Hari itu angin berembus kencang. “Asyik! Musim pancaroba sudah tiba. Pasti layang-layang kita bisa terbang tinggi nanti!” seru Bagas dengan semangat. Doni mengangguk setuju sambil membuka telapak tangannya dan menunjukkan beberapa keping uang koin untuk membeli layang-layang. Mereka berdua bergegas menuju warung Pak Slamet, yang juga menjadi Ketua RT di kampung itu.
Sesampainya di warung, Pak Slamet tersenyum ramah sambil menunjukkan layang-layang warna-warni yang bergantung di langit-langit warung. “Kalian mau yang mana? Yang warna merah dan kuning ini bagus, lho,” tawar Pak Slamet.
Doni dan Bagas mengamati aneka warna layang-layang beserta benangnya. Keduanya asyik memilih layang-layang yang paling mereka sukai. “Nanti main layang-layangnya di tanah lapang belakang kantor kelurahan saja, ya,” pesan Pak Slamet.
Namun, kedua bocah SD itu terlalu asyik memilih layang-layang sehingga kurang memperhatikan pesan Pak Slamet.
Setelah mendapatkan layang-layang merah yang sesuai dengan selera mereka, Bagas dan Doni segera bergegas. “Ayo, kita main di pinggir jalan sebelah sana! Tempatnya luas!” ajak Bagas.
Tanpa berpikir panjang, mereka berlari ke pinggir jalan aspal. Layang-layang mereka belum naik terlalu tinggi. Bagas dan Doni masih kesulitan menerbangkannya. Berkali-kali benang layang-layang melintang di jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat.
“Waduh, adik-adik! Hati-hati!” tegur Mas Adit, seorang pengendara motor yang kebetulan melintas. Tiba-tiba benang layang-layang hampir mengenai lehernya. Untung Mas Adit tangkas. Ia segera mengerem sepeda motornya.
“Kalau kalian bermain layang-layang di pinggir jalan, benangnya bisa melintang dan membahayakan pengendara. Kalau tiba-tiba ada motor atau mobil lewat, benang itu bisa melilit atau membuat pengendara jatuh. Itu sangat berbahaya!” jelas Mas Adit.
Bagas dan Doni mengangguk pelan. Mereka merasa bersalah. Kini mereka sadar bahwa keseruan bermain tidak boleh sampai mengganggu keselamatan orang lain.
“Ayo, Mas Adit antar kalian ke lapangan desa. Di sana kalian bisa bermain layang-layang dengan aman tanpa mengganggu orang yang berlalu-lalang di jalan,” ajak Mas Adit.
Mereka bertiga kemudian menuju lapangan yang berada di belakang balai desa. Jaraknya tidak terlalu jauh.
Sesampainya di sana, ternyata sudah banyak anak-anak lain yang bermain layang-layang. Ada yang layang-layangnya sudah terbang tinggi, ada pula yang masih berusaha menerbangkannya.
“Wah, ini tempat yang pas banget!” seru Doni kegirangan.
Bagas dan Doni pun semakin bersemangat. Sayangnya, kedua bocah itu masih pemula dalam bermain layang-layang. Berkali-kali layangan mereka gagal terbang dan akhirnya terhempas ke rerumputan.
Untunglah Mas Adit bersedia membantu. Dengan sabar, ia mengajari Bagas dan Doni cara menerbangkan layang-layang.
“Pegang benangnya dengan baik. Saat angin bertiup, lepaskan layang-layang sedikit demi sedikit. Nah, sekarang coba!” kata Mas Adit.
Bagas mengikuti petunjuk Mas Adit. Perlahan-lahan layang-layang merah itu mulai terangkat. Semakin tinggi, semakin panjang benang yang terulur.
“Wah, terbang! Terbang!” teriak Doni kegirangan.
Layang-layang merah itu akhirnya melayang tinggi di langit biru yang cerah. Bagas dan Doni tertawa riang menikmati angin Agustus yang bertiup kencang.
Setelah memastikan mereka sudah bisa bermain dengan aman, Mas Adit pun bergegas melanjutkan urusannya. Sebelum pergi, ia kembali menyampaikan nasihatnya.
“Adik-adik, ingat, ya! Bermain layang-layang itu menyenangkan, tetapi keselamatan harus tetap menjadi yang utama. Jangan pernah bermain di pinggir jalan atau di dekat area lalu lintas. Carilah tanah lapang atau tempat terbuka yang luas supaya kita bisa bermain dengan aman dan nyaman, tanpa membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Selamat bermain layang-layang, ya!”
Bagas dan Doni mengangguk mantap. Mereka kini tahu bahwa bermain bukan hanya soal bersenang-senang, tetapi juga harus memperhatikan keselamatan.
Rekomendasi Buku Cerita Anak:
Buku Anak Kumpulan Seri Sikap Baik
Harga: Rp 45.300
Detail: Cek di Shopee

