari-hari. Kita membayangkan berbagai kemungkinan buruk, sulit tidur, membuat skenario A sampai Z. Ternyata setelah semuanya berlalu, tidak satu pun dari kekhawatiran itu terjadi.
Kalau semua itu kita anggap sebagai tragedi, hidup akan terasa melelahkan.
Tetapi kalau sesekali kita bisa menepuk dahi sambil tertawa dan berkata, "Ternyata aku bisa sekonyol itu," sesuatu terasa lebih ringan.
Menertawakan diri sendiri bukan berarti tidak serius terhadap hidup. Justru mungkin itu tanda bahwa kita mulai memahami hidup dengan lebih dewasa. Kita tahu kapan harus memperbaiki kesalahan, dan kapan cukup menjadikannya bahan cerita.
Sebab hidup sudah penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Tidak perlu ditambah dengan kebiasaan menghukum diri sendiri untuk setiap kekeliruan kecil.
Bukankah lucu kalau bertahun-tahun kemudian kita masih merasa malu hanya karena pernah salah jalan, salah kirim pesan, atau terlalu percaya diri memasak sesuatu yang akhirnya tidak bisa dimakan?
Sebagian kesalahan memang harus diperbaiki.
Tetapi sebagian lainnya cukup disimpan sebagai cerita untuk ditertawakan bersama teman.
Tidak semua kesalahan harus menjadi tragedi. Sebagian cukup menjadi cerita lucu untuk diceritakan nanti.
Mungkin karena itulah orang yang bisa menertawakan dirinya sendiri tampak memiliki ruang batin yang lebih luas. Ia tidak harus selalu terlihat sempurna. Ia bisa salah tanpa merasa harga dirinya runtuh.
Dan ketika seseorang tidak lagi sibuk mempertahankan kesempurnaan dirinya, ia punya lebih banyak waktu untuk menikmati hidup.
Hidup Bukan Perlombaan untuk Selalu Terlihat Berhasil
Ada masa ketika kita cukup tahu bahwa hidup kita baik-baik saja. Kita tidak terlalu sibuk membandingkannya dengan kehidupan orang lain. Tidak ada kebutuhan untuk membuktikan bahwa hari-hari kita berjalan lebih baik daripada hari-hari orang lain.
Kemudian datang media sosial.
Di sana, kehidupan orang lain tersaji seperti album keberhasilan. Rumah baru. Mobil baru. Pekerjaan baru. Perjalanan ke tempat yang indah. Makan di restoran yang bagus. Anak yang berprestasi. Proyek yang berhasil. Penghargaan yang diterima.
Kita melihat semuanya dalam potongan-potongan terbaik.
Masalahnya, kita melihat kehidupan orang lain dari jarak yang cukup jauh, sementara melihat kehidupan sendiri dari jarak yang sangat dekat.
Kita tahu isi dompet sendiri. Kita tahu tagihan yang belum dibayar. Kita tahu cucian yang menumpuk. Kita tahu tubuh yang sedang lelah, pekerjaan yang belum selesai, kekhawatiran yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Maka perbandingan itu sejak awal memang tidak adil.
Kita membandingkan kehidupan sehari-hari kita dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain.
Padahal hidup yang baik tidak selalu menghasilkan sesuatu yang layak dipamerkan.
Ada hari ketika pencapaian terbesar hanyalah bangun pagi tanpa tergesa-gesa. Sarapan dengan tenang. Menyelesaikan pekerjaan secukupnya. Makan sesuatu yang enak. Bercanda dengan orang di rumah. Berjalan sebentar sore hari. Kemudian pulang dalam keadaan sehat.
Tidak ada foto yang perlu diunggah.
Tidak ada ucapan selamat.
Tidak ada angka yang bertambah.
Tetapi mungkin justru di situlah letak kebahagiaan yang sering kita lewatkan.
Kita terlalu lama mengira bahwa hidup yang berhasil adalah hidup yang terlihat berhasil. Seolah-olah setiap tahun harus membawa pencapaian baru, setiap bulan harus menghasilkan kemajuan, dan setiap hari harus mempunyai sesuatu untuk dibanggakan.
Padahal pohon tidak tumbuh dengan memperlihatkan pertumbuhannya setiap hari.
Ia hanya tumbuh.
Pelan-pelan.
Diam-diam.
Dan suatu hari, kita baru menyadari bahwa ia sudah cukup besar untuk memberikan teduh.
Begitu pula hidup. Tidak semua pertumbuhan harus terlihat. Tidak semua keberhasilan harus diumumkan. Tidak semua hari harus menjadi cerita yang menarik.
Ada hari-hari biasa yang justru sedang menjaga kita tetap utuh.
Maka mungkin kita perlu berhenti sebentar dari perlombaan untuk terlihat berhasil.
Sebab hidup bukan panggung yang menuntut kita selalu tampil mengesankan.
Kadang hidup yang baik hanya sesederhana ini:
Bangun pagi.
Makan enak.
Bercanda.
Berjalan sebentar.
Pulang dalam keadaan sehat.
Sudah.
Dan ternyata, sudah pun bisa menjadi sesuatu yang sangat layak disyukuri.
Serius pada Hal yang Penting, Santai pada Hal yang Tidak Penting
Mungkin inti dari semuanya bukanlah menjadi orang yang tidak peduli. Bukan pula belajar menjadi cuek terhadap kehidupan.
Justru sebaliknya.
Kita perlu tahu apa yang layak dipedulikan dan apa yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
Seriuslah pada hal-hal yang memang penting.
Serius menjaga keluarga.
Serius menjaga kejujuran.
Serius menjalankan tanggung jawab.
Serius menjaga kesehatan.
Serius menjadi manusia yang tidak menyakiti orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri.
Tetapi setelah itu, belajarlah untuk sedikit santai terhadap hal-hal yang tidak terlalu penting.
Tidak semua komentar orang harus kita jawab.
Tidak semua kesalahan kecil harus kita sesali berhari-hari.
Tidak semua rencana yang berubah berarti kehidupan sedang berjalan salah.
Dan kita tidak harus selalu terlihat sempurna.
Kadang kita terlalu banyak menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang sebenarnya tidak akan berarti apa-apa beberapa tahun lagi.
Seseorang salah memahami ucapan kita.
Kita salah mengirim pesan.
Rencana makan malam berubah.
Pekerjaan kecil tidak selesai sesuai jadwal.
Ada orang yang tidak menyukai kita.
Hal-hal seperti itu memang bisa mengganggu. Tetapi apakah semuanya layak mengambil ketenangan kita?
Tidak.
Ada sesuatu yang menarik dalam cara orang bijak menjalani hidup: mereka tidak memperlakukan semua persoalan dengan ukuran yang sama.
Bagi mereka, ada hal yang harus dipegang erat, dan ada hal yang cukup dibiarkan lewat.
Bayangkan kita sedang membawa beberapa barang dalam perjalanan.
Ada barang yang memang penting sehingga kita menjaganya baik-baik. Tetapi ada pula bungkus makanan, kertas kecil, atau benda-benda sepele yang tidak perlu terus digenggam sepanjang perjalanan.
Begitu juga dengan hidup.
Kita sering kelelahan bukan karena beban kita terlalu berat, tetapi karena terlalu banyak hal yang kita genggam terlalu erat.
Kita menggenggam pendapat orang.
Menggenggam kesalahan masa lalu.
Menggenggam keinginan untuk selalu benar.
Menggenggam kebutuhan untuk disukai.
Menggenggam bayangan tentang bagaimana seharusnya hidup berjalan.
Padahal sebagian dari semua itu sebenarnya bisa dilepaskan.
Bukan karena tidak peduli.
Tetapi karena kita sadar bahwa perhatian kita terbatas.
Kita hanya punya begitu banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Kalau semuanya dianggap penting, akhirnya tidak ada lagi yang benar-benar penting.
Maka mungkin kita membutuhkan prinsip yang sederhana:
Pegang erat untuk sesuatu hal yang penting. Longgarkan genggaman untuk hal-hal yang tidak penting.
Serius pada nilai hidup.
Santai pada gangguan kecil.
Sungguh-sungguh pada tanggung jawab.
Ringan hati pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.
Dengan begitu, hidup tidak menjadi dingin atau tanpa arah. Justru menjadi lebih jernih.
Kita tahu kapan harus berdiri tegak dan kapan boleh tersenyum.
Kita tahu kapan harus memperjuangkan sesuatu dan kapan cukup berkata, "Ya sudahlah."
Dan mungkin kedewasaan memang bukan tentang menjadi serius sepanjang waktu.
Kedewasaan adalah kemampuan untuk menempatkan keseriusan pada tempatnya.
Sebab tidak semua hal membutuhkan hati yang tegang.
Sebagian cukup membutuhkan kita untuk menarik napas, tersenyum sedikit, lalu melanjutkan perjalanan.
Sesekali Biarkan Hidup Berjalan Apa Adanya
Mungkin ada baiknya, sesekali kita berhenti mengejar sesuatu. Bukan berhenti berusaha. Bukan menyerah pada keadaan. Hanya berhenti sebentar dari kebiasaan merasa bahwa hidup harus selalu menuju ke suatu tempat.
Bayangkan seseorang duduk di teras pada sore hari.
Tidak sedang mengejar pencapaian apa pun.
Di depannya ada secangkir teh yang masih hangat. Dari halaman terdengar suara burung. Angin bergerak pelan melewati daun-daun. Dari rumah sebelah terdengar seseorang tertawa.
Tidak ada kabar besar.
Tidak ada pencapaian yang perlu dirayakan.
Tidak ada sesuatu yang harus dibuktikan.
Hanya sore yang berjalan seperti biasa.
Dan anehnya, untuk beberapa menit, hidup terasa baik-baik saja.
Mungkin kita terlalu sering mengira bahwa kebahagiaan harus datang bersama sesuatu yang besar. Padahal ada ketenangan yang datang justru ketika kita berhenti menuntut apa pun dari sebuah sore.
Kita duduk.
Kita minum.
Kita mendengar.
Kita bernapas.
Lalu waktu berjalan begitu saja.
Barangkali inilah salah satu hal yang perlahan kita pahami ketika bertambah dewasa: tidak setiap hari harus menjadi hari yang istimewa.
Ada hari untuk bekerja keras.
Ada hari untuk memperbaiki sesuatu.
Ada hari untuk mengambil keputusan penting.
Tetapi ada pula hari ketika kita hanya perlu membiarkan hidup berjalan apa adanya.
Mungkin menjadi dewasa bukan berarti harus selalu serius.
Mungkin menjadi dewasa justru berarti tahu kapan harus serius dan kapan boleh berkata,
"Sudahlah, besok saja dipikirkan."
Bukan karena kita tidak peduli.
Hanya karena kita sadar bahwa hidup akan tetap berjalan meskipun malam ini kita berhenti memikirkannya.
Besok masih ada.
Masalah mungkin masih ada.
Pekerjaan juga masih ada.
Tetapi sore ini, teh masih hangat.
Angin masih berembus.
Dan ada tawa dari rumah sebelah.
Mungkin itu sudah cukup.
Sebab hidup sudah cukup rumit.
Kita tidak perlu ikut membuatnya semakin rumit.