Bicara soal era 80-an, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas tingkah polah teman masa kecil yang ajaib. Di kampung saya, ada satu anak yang konyolnya konsisten dari dulu sampai sekarang. Sebut saja namanya Gudel.
Gudel ini adalah seorang "mastah" perunggasan sejak dini. Dia pelihara ayam, dan yang paling ia banggakan: sepasang burung merpati balap yang bulunya mulus dan terbangnya super cepat. Karena punya merpati bagus, Gudel ini mbagusi, hobi sekali pamer ke anak-anak sekampung sambil berkacak pinggang.
Rayuan Maut "Harta Karun" Berkulit Telur
Kesombongan Gudel ternyata memicu rasa iri seorang tetangga yang usianya jauh lebih tua, sebut saja Mas Patub. Sadar kalau Gudel ini bocah ingusan yang mudah silau dengan hal-hal keren, si tetangga menyusun rencana akal bulus.
---
Saat itu, pertengahan era 80-an, Ayam Bekisar lagi naik daun luar biasa di Indonesia. Bahkan ayam ini sampai jadi ikon sebuah instansi pemerintah karena pimpinannya saat itu tergila-gila dengan suara kokoknya yang melengking tinggi. Di kota-kota banyak lomba gantangan kokok ayam bekisar.
Bekisar-bekisar jawara harga jualnya bisa setara harga sepeda motor baru pada waktu itu. Memiliki ayam bekisar adalah simbol status sosial dengan 'kasta' tertinggi! Bekisar itu sejenis ayam persilangan antara ayam jantan hutan dengan ayam kampung betina.
---
Mas Patub mendatangi Gudel membawa dua butir telur. "Del, ini bukan telur sembarang telur. Ini telur ayam bekisar blasteran ningrat. Mau gak ditukar sama sepasang merpatimu? Nanti kalau menetas dan sudah besar, bisa dijual dengan harga mahal. Kamu bakal jadi kondang se kecamatan!" rayu Mas Patub.
Gudel yang matanya langsung berbinar membayangkan punya ayam bekisar mahal, tanpa pikir panjang langsung setuju. Merpati kesayangannya dilepas, ditukar dengan dua butir telur yang (sebenarnya) hanyalah telur ayam kampung biasa.
Operasi Penyelundupan di Petarangan Ayam
Otak cerdik Gudel langsung bekerja. Di kandang belakang rumah, ada salah satu ayam betinanya yang kebetulan sedang mengeram. Rencananya, dua telur "bekisar" ini akan diselundupkan ke dalam petarangan (sarang) secara diam-diam agar ikut dierami.
Namun, karena siang itu teman-teman sudah memanggilnya untuk main bal-balan (sepak bola plastik), Gudel buru-buru menyembunyikan dua telur berharga itu di pojokan meja dapur. "Aman, nanti sore habis main baru dieksekusi," pikirnya dalam hati. Dia pun pergi bermain dengan riang gembira, merasa sudah menjadi calon jutawan baru.
Menu Makan Sore yang "Mewah"
Menjelang magrib, perut Gudel sudah keroncongan. Beruntung, emaknya memanggil dia dan adiknya untuk segera pulang karena makan malam sudah siap.
Di atas meja makan, wangi gurih langsung menusuk hidung. Emaknya menyajikan satu piring berisi telur dadar yang ukurannya luar biasa besar dan tebal, lalu dipotong menjadi dua bagian untuk Gudel dan adiknya.
"Wah, tumben Mak!...bikin telur dadar segede ini, manteb!" teriak Gudel girang. Tanpa curiga sedikit pun, dengan lahap dia menghabiskan bagian telurnya sampai bersih tak tersisa. Sungguh nikmat yang tiada tara.
Plot Twist yang Mengguncang Jiwa
Selesai makan dan mencuci tangan, Gudel mendadak teringat misi rahasianya: Menyelundupkan calon ayam bekisar ke sarang ayam yang sedang mengeram!
Dengan langkah tegap dia masuk ke dapur, lalu menuju pojokan meja tempat dia menaruh telur tadi siang. Kosong. Dia cari di bawah meja, di dekat rak piring, sampai ke dalam lemari, hasilnya nihil. Mulailah si Gudel panik.
Dengan keringat dingin yang mulai bercucuran, dia menghampiri emaknya yang masih sibuk di dapur.
"Mak... Simak lihat dua butir telur ayam yang Gudel taruh di meja dapur tadi siang gak? Itu telur ayam bekisar mahal, Mak..." tanya Gudel dengan suara bergetar.
Emaknya menengok santai, lalu dengan wajah tanpa dosa menjawab:
"Oh, telur yang di meja tadi? Ya Simak dadar lah! Sengaja Simak dadar semua biar jadi gede, kan lumayan bisa buat lauk kamu sama adikmu sore ini. Gimana? Enak to?"
DEG!
"Wadoh....itu telur bekisar Mak!...Telur mahal," kata Gudel tertunduk lemas.
"Lho...ya Simak nggak tau. Kirain telur biasa punya Simak yang belum digoreng," sanggah emaknya Gudel.
Dunia Gudel rasanya runtuh seketika. Burung merpati balap kebanggaannya sudah melayang ke tangan tetangga, dan "Ayam Bekisar" impiannya kini sudah resmi bersemayam dengan tenang di dalam perutnya sendiri, dalam bentuk dadar tebal campur tepung dan daun bawang.
Sejak hari itu, setiap kali melihat telur dadar, Gudel selalu teringat kesaktian merpati balapnya yang menjelma jadi dua butir telur 'bekisar'. Dan ditangan emaknya yang tidak kalah sakti, dua butir telur 'ayam bekisar' dikutuk menjelma jadi lauk makan sore. Dan...Mas Patub pun menang banyak!!

Posting Komentar