Mengapa Orang Jujur Tetap Bertahan? Belajar dari Penjual Tembakau di Pasar Kotagede

00:00

1. Di Sudut Pasar yang Nyaris Tak Terlihat

ilustrasi wanita tua penjual tembakau di pasar kotagede-Java Harmony

Di antara lorong-lorong sempit Pasar Legi, Kotagede-Jogja, yang tak pernah benar-benar sepi, langkah kaki para pembeli saling bersahutan. Ada yang menawar sayuran, ada yang memilih rempah, ada pula yang sekadar berbincang sebentar sebelum melanjutkan urusan hari itu. Pasar selalu memiliki caranya sendiri untuk menghidupkan pagi.

Namun, di sela-sela deretan kios yang lebih mencolok, ada satu sudut yang mudah terlewatkan. Bukan kios besar, bukan pula lapak yang dipenuhi aneka barang. Hanya selembar tikar anyaman yang terbentang di lantai, beberapa bungkus plastik tembakau, dan sebuah timbangan besi tua yang setia menemani hari-harinya. Di situlah seorang wanita tua duduk dengan tenang, menunggu siapa saja yang datang.

Saya penggemar rokok kretek tingwe (nglinting dewe), termasuk salah satu pelanggan yang sering singgah di hadapannya. Ada satu kebiasaan kecil yang selalu saya perhatikan. Setiap kali saya membeli tembakau, ia tidak pernah asal mengambil. Jemarinya yang mulai keriput akan memilahnya perlahan, seolah-olah sedang memilih sesuatu untuk keluarganya sendiri. Ia selalu memberikan yang menurutnya paling baik, tanpa saya perlu memintanya. Menyingkirkan kotoran-kotoran yang ikut nempel di rajangan tembakau. Dan secara telaten menapis dengan tangannya agar serpihan-serpihan halus rajangan daun tembakau yang kurang enak, tidak ikut masuk ke dalam timbangan. Padahal untuk jenis tembakau yang sama (Tembakau Siluk asli Imogiri Bantul), ia menjual sudah dengan harga yang paling murah.

Kebiasaan itu sering membuat saya berpikir. Bukankah lebih mudah jika langsung menimbang tembakau begitu saja dan kemudian membungkusnya? Bukankah sedikit keuntungan tambahan akan lebih berarti bagi seseorang yang hidup dengan dagangan sesederhana itu?

Entahlah. Yang saya tahu, setiap kali datang kembali ke pasar, wanita itu masih berada di tempat yang sama. Lapaknya tidak pernah tampak menjadi besar. Hidupnya juga tidak terlihat berubah menjadi lebih mewah. Namun ia tetap ada, tetap melayani dengan ketulusan yang sama, seolah waktu berjalan tanpa pernah mengubah caranya memperlakukan pelanggan.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang diam-diam terus mengikuti langkah saya meninggalkan pasar.

Mengapa seseorang yang hidup begitu sederhana mampu bertahan selama bertahun-tahun, sementara tidak sedikit usaha yang jauh lebih besar justru perlahan tumbang?

Memahami Konsep Karma: Hukum Sebab-Akibat dalam Kehidupan
Baca nanti:
Memahami Konsep Karma: Hukum Sebab-Akibat dalam Kehidupan

Dunia Mengajarkan Untung Sebesar-besarnya

Kita hidup di zaman yang hampir selalu mengukur keberhasilan dengan angka. Semakin besar omzet, semakin banyak pelanggan, semakin cepat usaha berkembang, semakin sering nama kita muncul di layar gawai, maka semakin berhasil pula hidup ini dianggap.

Seolah-olah setiap langkah harus menghasilkan lebih banyak daripada kemarin. Jika tahun ini sama seperti tahun lalu, kita merasa tertinggal. Jika usaha tidak berkembang pesat, kita khawatir sedang berjalan ke arah yang salah. Dunia terus berbisik bahwa hidup adalah perlombaan yang tidak boleh kehilangan kecepatan.

Tidak ada yang keliru dengan keinginan untuk maju. Bertumbuh adalah naluri yang baik. Bekerja keras juga bukan sesuatu yang patut dihindari. Namun, tanpa disadari, perlahan-lahan kita mulai menilai segala sesuatu hanya dari hasil akhirnya. Keuntungan menjadi ukuran utama, sementara kejujuran, kesabaran, dan ketulusan sering kali diperlakukan sebagai pelengkap yang boleh dikorbankan.

Mungkin karena itulah saya kembali teringat kepada wanita tua penjual tembakau itu.

Saya tidak pernah melihatnya menawarkan dagangannya dengan suara lantang. Ia juga tidak tampak berusaha memperbesar lapaknya atau mengejar pembeli yang berlalu-lalang. Ia hanya duduk di tempat yang sama, hari demi hari, melakukan pekerjaan yang sama dengan kesungguhan yang sama.

Yang menarik, ia tampaknya tidak sedang berlomba dengan siapa pun.

Ia tidak terlihat sibuk menghitung bagaimana memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari setiap transaksi. Sebaliknya, ia justru terlihat lebih sibuk memastikan bahwa orang yang membeli darinya pulang dengan membawa tembakau yang baik.

Di tengah dunia yang mengajarkan bahwa setiap kesempatan harus dimaksimalkan demi memperoleh lebih banyak, wanita tua itu seolah memilih logika yang berbeda. Baginya, mungkin yang paling berharga bukanlah mengambil sebanyak mungkin dari setiap pembeli, melainkan meninggalkan alasan yang cukup agar mereka bersedia kembali.

Dan bisa jadi, ada kebijaksanaan yang sering luput kita lihat. Sebab tidak semua usaha bertahan karena paling besar keuntungannya. Ada pula yang tetap hidup karena tidak pernah berhenti memelihara kepercayaan.

Kejujuran yang Tidak Pernah Dihitung dengan Kalkulator

Saya sering membayangkan, mungkin setiap kali wanita tua itu memilihkan tembakau terbaik untuk pelanggannya, ada sedikit keuntungan yang ia lepaskan. Ia bisa saja mencampurkan kualitas yang biasa dengan yang terbaik. Ia bisa saja mengurangi sedikit timbangannya. Barangkali tidak semua pembeli akan menyadarinya.

Namun ia tidak melakukannya.

Di zaman ketika begitu banyak orang berlomba mencari cara agar memperoleh untung lebih besar, ia justru memilih jalan yang mungkin terasa kurang menguntungkan. Setidaknya untuk hari itu.

Tetapi hidup sering kali tidak berhenti pada hitungan hari ini saja.

Ada hal-hal yang tidak pernah tercatat dalam buku pembukuan. Tidak memiliki angka pasti, namun nilainya jauh melampaui keuntungan sesaat. Salah satunya adalah kepercayaan.

Kepercayaan tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, bahkan nyaris tanpa disadari. Bermula dari satu transaksi yang jujur. Lalu satu pertemuan yang menyenangkan. Kemudian satu alasan kecil yang membuat seseorang berkata dalam hati, "Kalau membeli di sini, saya merasa tenang."

Begitulah kepercayaan bekerja. Sedikit demi sedikit, hingga suatu hari ia menjadi alasan utama seseorang kembali, bukan karena harga paling murah, melainkan karena hati sudah memilih tempatnya.

Barangkali itulah sebabnya pelanggan tidak selalu mencari penjual yang paling lengkap atau paling besar. Mereka mencari seseorang yang tidak membuat mereka ragu. Sebab rasa percaya adalah kenyamanan yang tidak bisa ditawar dengan potongan harga.

Kepercayaan memang tumbuh sangat lambat. Ia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menguat, tetapi bisa runtuh hanya dalam sekejap. Karena itu, orang-orang yang menjaganya sesungguhnya sedang merawat sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Mungkin wanita tua penjual tembakau itu tidak pernah membaca buku tentang strategi bisnis. Ia juga mungkin tidak pernah mengenal istilah branding, loyalitas pelanggan, atau ilmu marketing lainnya. Pemasarannya hanya satu jurus yaitu gethok-tular-dari mulut ke mulut. Namun tanpa disadari, ia telah mempraktikkan pelajaran yang paling mendasar: membuat orang percaya.

Dan ketika kepercayaan telah menemukan rumahnya, pelanggan tidak lagi datang hanya untuk membeli tembakau. Mereka datang karena yakin bahwa di sudut kecil pasar itu, masih ada seseorang yang menganggap kejujuran lebih penting daripada keuntungan sesaat.

"Tidak semua usaha menjadi besar. Namun usaha yang dibangun di atas kepercayaan sering kali memiliki umur yang lebih panjang daripada usaha yang hanya dibangun secara instan di atas keuntungan."

Bertahan Juga Sebuah Keberhasilan

Sejak kecil kita sering diajarkan untuk menjadi yang terbaik. Menjadi juara kelas. Mendapat pekerjaan yang lebih baik. Membangun usaha yang lebih besar. Memiliki rumah yang lebih luas. Seakan-akan hidup selalu bergerak dalam satu arah: terus bertambah.

Tanpa kita sadari, ukuran keberhasilan pun ikut berubah. Kita mulai percaya bahwa hidup yang baik adalah hidup yang terus menanjak. Ketika grafiknya tidak lagi naik, kita merasa sedang gagal.

Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan seperti garis lurus yang terus mendaki.

Ada musim ketika seseorang memang sedang bertumbuh. Namun ada pula musim ketika keberhasilan justru berarti mampu bertahan.

Bertahan melewati hari-hari yang sulit.

Bertahan menjaga keluarga tetap utuh.

Bertahan menjalankan usaha kecil ketika keadaan ekonomi sedang tidak ramah.

Bertahan memegang kejujuran saat orang lain memilih jalan yang lebih mudah.

Semua itu mungkin tidak pernah menjadi berita. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada penghargaan. Namun bukan berarti tidak bernilai.

Saya kembali teringat pada wanita tua penjual tembakau di sudut Pasar Kotagede itu.

Entah sudah berapa tahun ia menggelar tikarnya di tempat yang sama. Mungkin puluhan tahun. Lapaknya tetap sederhana. Timbangan tuanya masih setia menemaninya. Tidak ada papan nama besar. Tidak ada cabang usaha. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang mengejar sesuatu yang lebih megah.

Namun justru di situlah saya melihat bentuk keberhasilan yang lain.

Ia masih ada.

Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.

Masih ada, karena tidak menyerah.

Masih ada, karena pelanggan masih percaya.

Masih ada, karena ia tidak kehilangan alasan untuk bangun setiap pagi dan kembali membuka dagangannya.

Sering kali kita mengagumi pohon yang menjulang tinggi, tetapi lupa bahwa rumput yang tetap hijau setelah kemarau pun sedang menunjukkan ketangguhannya. Begitu pula dalam kehidupan. Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi yang terbesar. Ada yang dipanggil untuk tetap setia mengerjakan hal-hal kecil dengan hati yang besar.

Mungkin keberhasilan memang tidak selalu berarti melangkah lebih jauh daripada orang lain. Kadang-kadang, keberhasilan adalah tetap berdiri di tempat yang benar, ketika banyak orang memilih jalan yang lebih mudah.

Dan barangkali, bertahan dengan kejujuran bukanlah tanda bahwa seseorang kurang berhasil. Justru bisa jadi, itulah keberhasilan yang paling sunyi—yang tidak diukur oleh besarnya keuntungan, tetapi oleh panjangnya keteguhan.

Mungkin sekarang kamu mulai teringat pada ayahmu yang puluhan tahun bekerja di tempat yang sama, ibumu yang tak pernah lelah menjaga keluarga, atau pedagang kecil yang wajahnya selalu kamu jumpai setiap pagi. Disini kita tidak lagi hanya berbicara tentang seorang wanita tua penjual tembakau, melainkan tentang orang-orang sederhana yang diam-diam menyangga kehidupan dengan kesetiaan mereka.

Hidup Sedang Menimbang Kita

timbangan tembakau tua-Java Harmony

Setiap kali membeli tembakau darinya, perhatian saya hampir selalu tertuju pada sebuah benda tua yang tergeletak di sampingnya. Timbangan besi sederhana, model lama, yang mungkin usianya tak jauh berbeda dengan pemiliknya. Catnya telah memudar. Besinya tak lagi mengilap. Namun jarumnya masih bergerak jujur setiap kali sebuah anak timbangan diletakkan di salah satu sisinya.

Bagi sebagian orang, itu hanyalah alat untuk menentukan berat tembakau. Tidak lebih.

Namun entah mengapa, setiap kali melihatnya, saya merasa timbangan itu sedang mengajarkan sesuatu tentang kehidupan.

Wanita tua itu menimbang tembakau setiap hari. Dengan sabar. Dengan teliti. Tanpa tergesa-gesa. Ia memastikan bahwa apa yang diterima pembeli benar-benar sesuai dengan yang seharusnya.

Di saat yang sama, saya membayangkan kehidupan pun diam-diam sedang melakukan hal yang serupa kepada kita semua.

Hanya saja, kehidupan tidak sedang menimbang berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan.

Ia juga tidak sibuk menghitung seberapa besar usaha yang berhasil kita bangun.

Kehidupan, barangkali, sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih sunyi.

Seberapa jujur kita ketika tidak ada seorang pun yang melihat.

Seberapa tulus kita ketika berbuat baik tanpa mengharapkan balasan.

Seberapa setia kita menjalankan pekerjaan, meskipun pekerjaan itu tidak pernah mengangkat nama kita.

Sebab pada akhirnya, tidak semua nilai kehidupan dapat diubah menjadi angka. Ada hal-hal yang hanya bisa dirasakan oleh hati dan dikenang oleh orang lain.

Nama baik, misalnya.

Ia tidak dapat dibeli dengan keuntungan yang besar. Ia juga tidak lahir dari satu perbuatan baik. Ia terbentuk perlahan, dari pilihan-pilihan kecil yang terus diulang setiap hari. Dari timbangan yang tidak pernah dikurangi. Dari ucapan yang tidak dibuat-buat. Dari kesungguhan yang tetap dijaga, bahkan ketika tidak ada yang memberi tepuk tangan.

Barangkali itulah sebabnya timbangan tua di sudut Pasar Kotagede itu masih terus menarik perhatian saya.

Ia bukan sekadar alat untuk mengukur berat tembakau.

Ia seolah mengingatkan bahwa setiap hari, sadar ataupun tidak, kita semua sedang berdiri di atas timbangan kehidupan. Dan yang sedang diukur bukanlah seberapa tinggi kita berhasil mendaki, melainkan seberapa lurus kita memilih untuk melangkah.

"Di hadapan kehidupan, yang paling berat bukanlah timbangan tembakau, melainkan timbangan hati manusia."

Percakapan di Pos Ronda: Rahasia Mengapa Kamu Terus Merasa Gelisah
Baca nanti:
Percakapan di Pos Ronda: Rahasia Mengapa Kamu Terus Merasa Gelisah

Belajar dari Wanita Tua Penjual Tembakau

Setiap pasar selalu memiliki tokohnya sendiri. Ada yang dikenal karena dagangannya paling ramai. Ada yang terkenal karena suaranya paling lantang menawarkan barang. Namun ada pula orang-orang yang nyaris tak pernah menjadi pusat perhatian. Mereka datang pagi-pagi, menggelar dagangan, melayani pembeli dengan sabar, lalu pulang ketika matahari mulai condong ke barat.

Mungkin kebanyakan dari kita akan melewati mereka begitu saja.

Padahal, sering kali justru dari orang-orang sederhana itulah kehidupan menitipkan pelajaran yang paling berharga.

Wanita tua penjual tembakau di sudut Pasar Legi Kotagede itu, mungkin tidak pernah membayangkan dirinya sedang mengajarkan apa pun kepada orang lain. Ia hanya melakukan pekerjaannya seperti hari-hari sebelumnya. Memilihkan tembakau yang baik, menimbangnya dengan jujur, lalu menyerahkannya kepada pembeli dengan ketulusan yang sama.

Namun tanpa disadarinya, ia telah menunjukkan bahwa pekerjaan sekecil apa pun, dapat menjadi mulia ketika dikerjakan dengan hati yang bersih.

Sejak mengenalnya sebagai pelanggan, saya mulai belajar melihat pasar dengan cara yang berbeda. Saya tidak lagi hanya melihat tempat orang berjual beli. Saya melihat manusia-manusia yang sedang menjalankan hidupnya sebaik mungkin. Dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka tetap memilih untuk bekerja, menjaga kepercayaan, dan menjalani hari tanpa banyak mengeluh.

Mungkin memang tidak semua orang ditakdirkan memiliki usaha yang besar. Tidak semua nama akan dikenal banyak orang. Tidak semua kehidupan akan dipenuhi kemewahan.

Namun, setiap orang selalu memiliki kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang lebih lama bertahan daripada keuntungan: nama baik.

Dan nama baik tidak dibangun oleh satu perbuatan besar. Ia tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan berulang-ulang, dari timbangan yang tetap jujur, dari janji yang ditepati, dari hati yang tidak berubah meski keadaan tak selalu berpihak.

lorong sempit pasar tradisional Kotagede Yogyakarta-Java Harmony

Ketika saya meninggalkan pasar, wanita tua itu masih duduk di tempatnya. Timbangan tuanya masih setia di sampingnya. Para pembeli datang dan pergi seperti aliran waktu yang tak pernah berhenti. Barangkali esok pagi, pemandangan itu akan terulang kembali. Begitu pula lusa, dan hari-hari setelahnya, selama Tuhan masih memberinya kesempatan.

Lalu saya menyadari satu hal.

Barangkali hidup tidak selalu memberi panggung kepada orang-orang yang paling hebat. Namun hidup hampir selalu menyediakan tempat bagi mereka yang menjaga kejujuran, merawat kepercayaan, dan setia pada pekerjaannya, meski tak banyak yang mengenal namanya.

"Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita pernah berdiri yang akan dikenang. Melainkan seberapa baik kita menjalani peran yang telah dipercayakan kepada kita."

Kebijaksanaan sering kali tidak tinggal di tempat-tempat yang megah. Ia justru duduk diam di sudut pasar, menunggu seseorang yang mau berhenti sejenak untuk memperhatikannya. Saatnya mulai memandang orang-orang sederhana di sekeliling kita, dengan rasa hormat yang lebih dalam.

─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Minggu Ini
Hidup Ini Lapang Yang Sempit Hati Kita
Hidup Ini Lapang, Yang Sempit Hati Kita
Penulis: Haidar Musyafa
Rezeki bukan sekadar tentang banyak atau sedikit, melainkan tentang bagaimana hati kita menjalaninya. Saat dilapangkan, kita diuji dengan rasa syukur. Saat disempitkan, kita diuji dengan kesabaran. Bukan banyaknya harta yang menentukan ketenangan hidup, melainkan kelapangan hati dalam menerima setiap ketetapan-Nya.
Sesungguhnya Allah telah menetapkan rezeki setiap manusia bahkan sebelum ia dilahirkan. Apa yang menjadi bagian kita tidak akan pernah tertukar, dan apa yang belum menjadi bagian kita tidak akan bisa dipaksakan. Karena itu, jangan biarkan hati menjadi sempit oleh rasa cemas atau iri. Buku Hidup Ini Lapang, Yang Sempit Hati Kita mengajak kita memandang rezeki dengan cara yang lebih bijaksana, sehingga kita mampu tetap bersyukur saat diberi kelapangan, tetap sabar ketika menghadapi kesempitan, dan menemukan ketenangan dalam keyakinan bahwa setiap rezeki datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.
  • Penulis : Haidar Musyafa
  • Penerbit : Syalmahat Publishing
  • Kertas : Bookpaper, 2 warna
  • Ukuran : 14 x 20 cm
  • Tebal : viii + 232 halaman
Show More
Harga: Rp 50.400
Cek di Shopee