Kita Bukan Takut Memulai, Kita Takut Kehilangan Diri Sendiri

00:00

Benih yang Harus Dikubur

biji buah mangga-java harmony

Di tanganmu, sebutir biji mangga tergeletak. Kecil, keras, kering.
Tidak ada yang akan menduganya menyimpan pohon raksasa di dalam sana—ranting yang akan menjulang, dedaun yang akan meneduhkan, buah yang akan memberi rasa manis di musim kemarau.

Tapi biji itu hanya akan selamanya menjadi biji jika kamu simpan di atas meja, dalam toples kaca, sebagai pajangan. Ia harus rela kamu kubur. Jauh dari cahaya. Sendirian dalam gelap. Basah oleh air dan himpitan tanah.

Aneh, bukan? Sesuatu harus dikubur dulu sebelum bisa tumbuh.

Mengapa Kita Takut Memulai dari Nol?

ilustrasi anton yang kehilangan pekerjaannya-java harmony

Umur 35, Anton kehilangan pekerjaan yang sudah ia bangun selama 12 tahun. Perusahaannya merger, posisinya dihapus, dan tiba-tiba ia hanya seorang pria dengan jas usang yang menatap laptop di pagi hari tanpa tahu surel mana yang harus dibuka.

"Aku seperti mulai dari nol lagi," katanya pelan, lebih kepada diri sendiri. Ada getir di sana. Ada malu. Ada rasa gagal yang tak bisa dijelaskan kepada anaknya yang masih SD.

Kita semua mungkin pernah—atau sedang—menjadi Anton.

Nol itu menakutkan karena ia tidak memberi jaminan. Kita yang pernah menjadi seseorang, sekarang harus menjadi bukan siapa-siapa lagi. Memulai bisnis baru setelah usaha sebelumnya bangkrut. Belajar keterampilan baru di usia yang tidak lagi muda. Kembali ke bangku kuliah saat teman-teman seangkatan sudah jadi direktur. Menghapus semua pencapaian dan turun lagi ke anak tangga pertama.

Ada suara kecil yang berbisik: "Terlambat. Kamu seharusnya sudah sampai."

Suara itu keras. Menusuk. Membuat kita ingin tetap di zona nyaman—meski zona itu sudah terbakar sekalipun.

Kontemplasi dan Sholawat: Cara Menjaga Ketenangan Hidup di Tengah Zaman yang Semakin Ruwet
Baca nanti:
Kontemplasi dan Sholawat: Cara Menjaga Ketenangan Hidup di Tengah Zaman yang Semakin Ruwet

Kita Bukan Takut Memulai, Kita Takut Kehilangan Identitas Lama

ilustrasi anton yang takut kehilangan identitas lamanya-java harmony

Setelah direnungkan, yang membuat Anton gentar bukanlah mempelajari keahlian baru, bukan pula gaji yang mengecil. Yang membuatnya gentar adalah kehilangan jawaban atas pertanyaan sederhana yang sering muncul di acara keluarga atau reuni teman sekolah: "Kerja di mana sekarang?"

Kita semua terikat pada identitas. Manajer. Pemilik usaha. Ahli di bidang tertentu. Seseorang yang sudah jadi. Identitas itu seperti baju yang sudah lama kita pakai—mungkin sudah mulai sempit atau usang, tapi setidaknya itu milik kita, setidaknya orang mengenali kita dari situ.

Memulai dari nol berarti menanggalkan baju itu. Telanjang sejenak, sebelum menemukan pakaian baru. Dan telanjang itu memalukan. Terasa rentan. Seperti biji yang harus merobek kulit kerasnya, memperlihatkan isi lunaknya kepada tanah yang asing.

Kita takut pada pertanyaan orang lain, tapi lebih dari itu: kita takut pada pertanyaan yang kita ajukan sendiri di depan cermin. Siapa aku ini sekarang?

Alam Tidak Mengenal Kata Terlambat

pohon jati yang meranggas di musim kemarau-java harmony

Lihatlah pohon jati di musim kemarau. Ia menggugurkan semua daunnya. Telanjang total. Ranting-ranting kering mencuat ke langit seperti kerangka.
Jika pohon bisa bicara, mungkin ia akan berkata, "Inilah akhirku..."

Tapi alam tidak pernah panik. Pohon jati tidak pernah merasa terlambat untuk berdaun lagi. Ia tidak membandingkan dirinya dengan pohon mangga di seberang bukit yang tetap hijau. Ia hanya mengikuti siklus: gugur, diam, lalu tumbuh.

Dan ketika hujan pertama turun, tunas-tunas mungil itu muncul. Bukan dari rasa malu, bukan dari ketergesaan, tapi dari kepastian kuno yang sudah ditulis dalam DNA-nya: selama akar masih baik-baik saja, daun akan trubus kembali.

Musim tidak mengenal kata terlambat. Bunga wijaya kusuma hanya mekar di malam hari, dan itu tidak membuatnya kurang cantik. Bambu betung baru berbunga setelah 60 tahun, dan itu tidak membuatnya kurang bermakna.

Lalu siapa yang menanamkan keyakinan dalam kepala kita bahwa ada deadline untuk semua hal? Bahwa kesuksesan harus datang sebelum usia tertentu? Bahwa memulai lagi di titik nol adalah sebuah penyimpangan, bukan bagian alami dari hidup?

Nol Bukan Kekosongan, Tetapi Ruang untuk Bertumbuh

Coba kita telaah lagi metafora ini. Ketika sebuah benih dikubur, ia tidak kosong. Ia penuh. Penuh cetak biru kehidupan. Penuh potensi akar dan daun dan juga buah yang belum terlihat. Yang ia butuhkan hanyalah ruang gelap untuk memecah cangkangnya dan mulai mewujudkan semua cetak biru itu.

Nol bukanlah ketiadaan. Nol adalah ruang.

lahan kosong yang siap ditanami benih-java harmony

Bayangkan sebidang tanah kosong. Ada dua cara memandangnya. Cara pertama: tanah ini hampa, tidak ada apa-apa, menyedihkan. Cara kedua: tanah ini siap, terbuka untuk kemungkinan apa saja—kebun sayur, taman bunga, kolam ikan, atau rumah kecil dengan jendela menghadap ke timur.

Anton, yang kini berusia 37 tahun, akhirnya memilih cara pandang kedua. Dua tahun setelah kehilangan pekerjaan, ia tidak lagi menjadi manajer dengan ruangan sendiri. Tapi ia menjadi sesuatu yang lain: seorang konsultan independen yang bekerja dari meja dapur sambil menemani anaknya belajar menggambar. Ia tidak akan menyebut ini "mulai dari nol" lagi. Ia menyebutnya "membuka halaman baru."

Dan halaman baru selalu kosong di awal. Itulah keindahannya.

Belajar Menjadi Benih Lagi

Menerima bahwa kita harus menjadi benih lagi bukanlah perkara satu malam. Ini sebuah proses. Ini diperlukan latihan. Dan inilah hal-hal kecil yang bisa kita lakukan:

  • Pertama, izinkan diri untuk tidak tahu. Benih tidak tahu akan menjadi pohon seperti apa. Ia hanya tahu ia harus tumbuh. Ada kebebasan dalam ketidaktahuan. Beri ruang untuk belajar tanpa harus langsung menjadi ahli. Mulai sebagai pemula. Pemula itu bukan gelar yang memalukan—justru pemula adalah satu-satunya cara untuk sampai ke mana pun.
  • Kedua, cari tanah yang baik. Lingkungan itu penting. Tanah yang subur akan membantu benih tumbuh, tanah yang tandus akan membuatnya mati sebelum sempat bertunas. Cari orang-orang yang mendukung, cari mentor yang membimbing, cari teman yang tidak menertawakan ketika kamu bilang "aku sedang belajar dari awal lagi."
  • Ketiga, percayalah pada kegelapan. Fase dikubur itu tidak enak. Tidak ada yang melihatmu. Tidak ada pujian. Tidak ada pengakuan. Tapi justru di sanalah akar tumbuh paling kuat. Akar yang terbentuk dalam gelap akan menopang pohon saat badai datang. Jadi jangan buru-buru muncul ke permukaan. Nikmati proses membangun fondasi yang tidak terlihat oleh orang lain.
  • Keempat, ingat bahwa tidak ada yang sia-sia. Pohon yang tumbang tetap menjadi humus. Pengalamanmu yang lalu—pekerjaan yang hilang, bisnis yang gagal, jalan yang ternyata buntu—itu semua bukan kesalahan. Itu kompos. Itu nutrisi. Tidak ada ilmu yang terbuang, tidak ada masa lalu yang benar-benar berlalu tanpa bekas.
Nyala Kunang-Kunang di Tengah Remang Zaman
Baca nanti:
Nyala Kunang-Kunang di Tengah Remang Zaman

Semua Pohon Pernah Menjadi Benih

benih pohon mangga yang mualai tumbuh-java harmony

Kembali ke biji mangga di tanganmu tadi. Jika kamu tanam sekarang, mungkin butuh bertahun-tahun sebelum ia berbuah. Tidak ada yang bisa menjanjikan kepadamu akan sempat duduk di bawah teduhnya. Tidak ada yang bisa memastikan buahnya akan semanis yang kamu bayangkan.

Tapi satu hal yang pasti: jika kamu tidak menanamnya sekarang, lima tahun lagi dirimu hanya akan punya biji yang sama—masih di atas meja, masih kering, masih hanya sebutir biji.

Semua pohon raksasa yang kamu kagumi sekarang—pohon beringin yang akarnya menjuntai seperti tirai, pohon cemara yang menjulang di pegunungan, pohon sakura yang membuat orang terbang berjam-jam hanya untuk melihat bunganya—semuanya, tanpa kecuali, pernah menjadi benih.

Pernah dikubur.

Pernah gelap.

Pernah sendiri.

Pernah memulai dari nol.

Dan lihatlah apa yang terjadi setelahnya.

Maka jika saat ini kamu merasa terkubur, ingatlah: kamu bukan sedang mati. Kamu sedang ditanam.

─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Rahasia Berpikir Positif
Rahasia Berpikir Positif
Penulis: Haidar Musyafa
Pikiran sering kali menjadi kompas utama yang menentukan arah hidup kita, terutama saat badai kesulitan datang menerjang...
Melalui buku Rahasia Berpikir Positif karya Haidar Musyafa yang diterbitkan oleh Syalmahat Publishing, Anda akan diajak menyelami kiat-kiat praktis untuk mengenali struktur pikiran serta memaksimalkan potensinya demi membentuk pribadi yang optimis dan berdaya. Buku setebal 212 halaman dengan cetakan bookpaper berukuran 14 x 20 cm ini hadir sebagai panduan esensial untuk membekali diri menghadapi berbagai tantangan, karena pada akhirnya, kemampuan mengelola pikiran positiflah yang menjadi fondasi utama dalam meraih kesuksesan tanpa batas baik di dunia maupun di akhirat.
Show More
Harga: Rp 44.100
Cek di Shopee
"Dirgahayu RI ke-81! Bersatu, berkarya, dan bangkit bersama."