Sore itu di medio tahun 1980an, matahari Jogja turun pelan-pelan seperti kuning telur asin yang matang. Di tempat yang sekarang menjadi perumahan baru itu, dulunya adalah 'wilayah kekuasaan kami': petakan sawah berlumpur yang luasnya sejauh mata memandang.

Setiap pulang sekolah, saya, Slamet, dan jagoan kampung bernama Wahyu, sudah siap dengan celana kolor yang digulung tinggi-tinggi. Misi kami satu: berburu belut.

Wahyu dan Slamet adalah manusia-manusia berkemampuan magis. Tangan mereka bisa masuk ke dalam lubang lumpur yang gelap, bergerak secepat kilat, dan hap! Seekor belut seukuran jempol kaki dewasa sudah menggeliat pasrah di genggaman tangan kosong mereka.