Mungkin kamu sering saat ingin beristirahat, duduk di kursi pojok kamar yang nyaman dan sunyi, tapi isi kepalamu mendadak jadi bising luar biasa? Di kursi yang empuk itu, kamu tidak sedang beristirahat. Pikiranmu sedang melompat jauh ke masa depan; mencemaskan target bulan depan, mengkhawatirkan finansial, atau memunculkan kembali penyesalan-penyesalan masa lalu yang sudah lewat bertahun-tahun.
Sebagai sesama manusia yang hidup di era yang serba cepat ini, saya paham betul bagaimana rasanya. Karena saya pun pernah mengalaminya. Kita sering kali kelelahan bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena otak kita melakukan "kerja rodi" yang sia-sia, untuk mencoba mengendalikan hari esok yang bahkan belum tentu terjadi.
Saya mengerti bagaimana rasanya dikepung oleh ekspektasi. Mungkin kamu saat ini sedang rebahan, tapi isi kepalamu sedang berlarian memikirkan hari esok. Mari kita jeda sejenak...
Table of Contents:
Dalam tradisi spiritual tasawuf klasik, ada sebuah konsep luar biasa yang bagi saya adalah salah satu obat penawar mujarab untuk fenomena overthinking ini. Konsep itu disebut Ibnul Waqt yang secara harfiah berarti "Anak Waktu".
Istilah ini pernah sekilas saya singgung dalam artikel sebelumnya yang
berjudul:
Maqom Diam; Seni Menjaga Kedamaian di Tengah Kehidupan yang Makin
Berisik
Dan di artikel ini saya mencoba membahas lebih dalam lagi
mengenai Ibnul Waqt. Menjadi Ibnul Waqt bukan berarti kita hidup tanpa
rencana. Ini adalah sebuah seni batin untuk menarik pulang pikiran kita yang
suka keluyuran, agar bisa hadir utuh, sadar, dan tenang di satu-satunya waktu
yang nyata: detik ini, di sini, sekarang.
Mengenal "Ibnul Waqt": Hidup di Langkah yang Sedang Dipijak
Secara bahasa, Ibnul Waqt artinya adalah 'Anak Waktu'. Istilah ini lahir dari rahim tasawuf untuk menggambarkan seseorang yang jiwanya tidak terpenjara oleh masa lalu (lewat penyesalan) dan tidak terombang-ambing oleh masa depan (lewat kecemasan).
Saya sering menggunakan analogi sederhana ini untuk menggambarkan prinsip tersebut: menaiki anak tangga.
Bayangkan
kamu harus naik ke lantai 5 melewati 50 anak tangga. Orang yang cemas akan
menginjak anak tangga ke-1 sambil terus menatap cakar langit di anak tangga
ke-50. Mereka mulai stres, "Aduh, tinggi banget. Gimana kalau nanti kakiku
kram di tengah jalan? Gimana kalau aku tergelincir?" Ironisnya, karena matanya
tidak melihat ke bawah, mereka justru tersandung di anak tangga ke-2.
Seorang Ibnul Waqt tidak akan melakukan itu. Mereka tahu tujuan akhirnya adalah lantai 5. Namun, saat kaki mereka berpijak di anak tangga ke-1, seluruh kesadaran, energi, dan pandangan mereka tertuju pada anak tangga ke-1 itu. Setelah itu selesai, baru pikirkan anak tangga ke-2. Kamu menyelesaikan perjalanan itu "detik demi detik, langkah demi langkah" Mereka menyelesaikan perjalanan besar lewat momen-momen kecil.
Merencanakan vs. Mencemaskan: Garis Tipis yang Sering Kita Tabrak
Beban besok adalah urusan besok, tugas saya hanya menyelesaikan detik ini dengan baik.
Saat pertama kali mendengar prinsip ini, saya tahu apa yang mungkin terlintas
di pikiran kamu: "Nanti dulu, kalau masa depan dipikirin besok, artinya kita
gak boleh punya rencana, dong? Jadi orang pasrah aja, gitu?"
Tentu
saja tidak. Menjadi Ibnul Waqt bukan berarti kamu menjadi
manusia yang abai dan tidak punya persiapan. Di sini kita harus jeli melihat
perbedaan besar antara 'merencanakan' dan 'mencemaskan'.
- Merencanakan itu produktif dan dilakukan sekarang. Kalau besok pagi kamu ada rapat penting, lalu malam ini kamu menyiapkan materi dan merapikan pakaian, itu namanya merencanakan. Saat kamu menyiapkannya, pikiranmu hadir utuh di detik itu untuk bekerja.
- Mencemaskan itu destruktif dan merusak hari ini. Pakaian sudah rapi, materi sudah siap, dan sekarang sudah jam 11 malam—waktunya kamu tidur. Tapi saat rebahan, otakmu malah berputar: "Gimana kalau besok proyektornya rusak? Gimana kalau bos mendadak bad mood?" Pikiran ini sama sekali tidak mengubah hasil besok, tapi sukses merampok jatah tidurmu malam ini.
Seorang Ibnul Waqt tahu kapan harus menaruh rencana, dan kapan harus mengunci pintu kecemasan.
"Beban Besok adalah Urusan Besok"
Kalimat ini mungkin terdengar ekstrem, tapi sebenarnya ini adalah bentuk kerendahan hati kita sebagai manusia. Kita harus sadar bahwa kita tidak punya kekuatan untuk menyelesaikan masalah hari esok pada hari ini.
Kamu tidak bisa membayar tagihan bulan depan menggunakan uang yang belum cair hari ini. Kamu juga tidak bisa menyelesaikan konflik minggu depan sekarang juga. Jadi, untuk apa beban itu dicicil dari sekarang?
Ketika kita memaksakan diri memikirkan beban besok, kita sedang terjebak dalam ilusi bahwa kita bisa mengendalikan segala hal. Ketahuilah, stres yang kita rasakan sering kali bukan karena masalah kita terlalu besar, melainkan karena kita mencoba mengontrol masa depan yang di luar jangkauan tangan kita.
Tugas kamu hanya satu: tuntaskan apa yang bisa kamu sentuh di detik ini dengan sebaik mungkin. Jika sekarang waktunya bekerja, bekerjalah dengan total. Jika sekarang waktunya beristirahat bersama keluarga, hadirlah seutuhnya di sana tanpa membawa 'gendongan' beban kantor.
Menemukan Kembali Kedamaian yang Hilang
Menguasai waktu bukan tentang bagaimana kita memampatkan 24 jam agar bisa
melakukan seribu hal. Menguasai waktu adalah tentang kemampuan kita untuk
menguasai pikiran sendiri agar tetap tinggal di waktu yang sedang berjalan.
Mulai
hari ini, mari kita belajar untuk lebih sering "pulang" ke masa kini. Setiap
kali isi kepalamu mulai berisik membisikkan ketakutan tentang hari esok, ambil
napas dalam-dalam, tersenyumlah, lalu katakan pada dirimu sendiri:
"Beban
besok adalah urusan besok, tugas saya hanya menyelesaikan detik ini dengan
baik."
Percayalah, ketika kamu berani melepaskan beban yang bukan porsimu hari ini, hatimu akan terasa jauh lebih semeleh—dan di sanalah, ketenangan yang sejati akhirnya kamu temukan.



Posting Komentar