Memento Mori: Mengapa Mengingat Kematian Justru Membuat Hidup Lebih Bermakna

00:00

Jam Pasir yang Tidak Pernah Terburu-Buru

waktu yang tidak bisa berulang-Java Harmony

Di sudut sebuah meja kayu tua, berdirilah sebuah jam pasir yang bentuknya sederhana. Tidak ada suara jarum berdetak. Tidak ada alarm yang berbunyi. Hanya butiran-butiran pasir yang jatuh perlahan dari ruang atas ke ruang bawah, seolah sedang menikmati pekerjaannya sendiri.

Aneh ya? Padahal ia tidak pernah terburu-buru, tetapi juga tidak pernah berhenti.

Sementara itu, kita justru sering kebalikannya. Maunya serba cepat, tetapi pekerjaan malah tertunda. Katanya mau mulai hidup sehat hari Senin, eh... Seninnya lupa kalau masih hari libur. Mau membaca buku "nanti malam", tahu-tahu bukunya lebih sering jadi alas kacamata daripada dibuka.

Lalu saya membayangkan sesuatu.

Kalau jam pasir itu bisa berbicara, kira-kira apa yang akan ia katakan kepada kita?

Mungkin ia tidak akan menasihati panjang lebar. Ia hanya akan berbisik, "Aku tidak sedang mengejarmu. Aku hanya terus berjalan. Pilihan ada padamu, mau ikut bergerak atau terus menunggu."

Kalimat sederhana itu mengingatkan pada sebuah filosofi kuno dari Romawi yang dikenal dengan nama Memento Mori. Sekilas terdengar menyeramkan karena berbicara tentang kematian. Padahal, maknanya justru jauh dari kesan suram. Filosofi ini mengajak kita menyadari bahwa waktu terus berjalan, sehingga setiap hari yang kita miliki layak dijalani dengan lebih sadar, lebih tulus, dan lebih bermakna.

Mungkin, yang perlu kita ingat setiap hari bukanlah kematian itu sendiri, melainkan bagaimana agar hidup tidak habis hanya untuk berkata, "Nanti saja."

Kenapa Kita Takut Membicarakan Kematian?

Coba perhatikan, setiap kali ada orang mengucapkan kata "kematian", suasana sering kali langsung berubah. Ada yang buru-buru menyela, "Ssst... jangan ngomong begitu, ah!" Ada juga yang langsung mencari topik lain, seolah-olah dengan berganti pembicaraan, kematian ikut pergi menjauh.

membicarakan kematian masih dianggap hal yang tabu-Java Harmony

Lucunya, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam membahas film horor, cerita hantu, bahkan teori konspirasi yang entah datang dari mana. Tapi begitu topiknya bergeser ke kematian, kita mendadak jadi ahli menghindar.

Padahal, kalau dipikir-pikir, yang membuat kita tidak nyaman sering kali bukan kematian itu sendiri. Yang membuat kita gelisah adalah bayangan yang kita ciptakan di dalam kepala. Kita membayangkannya sebagai sesuatu yang gelap, menakutkan, dan sebisa mungkin harus dijauhkan dari percakapan sehari-hari.

Akibatnya, kita lebih memilih berpura-pura bahwa waktu masih sangat panjang. Masih ada nanti. Masih ada besok. Masih ada tahun depan. Padahal, tidak ada seorang pun yang pernah mendapat surat resmi yang berbunyi, "Selamat, jatah waktu Anda telah diperpanjang seratus tahun lagi."

Justru karena hidup memiliki batas, setiap hari menjadi berharga. Dan mungkin, di situlah letak ironi yang sering kita lewatkan. Semakin kita menghindari pembicaraan tentang akhir kehidupan, semakin mudah pula kita lupa menghargai hari yang sedang kita jalani hari ini.

Apatheia di Atas Beton: Seni Tetap Mekar Tanpa Perlu Melawan Angin
Baca nanti:
Apatheia di Atas Beton: Seni Tetap Mekar Tanpa Perlu Melawan Angin

Apa Itu Memento Mori?

Kalau diterjemahkan secara sederhana, Memento Mori berasal dari bahasa Latin yang berarti "ingatlah bahwa kamu akan mati." Sekilas terdengar menyeramkan, ya? Padahal, orang-orang Romawi kuno tidak menciptakan ungkapan ini untuk menakut-nakuti siapa pun.

Konon, ketika seorang jenderal Romawi pulang membawa kemenangan besar, ia akan diarak dengan penuh kemegahan. Di tengah sorak-sorai dan pujian, ada seseorang yang bertugas mengingatkannya bahwa sehebat apa pun dirinya, ia tetap manusia biasa yang suatu hari akan menua dan meninggal. Tujuannya bukan untuk merusak kebahagiaan, melainkan agar ia tidak tenggelam dalam kesombongan.

jam pasir dan naskah-naskah kuno-Java Harmony

Gagasan itu kemudian banyak dipakai oleh para filsuf Stoik, termasuk Marcus Aurelius dan Seneca. Salah satu pesan Marcus Aurelius yang terkenal berbunyi, "Kamu bisa meninggalkan hidup ini kapan saja." Kalimat itu bukan ajakan untuk hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, ia mengingatkan agar setiap keputusan, setiap ucapan, dan setiap hari dijalani dengan sungguh-sungguh.

Itulah mengapa Memento Mori bukan kultus kematian, apalagi mengajak kita terus-menerus memikirkan hal yang menyeramkan. Filosofi ini juga bukan sikap pesimis yang membuat seseorang kehilangan semangat hidup.

Bayangkan saja seperti jam pasir di atas meja. Jam pasir tidak pernah mengancam, tidak pula membuat kita panik. Ia hanya diam sambil berkata, "Waktu terus berjalan." Dan mungkin, kesadaran sederhana itulah yang membuat kita lebih menghargai secangkir kopi yang masih hangat, pelukan orang terdekat, atau kesempatan kecil yang hari ini masih kita miliki.

Mengapa Mengingat Kematian Justru Membuat Hidup Lebih Bermakna?

Sekarang coba kita bermain dengan sebuah bayangan.

Bayangkan besok pagi, seluruh internet di dunia benar-benar berhenti. Tidak ada media sosial. Tidak ada video pendek. Tidak ada pesan instan. Bahkan mencari resep mi goreng pun tidak bisa.

Kira-kira, apa yang akan Anda lakukan hari ini?

momen membahagiakan bersama keluarga-Java Harmony

Mungkin Anda akan menelepon orang tua yang sudah beberapa hari hanya ingin dihubungi. Mengajak anak bermain tanpa sesekali melirik layar ponsel. Duduk di teras menikmati hujan yang biasanya hanya lewat begitu saja. Atau makan malam bersama keluarga tanpa sibuk memotret makanan dari berbagai sudut.

Aneh, ya? Padahal yang berubah bukan hari ini, melainkan cara kita memandang hari ini.

Begitulah Memento Mori bekerja.

Filosofi ini tidak menyuruh kita bangun setiap pagi sambil berkata, "Waduh, jangan-jangan ini hari terakhir." Kalau begitu, yang ada malah stres duluan.

Memento Mori hanya mengingatkan bahwa waktu bukan sesuatu yang bisa disimpan untuk dipakai nanti. Setiap hari yang berlalu adalah bagian dari hidup yang sudah tidak bisa diulang.

Karena itulah, kesadaran akan batas waktu sering kali membuat kita lebih berani mengatakan "terima kasih", lebih cepat meminta maaf, lebih tulus menghabiskan waktu bersama orang-orang yang kita sayangi, dan lebih bijak memilih apa yang benar-benar layak diperjuangkan.

Ironisnya, justru ketika kita sadar bahwa hidup ini tidak selamanya, kita mulai benar-benar hidup. Kita berhenti sibuk mengejar segala hal, lalu mulai menikmati hal-hal yang selama ini diam-diam membuat hidup terasa utuh. Ternyata, hidup yang bermakna tidak selalu lahir dari peristiwa besar. Kadang, ia hadir dalam secangkir kopi hangat, obrolan sederhana, tawa keluarga di ruang makan, atau sore yang dihabiskan untuk menyiram tanaman sambil menikmati angin yang pelan-pelan lewat.

Memento Mori dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalau dipikir-pikir, kita ini sebenarnya sangat akrab dengan kata "nanti."

Servis motor? Nanti saja, toh masih bisa jalan.

Mulai olahraga? Tunggu Senin.

Liburan sama keluarga? Nanti kalau sudah tidak sibuk.

Mau buka usaha? Tunggu modal cukup.

Mau menelepon orang tua? Ah, malam saja.

Mau membaca buku yang sudah berbulan-bulan di rak? Nanti kalau ada waktu.

melakukan kontemplasi di momen sore hari-Java Harmony

Masalahnya, si "nanti" ini pintar sekali. Hari ini ia bernama besok. Besok ia berubah menjadi minggu depan. Minggu depan berganti lagi menjadi tahun depan. Lama-lama, kita sendiri lupa apa yang dulu begitu ingin dilakukan.

Lucunya, hidup sering kali lewat justru ketika kita sibuk menunggu waktu yang "katanya" paling tepat.

Padahal, siapa yang bisa menjamin bahwa waktu yang kita tunggu itu benar-benar akan datang?

Bukan berarti kita harus nekat berhenti bekerja lalu langsung keliling Indonesia naik sepeda. Tenang, Memento Mori tidak sedang mengajak kita hidup tanpa rencana.

Filosofi ini hanya mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu menunggu kondisi yang sempurna. Kadang, momen terbaik justru lahir dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan hari ini.

Kalau memang rindu orang tua, teleponlah sekarang.

Kalau ingin membaca satu buku, mulailah satu halaman malam ini.

Kalau ingin lebih sehat, berjalan kaki sepuluh menit juga sudah lebih baik daripada terus berkata, "Besok saja."

Mungkin rumah impian memang belum selesai dibangun. Tabungan mungkin belum sebanyak yang diharapkan. Masa pensiun juga masih jauh. Tetapi hidup tidak pernah berkata, "Tenang, aku tunggu sampai semuanya sempurna."

Jam pasir terus mengalir.

Dan mungkin, pelajaran terbesarnya bukanlah tentang seberapa banyak waktu yang masih kita miliki, melainkan apakah kita benar-benar menggunakan waktu yang sedang ada di tangan hari ini.

Amor Fati: Mengapa Kita Sulit Menerima Kenyataan?
Baca nanti:
Amor Fati: Mengapa Kita Sulit Menerima Kenyataan?

Penutup

Di awal tulisan ini, kita berkenalan dengan sebuah jam pasir tua yang terus mengalir tanpa suara. Sampai di sini, ternyata ia masih melakukan hal yang sama. Tidak lebih cepat. Tidak lebih lambat. Hanya setia mengingatkan bahwa waktu memang tidak pernah berhenti.

Kabar baiknya, pasir terakhir itu belum jatuh.

Masih ada kesempatan untuk menghubungi seseorang yang sudah lama ingin kita sapa. Masih ada waktu untuk membaca buku yang terus tertunda, menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru, atau sekadar duduk bersama keluarga tanpa sibuk memandangi layar ponsel.

Kita tidak perlu menjalani hidup dengan tergesa-gesa seolah setiap detik adalah perlombaan. Namun, jangan pula terlalu sering berkata, "Nanti saja." Sebab, tanpa terasa, kata "nanti" bisa mencuri banyak momen yang sebenarnya layak kita nikmati hari ini.

Mungkin kita tidak bisa menambah jumlah pasir di dalam jam kehidupan. Tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana menggunakan setiap butir yang masih tersisa.

Memento Mori bukan mengajak kita menghitung berapa lama lagi hidup ini akan berakhir. Ia hanya berbisik pelan agar kita tidak lupa bahwa kita sedang menjalani hidup, selama waktu masih mengalir seperti butiran pasir di dalam jam itu.

— Java Harmony
─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Bagus
Menjadi Tenang
Menjadi Tenang
Penulis: Syakira Humaira
Merasa lelah dengan beban hidup atau sering terjebak dalam overthinking? Buku Menjadi Tenang (Sesuai Janji-Janji Allah) karya Syakira Humaira dan diterbitkan oleh Jendela hadir sebagai panduan self-healing Islami yang menenangkan jiwa. Buku ini mengajak kita melepaskan kecemasan duniawi dengan cara menyandarkan harapan sepenuhnya pada kepastian janji-janji Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur'an....
Melalui pendekatan spiritual yang hangat dan membumi, pembaca akan diajak belajar seni berbaik sangka (husnuzhan) pada takdir serta menemukan kembali ketenangan sejati (inner peace) yang tidak bisa dibeli dengan materi. Temukan kembali ketentraman hati dan jadikan buku ini teman setia untuk memulihkan energi batin Anda setiap hari.
Show More
Harga: Rp 55.250
Cek di Shopee