Maqom Diam; Seni Menjaga Kedamaian di Tengah Kehidupan yang Makin Berisik

00:00

Maqom Diam atau As-Samt dalam tradisi tasawuf bukanlah hanya sekedar berhenti bicara. Tetapi sebuah disiplin spiritual yang mendalam dimana seorang penempuh jalan ruhani (sering disebut salik) melatih dirinya untuk mengendalikan lisan dan pikirannya agar bisa lebih 'mendengar' suara-suara kebenaran.

Maqom Diam; Seni Menjaga Kedamaian di Tengah Kehidupan yang Makin Berisik

Para ulama sufi membagi diam menjadi dua kategori utama yang saling berkaitan, yaitu:

  • Diamnya Lisan (Diam Eksternal): menjaga lidah dari perkataan sia-sia, ghibah atau ngrasani, adu domba, kesombongan dan ucapan-ucapan negatif lainnya. Ini tahapan awal untuk menjaga diri dari dosa-dosa lisan.
  • Diamnya Hati (Diam Internal): tingkatan yang lebih tinggi dimana hati berhenti dari kebisingan duniawi, angan-angan kosong, dialog batin yang menjauhkan fokus dari Tuhan. Ketika hati kita diam, ia bisa menjadi cermin yang bening bagi cahaya ilahi.

Yang ingin saya bahas duluan disini adalah diamnya hati atau diam internal. Diamnya lisan adalah istirahat bagi manusia, sedangkan diamnya hati adalah istirahat bagi jiwa dan pintu menuju rahasia-rahasia Tuhan.

Sebagian para pejalan mungkin merasakan diamnya hati di tengah hiruk-pikuk pikiran terasa lebih menantang dibanding diamnya lisan.


Menghentikan Dialog Internal

Hati yang diam bukan berarti hati yang kosong, hampa atau mati. Tetapi berhentinya hati dari kebisingan duniawi dan dialog hati yang terus-menerus mengomentari, mengkhawatirkan atau menginginkan hal-hal materi.

  • Angan-angan Kosong (Panjang Angan-angan atau Tulul Amal): Hati kita sering berisik dan khawatir dengan rencana-rencana masa depan yang berlebihan, ataupun penyesalan-penyesalan masa lalu. Diamnya hati berarti kita memutus rantai angan-angan dan bisa lebih hadir sepenuhnya di saat ini (diistilahkan dengan ibnul-waqt).
  • Gangguan Bisikan (Khatir): Para pejalan maupun sufi berlatih menyaring lintasan pikiran yang muncul. Diamnya hati adalah kemampuan untuk tidak merespon bisikan ego (nafs) dan gangguan yang menjauhkan fokus dari Tuhan.

Sendirian Bukan Lemah: Pelajaran Tangguh dari Serigala Sunyi
Baca nanti:
Sendirian Bukan Lemah: Pelajaran Tangguh dari 'Serigala Sunyi'

Cermin yang Bening

Hati sering dianalogikan seperti cermin. Ketika hati terus bergerak dan gelisah karena urusan dunia, maka 'si cermin' ini bagaikan permukaan air yang beriak dan tidak mampu memantulkan bayangan dengan jelas.

  • Refleksi Cahaya Ilahi: Ketika hati diam, ia menjadi tenang dan bening. Dalam keadaan seperti inilah hati mampu berfungsi sebagai cermin yang menangkap cahaya ilahi dan petunjuk-petunjuk lembut yang sebelumnya tertutup oleh kebisingan emosi.
  • Penyaksian (Musyahadah): Diamnya hati merupakan prasyarat untuk musyahadah.Kita tidak bisa 'melihat' keagungan Tuhan dalam batin jika hati masih saja sibuk berteriak tentang kepentingan dirinya sendiri.

Transformasi dari Suara ke Rasa

Di tingkatan/maqom ini, komunikasi spiritual berubah bentuk:

  • Dari Kata ke Makna; Jika lisan membutuhkan kata-kata untuk berdoa, hati yang diam berkomunikasi melalui kehadiran (hudhur).
  • Ridha yang Lebih Sempurna: Diamnya hati juga mencerminkan sikap Ridha. Hati tidak lagi protes atau mengeluh terhadap takdir Tuhan. Ia diam dalam penerimaan yang total, tenang dalam badai sekalipun. Dalam perspektif Jawa disebut 'atine wis semeleh' dan 'nrimo ing pandum'.

Perbedaan Diamnya Hati dengan Melamun

Ada perbedaan antara diamnya seseorang yang arif dengan melamun atau kekosongan mental biasa. Untuk memudahkannya, Kita bisa perhatikan tabel di bawah ini:

Karakteristik Melamun / Kosong Diam Hati (As-Samt)
Fokus Terpencar ke mana-mana. Terpusat sepenuhnya pada Tuhan.
Kesadaran Menurun (seperti setengah tidur). Sangat tajam dan waspada (Muraqabah).
Hasil Kebingungan atau lelah. Kedamaian, hikmah, dan kejernihan jiwa.

Diam Lisan penting untuk kita latih terus-menerus, namun Diam Hati memerlukan latihan dengan kesadaran yang lebih mendalam. Dan maqom diam ini perlu kita latih mulai sekarang sebagai penjaga kedamaian hidup ditengah dunia yang kian berisik.

Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Bagus
Menjadi Tenang
Menjadi Tenang
Penulis: Syakira Humaira
Merasa lelah dengan beban hidup atau sering terjebak dalam overthinking? Buku Menjadi Tenang (Sesuai Janji-Janji Allah) karya Syakira Humaira dan diterbitkan oleh Jendela hadir sebagai panduan self-healing Islami yang menenangkan jiwa. Buku ini mengajak kita melepaskan kecemasan duniawi dengan cara menyandarkan harapan sepenuhnya pada kepastian janji-janji Allah SWT yang tertuang dalam Al-Qur'an....
Melalui pendekatan spiritual yang hangat dan membumi, pembaca akan diajak belajar seni berbaik sangka (husnuzhan) pada takdir serta menemukan kembali ketenangan sejati (inner peace) yang tidak bisa dibeli dengan materi. Temukan kembali ketentraman hati dan jadikan buku ini teman setia untuk memulihkan energi batin Anda setiap hari.
Show More
Harga: Rp 55.250
Cek di Shopee