Sore itu di medio tahun 1980an, matahari Jogja turun pelan-pelan seperti kuning telur asin yang matang. Di tempat yang sekarang menjadi perumahan baru itu, dulunya adalah 'wilayah kekuasaan kami': petakan sawah berlumpur yang luasnya sejauh mata memandang.
Setiap pulang sekolah, saya, Slamet, dan jagoan kampung bernama Wahyu, sudah siap dengan celana kolor yang digulung tinggi-tinggi. Misi kami satu: berburu belut.
Wahyu dan Slamet adalah manusia-manusia berkemampuan magis. Tangan mereka bisa masuk ke dalam lubang lumpur yang gelap, bergerak secepat kilat, dan hap! Seekor belut seukuran jempol kaki dewasa sudah menggeliat pasrah di genggaman tangan kosong mereka.
Bagaimana dengan saya?
Jangankan menangkap, baru melihat belut meliuk-liuk saja kuduk saya sudah merinding. Tapi dalam sebuah geng, setiap orang harus punya kegunaan. Karena bakat menangkap saya minus, saya ditunjuk mutlak sebagai Direktur Logistik.
Tugas saya adalah berdiri di pematang sawah, memegangi ember plastik merah, dan bersorak memberi semangat layaknya pemandu sorak antar-kampung.
"Kene mBul, lebokke ember!" teriak saya bangga setiap kali Wahyu, yang biasa saya panggil si Jambul, berhasil mengeksekusi satu korban.
Petualangan berburu belut ini sebenarnya berjalan damai, sampai sebuah drama besar terjadi di dekat pohon talas. Slamet, yang merasa insting berburunya sedang setajam silet, melihat sebuah lubang yang cukup besar di bawah pematang sawah.
Tanpa babibu, ia merogohkan tangan kanannya ke dalam lumpur sampai sebatas siku.
"Wah, iki babon iki! Gede banget, melar-melar!" seru Slamet dengan mata berbinar-binar. Wahyu mendekat, saya pun ikut menjulurkan kepala dari atas pematang dengan ember siap siaga.
Slamet menarik tangannya perlahan. Lumpurnya luruh. Begitu makhluk itu terangkat ke udara... senyum Slamet mendadak beku. Makhluk licin itu tidak berwarna hitam polos, melainkan punya motif batik kecokelatan dan... ada sisiknya!
"Ulaaaaaaar!!!" jerit Wahyu.
Slamet yang kagetnya setengah mati langsung melempar makhluk itu ke udara. Apesnya, arah lemparannya tepat ke arah saya yang sedang memegang ember. Entah bagaimana ceritanya, insting bertahan hidup anak SD era 80-an itu luar biasa. Sambil memejamkan mata, saya mengayunkan ember merah seperti tongkat pemukul bola kasti. Plaakk! Ular sawah itu terpental balik ke dalam kubangan lumpur dan buru-buru ngacir menyelamatkan diri.
Kami bertiga berdiri terpaku, napas ngos-ngosan, jantung berdegup sekencang suara kenthongan pak hansip ketika mengejar maling ayam. Untung saja tidak ada yang tergigit. Setelah sadar kami selamat, ketakutan itu mendadak berubah jadi tawa terpingkal-pingkal sampai perut kaku.
Menjelang magrib, dengan lutut berbalut lumpur yang mulai kering, kami pulang membawa belasan belut di ember. Di sinilah tugas kedua saya dimulai: Chef Eksekutif.
Di dapur belakang rumah yang masih memakai tungku kayu, saya membersihkan belut-belut itu, membumbuinya dengan bawang putih dan garam krosok, lalu menceburkannya ke dalam wajan berisi minyak jelantah. Sreeeng! Aroma gurihnya langsung menyeruak, mengalahkan bau asap tungku.
Kami makan bersama di teras rumah, beralaskan daun pisang yang dipetik tanpa permisi dari kebon tetangga. Tanpa sendok, hanya nasi hangat, belut goreng yang renyah sampai ke tulang, dan cocolan sambal korek buatan ibu. Rasanya? Surga dunia mana yang bisa menandingi? Kami makan dengan lahap, sambil sesekali Wahyu memperagakan kembali muka pucat Slamet saat memegang ular tadi.
Sekarang, sawah-sawah itu sudah dikubur di bawah fondasi beton. Anak-anak zaman sekarang mungkin lebih akrab dengan gadget daripada rasa lumpur sawah di sela-sela jari kaki. Tapi bagi kami, generasi 80-an, memori salah tangkap ular dan gurihnya belut goreng sore itu adalah kemewahan masa kecil yang tidak akan pernah bisa dibeli oleh developer perumahan mana pun.
Gimana, masa kecilmu dulu sebahagia itu juga, kan?



Posting Komentar