Menguasai Waktu, Menemukan Ketenangan: Seni Menjadi Ibnul Waqt

00:00

Mungkin kamu sering saat ingin beristirahat, duduk di kursi pojok kamar yang nyaman dan sunyi, tapi isi kepalamu mendadak jadi bising luar biasa? Di kursi yang empuk itu, kamu tidak sedang beristirahat. Pikiranmu sedang melompat jauh ke masa depan; mencemaskan target bulan depan, mengkhawatirkan finansial, atau memunculkan kembali penyesalan-penyesalan masa lalu yang sudah lewat bertahun-tahun.

Sebagai sesama manusia yang hidup di era yang serba cepat ini, saya paham betul bagaimana rasanya. Karena saya pun pernah mengalaminya. Kita sering kali kelelahan bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena otak kita melakukan "kerja rodi" yang sia-sia, untuk mencoba mengendalikan hari esok yang bahkan belum tentu terjadi.

Menguasai Waktu - Menemukan Ketenangan - Seni Menjadi Ibnul Waqt - Java Harmony

Saya mengerti bagaimana rasanya dikepung oleh ekspektasi. Mungkin kamu saat ini sedang rebahan, tapi isi kepalamu sedang berlarian memikirkan hari esok. Mari kita jeda sejenak...

Dalam tradisi spiritual tasawuf klasik, ada sebuah konsep luar biasa yang bagi saya adalah salah satu obat penawar mujarab untuk fenomena overthinking ini. Konsep itu disebut Ibnul Waqt yang secara harfiah berarti "Anak Waktu".

Istilah "Ibnul Waqt" ini pernah sekilas saya singgung dalam artikel sebelumnya yang berjudul: Maqom Diam; Seni Menjaga Kedamaian di Tengah Kehidupan yang Makin Berisik

Dan di artikel ini saya mencoba membahas lebih dalam lagi mengenai Ibnul Waqt. Menjadi Ibnul Waqt bukan berarti kita hidup tanpa rencana. Ini adalah sebuah seni batin untuk menarik pulang pikiran kita yang suka keluyuran, agar bisa hadir utuh, sadar, dan tenang di satu-satunya waktu yang nyata: detik ini, di sini, sekarang.

Mengenal "Ibnul Waqt": Hidup di Langkah yang Sedang Dipijak

Secara bahasa, Ibnul Waqt artinya adalah 'Anak Waktu'. Istilah ini lahir dari rahim tasawuf untuk menggambarkan seseorang yang jiwanya tidak terpenjara oleh masa lalu (lewat penyesalan) dan tidak terombang-ambing oleh masa depan (lewat kecemasan).

Saya sering menggunakan analogi sederhana ini untuk menggambarkan prinsip tersebut: menaiki anak tangga.

Bayangkan kamu harus naik ke lantai 5 melewati 50 anak tangga. Orang yang cemas akan menginjak anak tangga ke-1 sambil terus menatap cakar langit di anak tangga ke-50. Mereka mulai stres, "Aduh, tinggi banget. Gimana kalau nanti kakiku kram di tengah jalan? Gimana kalau aku tergelincir?" Ironisnya, karena matanya tidak melihat ke bawah, mereka justru tersandung di anak tangga ke-2.

Seorang Ibnul Waqt tidak akan melakukan itu. Mereka tahu tujuan akhirnya adalah lantai 5. Namun, saat kaki mereka berpijak di anak tangga ke-1, seluruh kesadaran, energi, dan pandangan mereka tertuju pada anak tangga ke-1 itu. Setelah itu selesai, baru pikirkan anak tangga ke-2. Kamu menyelesaikan perjalanan itu "detik demi detik, langkah demi langkah" Mereka menyelesaikan perjalanan besar lewat momen-momen kecil.

Merencanakan vs. Mencemaskan: Garis Tipis yang Sering Kita Tabrak

Beban besok adalah urusan besok, tugas saya hanya menyelesaikan detik ini dengan baik.

Saat pertama kali mendengar prinsip ini, saya tahu apa yang mungkin terlintas di pikiran kamu: "Nanti dulu, kalau masa depan dipikirin besok, artinya kita gak boleh punya rencana, dong? Jadi orang pasrah aja, gitu?"

Tentu saja tidak. Menjadi Ibnul Waqt bukan berarti kamu menjadi manusia yang abai dan tidak punya persiapan. Di sini kita harus jeli melihat perbedaan besar antara 'merencanakan' dan 'mencemaskan'.

  • Merencanakan itu produktif dan dilakukan sekarang. Kalau besok pagi kamu ada rapat penting, lalu malam ini kamu menyiapkan materi dan merapikan pakaian, itu namanya merencanakan. Saat kamu menyiapkannya, pikiranmu hadir utuh di detik itu untuk bekerja.
  • Mencemaskan itu destruktif dan merusak hari ini. Pakaian sudah rapi, materi sudah siap, dan sekarang sudah jam 11 malam—waktunya kamu tidur. Tapi saat rebahan, otakmu malah berputar: "Gimana kalau besok proyektornya rusak? Gimana kalau bos mendadak bad mood?" Pikiran ini sama sekali tidak mengubah hasil besok, tapi sukses merampok jatah tidurmu malam ini.

Seorang Ibnul Waqt tahu kapan harus menaruh rencana, dan kapan harus mengunci pintu kecemasan.

"Beban Besok adalah Urusan Besok"

Kalimat ini mungkin terdengar ekstrem, tapi sebenarnya ini adalah bentuk kerendahan hati kita sebagai manusia. Kita harus sadar bahwa kita tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah hari esok pada hari ini.

Kamu tidak bisa membayar tagihan bulan depan menggunakan uang yang belum cair hari ini. Kamu juga tidak bisa menyelesaikan konflik minggu depan sekarang juga. Jadi, untuk apa beban itu dicicil dari sekarang?

Ketika kita memaksakan diri memikirkan beban besok, kita sedang terjebak dalam ilusi bahwa kita bisa mengendalikan segala hal. Ketahuilah, stres yang kita rasakan sering kali bukan karena masalah kita terlalu besar, melainkan karena kita mencoba mengontrol masa depan yang di luar jangkauan tangan kita.

Tugas kamu hanya satu: tuntaskan apa yang bisa kamu sentuh di detik ini dengan sebaik mungkin. Jika sekarang waktunya bekerja, bekerjalah dengan total. Jika sekarang waktunya beristirahat bersama keluarga, hadirlah seutuhnya di sana tanpa membawa 'gendongan' beban kantor.

Menemukan Kembali Kedamaian yang Hilang

Menguasai waktu bukan tentang bagaimana kita memampatkan 24 jam agar bisa melakukan seribu hal. Menguasai waktu adalah tentang kemampuan kita untuk menguasai pikiran sendiri agar tetap tinggal di waktu yang sedang berjalan.

Mulai hari ini, mari kita belajar untuk lebih sering "pulang" ke masa kini. Setiap kali isi kepalamu mulai berisik membisikkan ketakutan tentang hari esok, ambil napas dalam-dalam, tersenyumlah, lalu katakan pada dirimu sendiri:

"Beban besok adalah urusan besok, tugas saya hanya menyelesaikan detik ini dengan baik."

Percayalah, ketika kamu berani melepaskan beban yang bukan porsimu hari ini, hatimu akan terasa jauh lebih semeleh—dan di sanalah, ketenangan yang sejati akhirnya kamu temukan.

───❖❀0❀❖───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Rahasia Berpikir Positif
Rahasia Berpikir Positif
Penulis: Haidar Musyafa
Pikiran sering kali menjadi kompas utama yang menentukan arah hidup kita, terutama saat badai kesulitan datang menerjang...
Melalui buku Rahasia Berpikir Positif karya Haidar Musyafa yang diterbitkan oleh Syalmahat Publishing, Anda akan diajak menyelami kiat-kiat praktis untuk mengenali struktur pikiran serta memaksimalkan potensinya demi membentuk pribadi yang optimis dan berdaya. Buku setebal 212 halaman dengan cetakan bookpaper berukuran 14 x 20 cm ini hadir sebagai panduan esensial untuk membekali diri menghadapi berbagai tantangan, karena pada akhirnya, kemampuan mengelola pikiran positiflah yang menjadi fondasi utama dalam meraih kesuksesan tanpa batas baik di dunia maupun di akhirat.
Show More
Harga: Rp 44.100
Cek di Shopee