Mengapa Kita Harus Terus Menyapu? Pelajaran Hidup dari Jalan yang Selalu Kotor

00:00

Jalan yang Kotor Lagi Setiap Pagi

petugas kebersihan menyapu jalan setiap pagi-java harmony

Pagi belum benar-benar ramai ketika suara sapu lidi terdengar menyentuh permukaan jalan. Sret... sret... sret.... Seorang lelaki berdiri di tepi jalan, mengumpulkan daun-daun kering, debu, dan beberapa potong sampah yang tertinggal sejak kemarin.

Jalan itu mungkin sudah disapunya kemarin. Bahkan mungkin juga sehari sebelumnya.

Tetapi pagi ini, daun-daun kembali berjatuhan. Debu kembali menempel. Angin membawa kotoran dari tempat lain dan meletakkannya begitu saja di jalan yang baru saja dibersihkan.

Ia tetap menyapu.

Tidak tampak wajah kesal karena pekerjaannya akan segera berulang. Tidak ada keluhan bahwa semua yang dilakukannya akan sia-sia. Tangannya terus bergerak, perlahan mengikuti panjang jalan.

Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana:

"Kalau jalan itu akan kembali kotor, mengapa ia masih menyapu?"

Mungkin ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari pekerjaan yang tampaknya tidak pernah benar-benar selesai itu.

Pekerjaan yang Tidak Pernah Benar-Benar Selesai

Kita sering mengukur sebuah pekerjaan dari hasil akhirnya. Rumah sudah dibersihkan, kita berharap tetap bersih. Pekerjaan sudah diselesaikan, kita ingin tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Masalah sudah menemukan jalan keluar, kita berharap masalah yang sama tidak datang kembali.

Padahal, ada banyak hal dalam hidup yang memang tidak dirancang untuk selesai sekali dan untuk selamanya.

Kita makan setiap hari, meskipun esok rasa lapar akan datang lagi. Kita mencuci pakaian, meskipun beberapa hari kemudian pakaian itu kembali menumpuk. Kita menyiram tanaman, meskipun daun-daunnya akan terus tumbuh, menguning, lalu berguguran.

Tidak ada yang menganggap semua itu sia-sia hanya karena harus dilakukan berulang kali.

Barangkali kita perlu melihat pekerjaan dengan cara yang berbeda. Tidak semua pekerjaan harus menghasilkan keadaan yang permanen agar layak dilakukan. Ada pekerjaan yang nilainya justru terletak pada kesediaan kita untuk mengulanginya ketika memang diperlukan.

Seperti orang yang menyapu jalan setiap pagi.

Ia tidak sedang berusaha membuat jalan itu bersih selamanya. Ia hanya ingin, setidaknya pagi ini, jalan itu menjadi sedikit lebih bersih daripada sebelumnya.

"Sebab tidak semua yang kita lakukan harus selesai untuk selamanya agar menjadi berarti."

Apatheia di Atas Beton: Seni Tetap Mekar Tanpa Perlu Melawan Angin
Baca nanti:
Apatheia di Atas Beton: Seni Tetap Mekar Tanpa Perlu Melawan Angin

Kita Sering Kecewa karena Mengharapkan Semuanya Permanen

Mungkin yang membuat hidup terasa melelahkan bukan hanya masalah yang datang, tetapi keinginan kita agar masalah itu tidak pernah datang lagi.

Kita ingin rumah yang sudah tertata tetap rapi. Setelah menyelesaikan satu persoalan, kita berharap tidak ada persoalan baru yang menyusul. Setelah berdamai dengan seseorang, kita ingin hubungan itu selalu tenang. Ketika akhirnya mencapai sesuatu yang kita perjuangkan, kita berharap keadaan itu tidak berubah.

Namun hidup tidak bekerja seperti itu.

Hari yang cerah berganti hujan. Rumah yang pagi tadi rapi kembali berantakan menjelang sore. Tubuh yang hari ini terasa sehat perlahan berubah dimakan usia. Bahkan perasaan yang pernah begitu tenang pun dapat kembali diguncang oleh keadaan.

Semuanya bergerak.

Di sinilah kita sering merasa lelah. Bukan semata-mata karena harus menghadapi masalah, tetapi karena diam-diam kita menuntut kehidupan untuk berhenti berubah.

Kita ingin apa yang sudah diperbaiki tetap baik. Apa yang sudah dimiliki tetap menjadi milik kita. Apa yang sudah selesai tidak perlu dihadapi lagi.

Padahal mungkin, seperti jalan yang kembali dipenuhi daun, sebagian persoalan memang akan datang lagi.

Dan barangkali kedewasaan dimulai ketika kita berhenti menuntut hidup untuk selalu tetap, lalu belajar melakukan apa yang perlu dilakukan setiap kali keadaan berubah.

Belajar dari Orang yang Menyapu Jalan

penyapu daun-daun kering dan sampah di jalanan-java harmony

Coba kita kembali kepada lelaki yang menyapu jalan itu. Ia tidak marah kepada daun-daun yang jatuh. Ia tidak menyalahkan angin karena membawa debu. Ia juga tidak berhenti sambil berkata, "Percuma saya menyapu. Besok jalan ini akan kotor lagi."

Ia hanya menyapu.

Mungkin tanpa disadarinya, ia sedang menjalankan sebuah pelajaran yang sejak lama diajarkan oleh Stoisisme: membedakan apa yang berada dalam kendali kita dan apa yang tidak.

Ia tidak bisa mengatur arah angin. Tidak bisa memerintah pohon agar berhenti menjatuhkan daun. Tidak bisa memastikan jalan itu tetap bersih sampai sore.

Tetapi ada satu hal yang bisa ia lakukan: menggerakkan sapunya.

Sederhana sekali, tetapi sering kali justru hal sederhana seperti inilah yang kita lupakan.

Kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang tidak dapat kita ubah. Kita ingin orang lain memahami kita, keadaan berjalan sesuai rencana, masa lalu berubah, atau masalah tidak datang kembali. Semakin keras kita mencoba mengendalikan semuanya, semakin cepat tenaga kita habis.

Orang yang menyapu jalan itu seolah berkata tanpa kata-kata: "aku tidak bisa mengendalikan apa yang jatuh ke jalan, tetapi aku bisa menentukan apa yang kulakukan terhadapnya."

Mungkin itulah salah satu bentuk ketenangan: bukan ketika hidup berhenti membuat berantakan, melainkan ketika kita tahu bagian mana yang harus kita kerjakan.

Amor Fati: Mengapa Kita Sulit Menerima Kenyataan?
Baca nanti:
Amor Fati: Mengapa Kita Sulit Menerima Kenyataan?

Tidak Semua yang Kita Lakukan Harus Bertahan Selamanya

Kita sering menganggap sesuatu sia-sia jika hasilnya tidak bertahan lama. Seolah-olah sebuah usaha baru layak disebut berarti jika hasilnya bisa kita pertahankan selamanya.

Padahal hampir tidak ada yang benar-benar demikian.

Makanan yang kita masak pagi ini akan habis. Bunga yang kita rawat akan layu. Rumah yang baru dibersihkan akan kembali berdebu. Bahkan tubuh yang kita jaga dengan baik pun perlahan akan menua.

Namun tidak satu pun dari semua itu membuatnya menjadi sia-sia.

Kita tetap makan karena tubuh membutuhkan tenaga hari ini. Kita tetap menyiram bunga karena ingin melihatnya tumbuh hari ini. Kita membersihkan rumah bukan agar debu tidak pernah datang lagi, melainkan agar rumah nyaman ditempati sekarang.

Begitu pula orang yang menyapu jalan.

Ia tahu pekerjaannya tidak akan bertahan selamanya. Beberapa jam kemudian, mungkin akan ada daun baru yang jatuh. Tetapi pagi itu, jalan menjadi lebih bersih karena tangannya.

Barangkali di situlah letak makna yang sering kita lewatkan: "nilai sebuah tindakan tidak selalu ditentukan oleh berapa lama hasilnya bertahan."

Ada kebaikan yang hanya berlangsung sebentar, tetapi tetap berarti. Ada usaha yang harus diulang berkali-kali, tetapi tetap layak dilakukan.

Sebab hidup bukan tentang membuat segala sesuatu bertahan selamanya. Kadang, cukup membuat sesuatu menjadi sedikit lebih baik untuk hari ini.

Menyapu Bagian Kita Sendiri

Mungkin setiap orang memiliki jalan yang harus disapu setiap hari. Bukan jalan di depan rumah, melainkan jalan yang ada di dalam dirinya sendiri.

Ada pikiran yang perlu ditata ketika mulai dipenuhi prasangka. Ada ego yang perlu direndahkan ketika merasa paling benar. Ada amarah yang perlu dibersihkan sebelum melukai orang lain. Ada kebiasaan buruk yang harus kembali diperbaiki, meskipun kita merasa sudah berkali-kali gagal.

Kemarin kita mungkin sudah belajar bersabar. Tetapi hari ini kita kembali mudah marah.

Tidak apa-apa.

Besok mungkin kita harus belajar lagi.

Kita sering menganggap pengulangan sebagai tanda bahwa kita tidak pernah berubah. Padahal bisa jadi, pengulangan adalah bagian dari proses menjadi manusia.

Bukankah jalan pun harus disapu berkali-kali?

Kehidupan bukan ujian sekali duduk yang setelah selesai kita tidak perlu mengulanginya lagi. Ada pelajaran yang harus dipelajari berkali-kali karena manusia memang mudah lupa.

Maka ketika hari ini kita kembali menemukan kekurangan dalam diri sendiri, mungkin kita tidak perlu terlalu kecewa.

Ambillah sapu.

Bersihkan bagian yang bisa kita bersihkan.

Lalu lanjutkan perjalanan.

Tetaplah Menyapu

selesai menjalankan tugas lalu pulang-java harmony

Orang itu akhirnya selesai menyapu. Daun-daun yang tadi berserakan telah terkumpul di satu tempat. Debu yang menutupi jalan telah disingkirkan. Untuk beberapa saat, jalan itu tampak bersih dan tenang.

Ia mungkin tahu, beberapa jam lagi angin akan kembali bertiup. Akan ada daun baru yang jatuh. Mungkin seseorang akan membuang sampah sembarangan. Debu akan kembali menempel di permukaan jalan.

Tetapi ia tetap meletakkan sapunya.

Barangkali ia tidak pernah berpikir bahwa pekerjaannya harus bertahan sampai besok. Ia hanya menyelesaikan apa yang bisa dikerjakannya pagi itu.

Bukankah hidup juga sering seperti itu?

Kita menyelesaikan satu persoalan, lalu persoalan lain datang. Kita belajar menjadi sabar, lalu keadaan kembali menguji kesabaran. Kita menata hidup, kemudian sesuatu yang tidak kita duga membuatnya berantakan lagi.

Tidak apa-apa.

Mungkin hidup memang seperti jalan yang harus disapu setiap pagi. Bukan karena kita berharap jalan itu tidak pernah kotor lagi, tetapi karena hari ini kita masih bisa membuatnya sedikit lebih baik.

Kita mungkin tidak mampu mengubah seluruh keadaan. Tidak bisa menghentikan angin, menahan daun agar tidak jatuh, atau membuat hidup berjalan persis seperti yang kita inginkan.

Tetapi kita selalu punya pilihan untuk menggerakkan sapu kita sendiri.

Maka, ketika besok jalan kembali kotor, "tetaplah menyapu."

Bukan karena kita gagal membuatnya bersih selamanya, tetapi karena hari ini, kita masih bisa melakukan sesuatu yang berarti.

Dan mungkin, untuk sebuah kehidupan, "itu sudah cukup."

─── ❀✿❀ ───
Jalan Kampung Selepas Hujan: Tentang Hidup yang Tidak Harus Dipahami Hari Ini
Baca juga:
Jalan Kampung Selepas Hujan: Tentang Hidup yang Tidak Harus Dipahami Hari Ini
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Bagus
Menjadi Tenang
Menjadi Tenang
Penulis: Syakira Humaira
Merasa lelah dengan beban hidup atau sering terjebak dalam overthinking? Buku Menjadi Tenang (Sesuai Janji-Janji Allah) karya Syakira Humaira dan diterbitkan oleh Jendela hadir sebagai panduan self-healing Islami yang menenangkan jiwa. Buku ini mengajak kita melepaskan kecemasan duniawi dengan cara menyandarkan harapan sepenuhnya pada kepastian janji-janji Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur'an....
Melalui pendekatan spiritual yang hangat dan membumi, pembaca akan diajak belajar seni berbaik sangka (husnuzhan) pada takdir serta menemukan kembali ketenangan sejati (inner peace) yang tidak bisa dibeli dengan materi. Temukan kembali ketentraman hati dan jadikan buku ini teman setia untuk memulihkan energi batin Anda setiap hari.
Show More
Harga: Rp 55.250
Cek di Shopee