Tradisi Selamatan dalam Masyarakat Jawa

Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada banyak hal yang dilakukan bukan semata-mata karena kebutuhan praktis. Ada tindakan-tindakan yang diwariskan dari generasi ke generasi, dilakukan pada waktu tertentu, dan memiliki makna yang lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan.

Salah satunya adalah selamatan.

Tradisi Selamatan dalam Masyarakat Jawa-Java Harmony

Selamatan dapat ditemui dalam berbagai tahap kehidupan masyarakat Jawa. Ada selamatan ketika seseorang lahir, memasuki usia tertentu, menikah, pindah rumah, hingga ketika seseorang meninggal dunia. Bentuk dan tata caranya dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tetapi di dalamnya terdapat satu semangat yang hampir selalu sama: berkumpul, berdoa, dan memohon keselamatan.

Karena itu, selamatan bukan sekadar soal makanan yang dibagikan atau acara yang dilakukan pada hari tertentu. Di baliknya terdapat cara masyarakat Jawa memandang kehidupan, hubungan antarmanusia, dan hubungan manusia dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Selamatan sebagai Tradisi Berkumpul

Salah satu hal yang paling mudah dilihat dari tradisi selamatan adalah kebiasaan berkumpul.

Ketika sebuah keluarga mengadakan selamatan, tetangga atau kerabat biasanya diundang untuk datang. Mereka duduk bersama, mengikuti doa, lalu menikmati hidangan yang telah disiapkan.

Barangkali dari luar hal ini terlihat sederhana.

Namun, bagi masyarakat yang menjalankannya, berkumpul memiliki arti tersendiri. Kabar baik maupun kabar duka tidak ditanggung sendirian. Ada orang-orang di sekitar yang datang, duduk bersama, dan ikut mendoakan.

Dalam kehidupan sehari-hari yang semakin individual, kebiasaan seperti ini sebenarnya memiliki nilai yang penting. Selamatan mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Ada saat ketika kita membutuhkan orang lain, dan ada saat ketika orang lain membutuhkan kehadiran kita.

Karena itu, selamatan juga dapat dipandang sebagai salah satu cara masyarakat menjaga hubungan sosial.

Mengapa Ada Hari-Hari Tertentu?

Dalam tradisi Jawa, terutama yang berkaitan dengan kematian, selamatan tidak dilakukan secara sembarangan. Ada perhitungan hari tertentu yang telah dikenal secara turun-temurun.

Di antaranya adalah nelung dina atau tiga hari, mitung dina atau tujuh hari, matang puluh atau empat puluh hari, nyatus atau seratus hari, hingga nyewu atau seribu hari.

Ada pula tradisi pendhak, yaitu peringatan setelah melewati hitungan waktu tertentu.

Bagi sebagian orang, berbagai hitungan tersebut mungkin terlihat rumit. Apalagi jika harus menghitung tanggal, hari, dan pasaran sekaligus.

Tetapi sebenarnya ada sesuatu yang menarik di balik kebiasaan tersebut.

Masyarakat Jawa tidak hanya melihat waktu sebagai rangkaian tanggal di kalender. Hari memiliki nama, pasaran memiliki nama, dan perpaduan keduanya dikenal sebagai weton. Karena itu, waktu dalam kebudayaan Jawa bukan hanya sesuatu yang berlalu, tetapi juga sesuatu yang memiliki makna.

Dalam konteks selamatan kematian, perhitungan hari menjadi cara untuk menentukan kapan keluarga kembali berkumpul dan mendoakan orang yang telah meninggal.

Selamatan untuk Orang yang Telah Meninggal

Salah satu bentuk selamatan yang masih banyak dikenal hingga sekarang adalah selamatan setelah seseorang meninggal dunia.

Kematian mengubah banyak hal dalam sebuah keluarga. Seseorang yang sebelumnya hadir setiap hari tiba-tiba tidak lagi berada di tengah keluarga. Rumah yang biasanya ramai bisa terasa lebih sepi.

Di tengah suasana seperti itu, rangkaian selamatan menjadi salah satu cara keluarga menjalani masa kehilangan.

Pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, keseratus, dan seribu, keluarga kembali berkumpul. Doa dipanjatkan untuk orang yang telah meninggal. Makanan disiapkan dan dibagikan (ingat! sesuai kemampuan dan tidak ada paksaan). Kerabat serta tetangga datang untuk ikut mendoakan.

Tentu saja, setiap keluarga dan daerah dapat memiliki kebiasaan yang berbeda. Ada yang menjalankan seluruh rangkaian, ada pula yang hanya menjalankan sebagian. Cara pelaksanaannya pun dapat berbeda.

Tradisi tidak selalu berjalan dalam bentuk yang persis sama.

Namun, inti yang terasa tetap sama: mengingat seseorang yang telah pergi dan menjaga hubungan baik dengan mereka yang masih hidup.

Bukan Sekadar Menghitung Hari

Ketika berbicara mengenai selamatan, kita sering kali lebih dulu memikirkan hitungannya.

Hari ketiga jatuh kapan? Tujuh harinya kapan? Empat puluh hari setelah meninggal jatuh pada tanggal berapa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang penting secara praktis.

Tetapi mungkin ada hal lain yang juga penting untuk diingat.

Selamatan bukan hanya tentang mendapatkan tanggal yang benar. Ada keluarga yang menggunakan kesempatan tersebut untuk berkumpul setelah beberapa waktu tidak bertemu. Ada orang yang datang bukan karena mengenal dekat orang yang meninggal, tetapi karena ingin menunjukkan kepedulian kepada keluarganya.

Dengan begitu, sebuah tanggal yang ada di kalender berubah menjadi sebuah kesempatan untuk mengingat.

Waktu yang semula hanya berupa angka menjadi waktu yang memiliki kenangan.

Mungkin inilah salah satu alasan mengapa tradisi semacam ini dapat bertahan begitu lama. Ia tidak hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi juga menciptakan ruang bagi orang-orang yang masih hidup untuk saling menguatkan.

Perbedaan Tradisi di Setiap Daerah

Satu hal yang perlu diperhatikan ketika membicarakan tradisi Jawa adalah bahwa tidak ada satu bentuk selamatan yang sepenuhnya sama di semua tempat.

Jawa memiliki wilayah yang luas. Setiap daerah memiliki kebiasaan, istilah, dan pakem yang bisa berbeda.

Cara menghitung atau melaksanakan sebuah selamatan juga dapat mengikuti kebiasaan keluarga masing-masing. Karena itu, apabila seseorang menemukan perbedaan antara satu sumber dengan sumber lainnya, tidak selalu berarti salah satunya keliru.

Bisa jadi keduanya mengikuti tradisi yang berbeda.

Hal ini penting karena tradisi pada dasarnya hidup bersama masyarakat yang menjalankannya. Ia dapat dipertahankan, mengalami perubahan, atau menyesuaikan diri dengan keadaan zaman.

Yang terpenting adalah memahami makna di baliknya dan tidak terburu-buru menganggap satu kebiasaan sebagai satu-satunya bentuk yang benar.

Tradisi yang Bertahan di Tengah Zaman

Hari ini kita hidup dengan kalender digital, pengingat otomatis, dan berbagai aplikasi yang dapat membantu menghitung tanggal hanya dalam beberapa detik.

Namun menariknya, kemudahan teknologi tidak selalu membuat tradisi menjadi hilang.

Justru teknologi dapat membantu orang mempertahankannya.

Seseorang yang dahulu harus bertanya kepada orang tua, sesepuh, atau mencari kalender Jawa untuk mengetahui weton dan hitungan selamatan, sekarang dapat memperoleh bantuan dari kalkulator digital.

Ini bukan berarti teknologi menggantikan tradisi.

Teknologi hanya membantu pekerjaan menghitung, sementara makna tradisinya tetap berada pada manusia yang menjalankannya.

Mungkin memang seperti itulah sebuah tradisi seharusnya bertahan. Tidak harus menolak zaman, tetapi juga tidak kehilangan alasan mengapa ia dahulu dilakukan.

Selamatan dan Cara Kita Mengingat

Pada akhirnya, selamatan bukan hanya tentang nasi, hidangan, tanggal, hari, atau pasaran.

Di dalamnya terdapat sesuatu yang lebih sederhana: mengingat dan mendoakan.

Ketika seseorang meninggal, keluarga tidak dapat mengembalikannya. Waktu juga tidak dapat diputar kembali. Yang masih dapat dilakukan adalah menjaga kenangan, mendoakan, dan melanjutkan kehidupan dengan membawa kebaikan yang pernah ditinggalkan orang tersebut.

Mungkin karena itu, sebuah selamatan sering kali terasa lebih dari sekadar acara.

Ia adalah jeda.

Jeda bagi keluarga untuk berhenti sejenak dari kesibukan, duduk bersama, mengingat seseorang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka, lalu kembali melanjutkan hari-hari berikutnya.

Tradisi boleh berubah bentuk. Cara menghitungnya mungkin menjadi lebih mudah. Undangan mungkin dikirim melalui telepon, bukan lagi disampaikan dari rumah ke rumah.

Tetapi selama masih ada orang yang mau berkumpul, berdoa, dan mengingat, selamatan masih memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Jika Anda ingin menghitung tanggal nelung dina, mitung dina, matang puluh, nyatus, pendhak, hingga nyewu berdasarkan tanggal meninggal, Anda dapat menggunakan (klik!)Kalkulator Perhitungan Otomatis Selamatan Orang Meninggal yang telah disediakan Java Harmony.

─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Bagus
Menjadi Tenang
Menjadi Tenang
Penulis: Syakira Humaira
Merasa lelah dengan beban hidup atau sering terjebak dalam overthinking? Buku Menjadi Tenang (Sesuai Janji-Janji Allah) karya Syakira Humaira dan diterbitkan oleh Jendela hadir sebagai panduan self-healing Islami yang menenangkan jiwa. Buku ini mengajak kita melepaskan kecemasan duniawi dengan cara menyandarkan harapan sepenuhnya pada kepastian janji-janji Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur'an....
Melalui pendekatan spiritual yang hangat dan membumi, pembaca akan diajak belajar seni berbaik sangka (husnuzhan) pada takdir serta menemukan kembali ketenangan sejati (inner peace) yang tidak bisa dibeli dengan materi. Temukan kembali ketentraman hati dan jadikan buku ini teman setia untuk memulihkan energi batin Anda setiap hari.
Show More
Harga: Rp 55.250
Cek di Shopee