Maqom Diam atau As-Samt dalam tradisi tasawuf bukanlah hanya sekedar berhenti bicara. Tetapi sebuah disiplin spiritual yang mendalam dimana seorang penempuh jalan ruhani (sering disebut salik) melatih dirinya untuk mengendalikan lisan dan pikirannya agar bisa lebih 'mendengar' suara-suara kebenaran.
Table of Contents:
Para ulama sufi membagi diam menjadi dua kategori utama yang saling berkaitan, yaitu:
- Diamnya Lisan (Diam Eksternal): menjaga lidah dari perkataan sia-sia, ghibah atau ngrasani, adu domba, kesombongan dan ucapan-ucapan negatif lainnya. Ini tahapan awal untuk menjaga diri dari dosa-dosa lisan.
- Diamnya Hati (Diam Internal): tingkatan yang lebih tinggi dimana hati berhenti dari kebisingan duniawi, angan-angan kosong, dialog batin yang menjauhkan fokus dari Tuhan. Ketika hati kita diam, ia bisa menjadi cermin yang bening bagi cahaya ilahi.
Yang ingin saya bahas duluan disini adalah diamnya hati atau diam internal. Diamnya lisan adalah istirahat bagi manusia, sedangkan diamnya hati adalah istirahat bagi jiwa dan pintu menuju rahasia-rahasia Tuhan.
Sebagian para pejalan mungkin merasakan diamnya hati di tengah hiruk-pikuk pikiran terasa lebih menantang dibanding diamnya lisan.
1. Menghentikan Dialog Internal
Hati yang diam bukan berarti hati yang kosong, hampa atau mati. Tetapi berhentinya hati dari kebisingan duniawi dan dialog hati yang terus-menerus mengomentari, mengkhawatirkan atau menginginkan hal-hal materi.
- Angan-angan Kosong (Panjang Angan-angan atau Tulul Amal): Hati kita sering berisik dan khawatir dengan rencana-rencana masa depan yang berlebihan, ataupun penyesalan-penyesalan masa lalu. Diamnya hati berarti kita memutus rantai angan-angan dan bisa lebih hadir sepenuhnya di saat ini (diistilahkan dengan ibnul-waqt).
- Gangguan Bisikan (Khatir): Para pejalan maupun sufi berlatih menyaring lintasan pikiran yang muncul. Diamnya hati adalah kemampuan untuk tidak merespon bisikan ego (nafs) dan gangguan yang menjauhkan fokus dari Tuhan.
2. Cermin yang Bening
Hati sering dianalogikan seperti cermin. Ketika hati terus bergerak dan gelisah karena urusan dunia, maka 'si cermin' ini bagaikan permukaan air yang beriak dan tidak mampu memantulkan bayangan dengan jelas.
- Refleksi Cahaya Ilahi: Ketika hati diam, ia menjadi tenang dan bening. Dalam keadaan seperti inilah hati mampu berfungsi sebagai cermin yang menangkap cahaya ilahi dan petunjuk-petunjuk lembut yang sebelumnya tertutup oleh kebisingan emosi.
- Penyaksian (Musyahadah): Diamnya hati merupakan prasyarat untuk musyahadah.Kita tidak bisa 'melihat' keagungan Tuhan dalam batin jika hati masih saja sibuk berteriak tentang kepentingan dirinya sendiri.
3. Transformasi dari Suara ke Rasa
Di tingkatan/maqom ini, komunikasi spiritual berubah bentuk:
- Dari Kata ke Makna; Jika lisan membutuhkan kata-kata untuk berdoa, hati yang diam berkomunikasi melalui kehadiran (hudhur).
- Ridha yang Lebih Sempurna: Diamnya hati juga mencerminkan sikap Ridha. Hati tidak lagi protes atau mengeluh terhadap takdir Tuhan. Ia diam dalam penerimaan yang total, tenang dalam badai sekalipun.Dalam perspektif Jawa disebut 'atine wis semeleh' atau 'nrimo ing pandum'.
4. Perbedaan Diamnya Hati dengan Melamun
Ada perbedaan antara diamnya seseorang yang arif dengan melamun atau kekosongan mental biasa. Untuk memudahkannya, Kita bisa perhatikan tabel di bawah ini:
| Karakteristik | Melamun / Kosong | Diam Hati (As-Samt) |
|---|---|---|
| Fokus | Terpencar ke mana-mana. | Terpusat sepenuhnya pada Tuhan. |
| Kesadaran | Menurun (seperti setengah tidur). | Sangat tajam dan waspada (Muraqabah). |
| Hasil | Kebingungan atau lelah. | Kedamaian, hikmah, dan kejernihan jiwa. |
Diam Lisan penting untuk kita latih terus-menerus, namun Diam Hati memerlukan latihan dengan kesadaran yang lebih mendalam. Dan maqom diam ini perlu kita latih mulai sekarang sebagai penjaga kedamaian hidup ditengah dunia yang kian berisik.



Posting Komentar