Mengikhlaskan Masa Lalu: Bagaimana Berdamai dengan Sesuatu yang Tak Bisa Diubah?

00:00

Kalimat yang Tertinggal dari Sebuah Video

Beberapa hari lalu saya menonton sebuah video di YouTube tentang seorang warga Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di Jerman. Ada sebuah bagian dari kisahnya yang membuat saya berhenti sejenak.

melihat peninggalan tembok berlin dari atas balkon-Java Harmony

Karena situasi politik yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965, ia tidak dapat pulang ke tanah air. Tahun-tahun berlalu. Indonesia terus berubah. Ia pun melanjutkan hidupnya di negeri yang jauh dari tempat ia dilahirkan.

Saya tidak ingin bercerita tentang dirinya. Bukan pula tentang apa yang terjadi pada tahun 1965.

Ada satu kalimat yang justru tertinggal lebih lama di kepala saya setelah video itu selesai.

“Saya sudah mengikhlaskan masa lalu.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin terlalu sederhana untuk sebuah masa lalu yang begitu panjang.

Tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa kalimat tersebut menyimpan sesuatu yang tidak sederhana.

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mengikhlaskan masa lalu?

Apakah mengikhlaskan berarti melupakan?

Kalau begitu, bagaimana mungkin kita melupakan sesuatu yang pernah menjadi bagian penting dari hidup kita?

Apakah mengikhlaskan berarti memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti kita? Lalu bagaimana dengan sesuatu yang bahkan sampai hari ini belum mampu kita anggap sebagai sebuah keadilan?

Ataukah mengikhlaskan berarti tidak lagi merasa sedih ketika mengingatnya?

Saya kira juga bukan itu.

Sebab ada kenangan yang mungkin akan tetap membuat dada terasa sesak, meskipun bertahun-tahun telah berlalu.

Mungkin mengikhlaskan masa lalu bukan tentang menghapus apa yang pernah terjadi.

Mungkin ia adalah tentang berhenti meminta masa lalu untuk menjadi sesuatu yang berbeda dari kenyataannya.

Kita tahu bahwa waktu tidak pernah berjalan mundur. Namun anehnya, pikiran kita sering melakukannya.

Kita kembali ke percakapan yang sudah selesai.

Kembali kepada keputusan yang telah dibuat.

Kembali kepada seseorang yang telah pergi.

Lalu diam-diam berkata dalam hati, seandainya waktu itu saya memilih yang lain...

Barangkali di situlah persoalannya.

Masa lalu sudah selesai.

Tetapi di dalam diri kita, ia kadang belum selesai.

Dan mungkin, mengikhlaskan adalah cara kita menyelesaikan sesuatu yang memang tidak mungkin kita ubah lagi—bukan dengan melupakannya, melainkan dengan berdamai dengannya.

Mengapa Kita Takut Menjadi Orang Biasa?
Baca nanti:
Mengapa Kita Takut Menjadi Orang Biasa?

Masa Lalu Tidak Bisa Diajak Berunding

Masa lalu memiliki sifat yang aneh.

Ia sudah selesai, tetapi kita sering memperlakukannya seolah-olah masih bisa diajak berunding.

Kita kembali ke sebuah percakapan yang terjadi bertahun-tahun lalu, lalu membayangkan kalimat yang seharusnya kita ucapkan.

Seandainya waktu itu saya memilih yang berbeda.

Seandainya dia tidak pergi.

Seandainya saya tidak mengambil keputusan itu.

Seandainya orang itu memperlakukan saya dengan lebih baik.

Kita mengulang kejadian yang sama berkali-kali di dalam kepala, seolah-olah dengan mengulanginya cukup lama, sejarah akan merasa kasihan dan bersedia mengubah keputusannya.

Padahal sejarah tidak pernah bernegosiasi.

Apa yang telah terjadi, tetap terjadi.

Kita boleh menyesalinya. Kita boleh menangisinya. Kita bahkan boleh marah kepada ketidakadilan yang pernah kita alami. Tetapi tidak ada satu pun dari perasaan itu yang mampu mengembalikan waktu ke tempat semula.

Yang lebih aneh, tubuh kita mungkin sudah berada di hari ini, tetapi pikiran kita masih tinggal di masa lalu.

Kita sedang duduk bersama keluarga, tetapi pikiran masih berada di sebuah ruang yang pernah kita tinggalkan.

Kita sedang bekerja, tetapi diam-diam mengingat kegagalan bertahun-tahun lalu.

Kita sedang menikmati pagi, tetapi tiba-tiba sebuah kenangan membawa kita kembali kepada seseorang yang sudah lama tidak ada dalam kehidupan kita.

Seperti sebuah rumah yang pintunya telah tertutup, tetapi kita masih berdiri di depannya sambil memikirkan apa yang mungkin terjadi jika dulu kita memilih untuk tidak keluar.

Barangkali inilah salah satu alasan mengapa masa lalu terasa begitu berat.

Bukan karena ia masih terjadi, melainkan karena kita masih berusaha mengubah sesuatu yang sudah tidak berada dalam jangkauan tangan kita.

Kita lupa bahwa hidup hanya menyediakan satu arah.

Ke depan.

Kita tidak dapat mengubah halaman yang sudah ditulis. Kita tidak dapat mencoret kalimat yang tidak kita sukai, lalu meminta kehidupan menuliskannya kembali.

Tetapi buku itu belum selesai.

Masih ada halaman yang kosong.

Dan mungkin, daripada terus berdebat dengan halaman yang sudah berlalu, kita perlu mulai memperhatikan halaman yang sedang menunggu untuk kita tulis.

Sebab masa lalu memang tidak bisa diajak berunding.

Tetapi masa depan masih bisa kita ajak bekerja sama.

Mengikhlaskan Bukan Berarti Melupakan

Ada kesalahpahaman yang cukup umum tentang keikhlasan.

Kita sering mengira seseorang yang sudah ikhlas seharusnya tidak lagi merasa sedih. Tidak boleh marah. Tidak lagi mengingat kejadian yang menyakitkan. Bahkan, seolah-olah ia harus bisa tersenyum ketika menceritakan sesuatu yang dulu pernah membuat hidupnya berantakan.

Padahal manusia tidak bekerja seperti itu.

Ada kenangan yang tetap tinggal meskipun lukanya sudah mengering.

Kita bisa mengingat tanpa harus kembali terluka.

Kita bisa merasa sedih tanpa harus tenggelam di dalam kesedihan.

Kita bisa marah terhadap sesuatu yang tidak adil tanpa membiarkan kemarahan itu menguasai seluruh hidup kita.

Karena itu, mengikhlaskan tidak sama dengan melupakan.

Melupakan adalah persoalan ingatan. Sedangkan mengikhlaskan adalah persoalan hubungan kita dengan ingatan tersebut.

Sesuatu mungkin masih tersimpan jelas di kepala, tetapi ia tidak lagi menentukan setiap langkah yang kita ambil.

Begitu pula dengan memaafkan.

Memaafkan seseorang tidak selalu berarti mengatakan bahwa apa yang dilakukannya benar. Kita tidak perlu menyebut sebuah kesalahan sebagai kebaikan hanya karena ingin berdamai dengan masa lalu.

Kita boleh tetap berkata, “Apa yang terjadi kepada saya waktu itu tidak benar.”

Tetapi setelah mengatakannya, kita juga bisa melanjutkan dengan kalimat lain:

“Namun saya tidak ingin kesalahan itu terus mengambil bagian dari hidup saya hari ini.”

Di situlah keikhlasan mungkin menemukan maknanya.

Kita menerima kenyataan bukan karena kita menyukainya, melainkan karena kita menyadari bahwa kenyataan itu sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita.

Ada hal-hal yang memang tidak bisa diperbaiki.

Ada orang-orang yang tidak akan kembali.

Ada kesempatan yang sudah lewat.

Ada keputusan yang ternyata salah.

Dan ada peristiwa yang, seandainya kita diberi kesempatan mengulang hidup, mungkin tetap ingin kita ubah.

Tetapi hidup tidak menyediakan tombol untuk kembali.

Maka mungkin kalimat yang paling jujur bukanlah, “Saya sudah tidak sedih lagi.”

Melainkan:

Saya tidak bisa mengubah apa yang terjadi. Tetapi saya tidak ingin apa yang terjadi terus menentukan bagaimana saya hidup.

Kita tidak sedang menghapus masa lalu.

Kita hanya sedang mengambil kembali kehidupan kita darinya.

Sebab masa lalu boleh menjadi bagian dari cerita kita.

Tetapi ia tidak harus menjadi penulis seluruh cerita yang masih tersisa.

Apa yang Sebenarnya Kita Lepaskan?

Kalau masa lalu tidak mungkin diubah, lalu apa sebenarnya yang kita lepaskan ketika kita mengikhlaskannya?

Bukan masa lalunya.

Masa lalu sudah berlalu. Ia tidak lagi berada di tangan kita.

Yang kita lepaskan adalah keinginan agar masa lalu menjadi berbeda dari kenyataannya.

Kita sering membawa kalimat-kalimat kecil di dalam kepala:

Seharusnya waktu itu tidak begini.

Seharusnya dia meminta maaf.

Seharusnya saya memilih yang lain.

Seharusnya hidup memperlakukan saya dengan lebih baik.

Kata “seharusnya” tampaknya sederhana. Tetapi di dalamnya sering tersimpan sebuah perlawanan yang panjang terhadap kenyataan.

Kita tahu sesuatu telah terjadi, tetapi bagian dari diri kita masih berkata bahwa hal itu seharusnya tidak terjadi.

Kita tahu seseorang telah pergi, tetapi kita masih berharap ia kembali menjadi orang yang dulu.

Kita tahu sebuah keputusan tidak dapat dibatalkan, tetapi kita terus menjalani kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah terjadi.

Akhirnya kita seperti berdiri di depan pintu yang sudah terkunci, berkali-kali mencoba memutarnya, meskipun kita tahu tidak ada lagi kunci di tangan kita.

Mungkin itulah yang membuat masa lalu begitu melelahkan.

Bukan semata-mata karena apa yang terjadi, tetapi karena kita terus berusaha memenangkan pertengkaran dengan sesuatu yang sudah tidak bisa menjawab.

Keikhlasan mungkin dimulai ketika kita berhenti bertanya, “Mengapa ini harus terjadi?”, dan perlahan belajar berkata, “Ya, ini memang telah terjadi.”

Kalimat itu bukan persetujuan.

Bukan pula tanda bahwa kita menganggap semuanya baik-baik saja.

Ia hanya sebuah pengakuan sederhana terhadap kenyataan.

Bahwa sesuatu telah terjadi.

Bahwa kita tidak menyukainya.

Bahwa kita mungkin berharap semuanya berbeda.

Tetapi semuanya tetap telah terjadi.

Dan setelah pengakuan itu, ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:

“Sekarang, apa yang ingin saya lakukan dengan hidup yang masih saya miliki?”

Mungkin di situlah kita mulai benar-benar melepaskan.

Bukan karena masa lalu tiba-tiba menjadi ringan, tetapi karena kita tidak lagi memaksanya untuk berubah.

Kita akhirnya berhenti berunding dengan sesuatu yang tidak mungkin bernegosiasi.

Lalu, untuk pertama kalinya, kita punya tangan yang cukup bebas untuk menggenggam hari ini.

Kontemplasi dan Sholawat: Cara Menjaga Ketenangan Hidup di Tengah Zaman yang Semakin Ruwet
Baca nanti:
Kontemplasi dan Sholawat: Cara Menjaga Ketenangan Hidup di Tengah Zaman yang Semakin Ruwet

Cara Mengikhlaskan Masa Lalu

Mengikhlaskan masa lalu mungkin terdengar seperti sesuatu yang besar. Seolah-olah kita harus mencapai sebuah keadaan batin tertentu, lalu tiba-tiba semua yang pernah menyakitkan menjadi ringan.

Padahal mungkin tidak begitu.

Keikhlasan lebih mirip sebuah latihan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Setiap kali masa lalu datang kembali, kita belajar meresponsnya dengan cara yang sedikit berbeda.

Pertama, akui apa yang sedang kita rasakan.

Ketika sebuah kenangan membuat kita sedih, jangan buru-buru mengusirnya. Katakan saja kepada diri sendiri, “Ya, saya masih sedih ketika mengingat ini.”

Tidak perlu merasa bersalah karena belum sepenuhnya pulih.

Perasaan tidak selalu hilang hanya karena kita memerintahkannya untuk pergi.

Kedua, bedakan apa yang terjadi dengan apa yang kita pikirkan tentangnya.

Misalnya, faktanya adalah kita pernah kehilangan pekerjaan. Tetapi pikiran kemudian berkata, “Saya memang tidak berguna. Hidup saya selalu gagal.”

Berhentilah sejenak.

Yang pertama adalah peristiwa. Yang kedua adalah cerita yang kita bangun di atas peristiwa itu.

Tidak semua cerita yang muncul di kepala adalah kebenaran.

Ketiga, ketika pikiran berkata “seharusnya”, gantilah dengan “memang sudah terjadi”.

Seharusnya saya tidak memilih itu.

Menjadi:

Saya memang memilih itu, dan sekarang saya tahu akibatnya.

Seharusnya dia tidak meninggalkan saya.

Menjadi:

Dia memang pergi, dan saya masih di sini.

Perubahan kalimat mungkin terlihat kecil. Tetapi dari sanalah kita belajar mengubah cara memandang kenyataan.

Keempat, tanyakan apa yang masih bisa kita lakukan hari ini.

Masa lalu mungkin mengambil sesuatu dari kita, tetapi jangan biarkan ia mengambil seluruh hari ini.

Jika sebuah hubungan berakhir, mungkin kita tidak bisa mengembalikannya. Tetapi kita masih bisa memperbaiki cara kita memperlakukan orang yang masih ada.

Jika pernah gagal dalam pekerjaan, kita tidak bisa menghapus kegagalan itu. Tetapi kita masih bisa belajar sesuatu darinya.

Jika pernah membuat keputusan yang salah, kita tidak bisa mengulang waktu. Tetapi kita bisa membuat keputusan yang lebih baik hari ini.

Kelima, batasi kebiasaan mengunjungi masa lalu.

Ada saatnya kita perlu berhenti membuka kembali percakapan lama, melihat foto lama, membaca pesan lama, atau terus mencari jawaban dari sesuatu yang sebenarnya sudah selesai.

Bukan karena semua kenangan harus dibuang.

Melainkan karena kita perlu menyadari kapan mengenang berubah menjadi menyakiti diri sendiri.

Dan mungkin yang paling sederhana: latih diri untuk kembali ke hari ini.

Ketika pikiran pergi terlalu jauh ke masa lalu, perhatikan apa yang ada di depan mata.

Secangkir kopi.

Suara kendaraan.

Angin yang masuk melalui jendela.

Orang-orang yang masih bersama kita.

Hidup yang sedang berlangsung.

Kita mungkin tidak bisa memilih apa yang pernah terjadi.

Tetapi setiap hari kita masih diberi kesempatan untuk memilih ke mana perhatian kita akan diarahkan.

Barangkali mengikhlaskan bukan sebuah keputusan yang dibuat sekali.

Ia adalah keputusan kecil yang kita ulang setiap kali masa lalu mengetuk pintu.

Kita mendengarnya.

Kita mengakuinya.

Lalu perlahan berkata,

“Aku tahu kau pernah ada. Tetapi sekarang, aku kembali kepada hidupku.”

Mengikhlaskan Adalah Latihan, Bukan Sekali Jadi

Mungkin kita berharap bahwa mengikhlaskan adalah sebuah keputusan yang bisa dibuat sekali.

Hari ini kita berkata, “Saya sudah ikhlas.”

Lalu besok semuanya selesai.

Tidak ada lagi kesedihan. Tidak ada lagi kemarahan. Tidak ada lagi kenangan yang tiba-tiba muncul.

Sayangnya, hati manusia tidak bekerja sesederhana itu.

Ada kenangan yang sudah lama kita kira selesai, tetapi tiba-tiba muncul kembali hanya karena sebuah lagu, sebuah tempat, sebuah nama, atau aroma tertentu.

Pagi yang tadinya biasa saja mendadak membawa kita kembali kepada bertahun-tahun yang lalu.

Kita mungkin kembali sedih.

Mungkin kembali marah.

Mungkin bahkan bertanya, “Mengapa saya masih memikirkan ini?”

Tidak apa-apa.

Kemunculan kembali sebuah kenangan bukan berarti kita kembali ke titik awal.

Luka yang sudah sembuh pun terkadang masih menyisakan bekas. Bekas itu tidak berarti lukanya kembali terbuka.

Begitu pula dengan masa lalu.

Mengikhlaskan bukan berarti kita tidak pernah lagi teringat. Mengikhlaskan berarti setiap kali ingatan itu datang, kita semakin tahu bagaimana menyambutnya tanpa membiarkannya membawa kita pergi terlalu jauh.

Dulu mungkin sebuah kenangan membuat kita marah sepanjang hari.

Sekarang mungkin hanya beberapa menit.

Dulu kita terus bertanya, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”

Sekarang kita mungkin cukup berkata, “Ya, itu pernah terjadi.”

Perubahannya mungkin kecil.

Bahkan mungkin tidak terlihat oleh orang lain.

Tetapi di dalam diri kita, ada sesuatu yang sedang tumbuh.

Kita sedang belajar melepaskan sedikit demi sedikit.

Seperti tangan yang terlalu lama menggenggam sesuatu.

Tidak perlu dibuka dengan paksa.

Cukup kendurkan jari satu demi satu.

Sebab mungkin keikhlasan bukan tentang membuat masa lalu tidak lagi terasa sakit.

Melainkan tentang membuat rasa sakit itu tidak lagi mengatur ke mana hidup kita harus berjalan.

Ada hari ketika kita kuat.

Ada hari ketika kita kembali rapuh.

Ada hari ketika kita merasa sudah berdamai, lalu esoknya sebuah kenangan membuat dada kembali sesak.

Itu bagian dari perjalanan.

Jangan menjadikan kemunculan kembali kesedihan sebagai bukti bahwa kita gagal.

Kita hanya sedang berlatih lagi.

Dan setiap kali masa lalu datang, kita mendapat kesempatan untuk memilih:

Apakah saya akan kembali tinggal di sana, atau saya akan mengingatnya sebentar lalu pulang kepada hari ini?

Mungkin suatu hari nanti kita akan menyadari bahwa masa lalu masih ada di dalam ingatan, tetapi tidak lagi duduk di kursi pengemudi.

Ia tetap menjadi bagian dari cerita.

Hanya saja, sekarang kitalah yang memegang kemudi.

Dan perjalanan masih panjang.

Kita Bukan Takut Memulai, Kita Takut Kehilangan Diri Sendiri
Baca nanti:
Kita Bukan Takut Memulai, Kita Takut Kehilangan Diri Sendiri

Penutup: Ketika Masa Lalu Akhirnya Berada di Tempatnya

Setelah memikirkan semua ini, saya kembali teringat pada kalimat yang saya dengar dalam video itu.

“Saya sudah mengikhlaskan masa lalu.”

Kini kalimat itu terdengar sedikit berbeda.

Mungkin mengikhlaskan bukan berarti seseorang sudah tidak memiliki kenangan.

Bukan berarti ia sudah melupakan semua yang pernah terjadi.

Bukan berarti masa lalu tidak lagi membuatnya sedih.

Mungkin ia hanya sudah berhenti meminta masa lalu untuk berubah.

Ia menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dibawa kembali.

Ada pintu yang sudah tertutup.

Ada kereta yang sudah meninggalkan stasiun.

Ada orang yang tidak akan kembali.

Ada keputusan yang tidak mungkin diambil ulang.

Dan ada bagian dari hidup yang hanya bisa kita lihat dari kejauhan.

Kita tidak harus menyukai semua yang pernah terjadi dalam hidup kita untuk bisa berdamai dengannya.

Kita hanya perlu berhenti bertengkar dengan kenyataan.

Sebab selama kita terus berkata “seharusnya”, sebagian diri kita masih tinggal di masa lalu.

Seharusnya saya tidak melakukan itu.

Seharusnya dia tidak pergi.

Seharusnya hidup tidak seperti ini.

Mungkin suatu hari kita cukup berkata:

“Memang begitulah yang terjadi.”

Lalu kita menarik napas.

Bukan karena semuanya tiba-tiba menjadi baik.

Tetapi karena kita akhirnya memahami bahwa kehidupan yang kita miliki sekarang terlalu berharga untuk terus dihabiskan di tempat yang sudah tidak bisa kita datangi lagi.

Masa lalu boleh tetap menjadi bagian dari diri kita.

Ia boleh meninggalkan bekas.

Ia boleh mengajarkan sesuatu.

Bahkan sesekali ia boleh datang sebagai kenangan.

Tetapi ia tidak perlu lagi menjadi tempat tinggal.

Sebab hidup tidak meminta kita untuk melupakan jalan yang sudah kita lewati.

Hidup hanya meminta kita untuk terus berjalan.

Mungkin itulah arti terdalam dari mengikhlaskan masa lalu:

bukan menghapus apa yang pernah terjadi, melainkan meletakkannya kembali pada tempatnya.

Di belakang kita.

Kita boleh menoleh.

Tetapi tidak perlu kembali.

Karena di depan sana masih ada pagi yang belum kita jalani, orang-orang yang belum kita temui, dan halaman-halaman yang belum kita tulis.

Dan mungkin, pada akhirnya, berdamai dengan masa lalu bukanlah tentang mengatakan,

“Saya tidak lagi terluka.”

Melainkan tentang mampu berkata dengan tenang:

Ya, itu pernah menjadi bagian dari hidup saya. Tetapi sekarang, saya memilih untuk melanjutkan hidup.

Lalu kita berjalan.

Pelan-pelan.

Tanpa perlu menoleh lagi.

Sebab masa lalu sudah mendapatkan bagiannya.

Sekarang giliran hari ini.

─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Membuka Harmoni Diri
Membuka Harmoni Diri
Penulis: Purwanto Hadityo
Buku ini hadir sebagai panduan self-improvement dan kepemimpinan yang berfokus pada penyelarasan aspek internal individu. Dengan mengusung subjudul "Pelajaran Hidup, Kerja & Jiwa", buku ini mengajak pembaca untuk menyelami kembali makna keseimbangan di tengah dinamika rutinitas profesional dan pergulatan batin sehari-hari...
Penulis menyajikan berbagai sudut pandang reflektif yang membimbing pembaca untuk mengenali potensi diri, meredakan konflik mental, serta mengarahkan energi kerja dan jiwa agar selaras dengan tujuan hidup yang lebih utuh.

Secara keseluruhan, buku ini sangat relevan bagi siapa saja yang tengah mencari ketenangan sekaligus efektivitas dalam menavigasi dunia kerja modern tanpa harus kehilangan jati diri. Gaya penulisan yang bertumpu pada kontemplasi membuat setiap babnya terasa dekat dengan pengalaman personal pembaca, menjadikannya bacaan penyeimbang yang berbobot untuk memperkuat mental, kepemimpinan, dan kedamaian batin.
Show More
Harga: Rp 59.000
Cek di Gramedia