Bagi anak-anak Jogja yang tumbuh di era 80-an, Pasar Ngasem adalah surga sekaligus tempat penuh misteri. Di sana segala jenis hewan dijual, mulai dari perkutut manggung, emprit warna-warni, sampai ular sanca. Dan di pasar itulah, saya dan sahabat kuncung saya, Gudel, mengadu nasib demi sebuah ambisi masa kecil: membeli Harmonika mainan impianku.
Alkisah hari Minggu siang itu, uang jajan kami yang pas-pasan untuk ukuran anak kampung, sedang menghadapi godaan duniawi untuk membeli Harmonika mainan di toko kelontong depan kampung yang sudah lama kami incar. Melihat mukaku yang kucel, Gudel—si anak kuncung yang otaknya selalu dipenuhi ide-ide anti-mainstream—mendadak menepuk pundakku dengan mantap.
"Rene lho, rasah bingung. Melu aku nggolek duit neng Ngasem! (Sini lho, jangan bingung. Ikut aku cari duit ke Ngasem!)" seru Gudel. Ia kemudian melanjutkan sesumbarnya, "Wis, pokoke beres. Ora sah bingung. Pengin tuku Harmonika wae direwangi bingung (Sudah, pokoknya beres. Tidak usah bingung. Ingin beli Harmonika saja kok pakai bingung).”
Operasi Penangkapan di Trotoar Jalan
Ide Gudel sebenarnya sederhana tapi nekat: cari kucing untuk dijual ke Pasar Ngasem. Titik.
Kami pun mulai berpatroli keliling kampung, berboncengan sepeda jengki protholan tanpa rem (ngeremnya pakai sandal jepit dari kaki langsung ke putaran ban). Beruntung, saat menyusuri trotoar jalan besar, kami melihat seekor anak kucing yang tampak berjalan sendirian. Entah kucing siapa atau memang kucing tersesat, yang jelas di mata Gudel, kucing kecil berbulu belang itu tidak terlihat seperti hewan peliharaan, melainkan lembaran uang kertas Rp1.000,- yang berjalan.
Tanpa babibu, kucing itu kami tangkap. Saya kebagian tugas memeluk si kucing yang mengeong-ngeong bingung, sementara Gudel mengayuh sepeda jengki bututnya sekencang mungkin menuju Pasar Ngasem. Sepanjang jalan, kami sudah senyum-senyum sendiri membayangkan Harmonika impian sudah berada di tangan sebentar lagi (ini yang oleh orang modern sekarang disebut afirmasi... ya, pokoknya semacam itulah).
Realita Kejam di Pasar Ngasem
Sesampainya di Pasar Ngasem, kami langsung menuju ke los bagian mamalia dan hewan peliharaan. Dengan percaya diri tingkat dewa, Gudel menawarkan anak kucing tangkapan kami berkeliling ke pedagang-pedagang di sana. Semua menggeleng. Jangankan tawar-menawar harga, si empus dilirik pun tidak. Tanpa dibekali ilmu marketing, hasilnya nihil.
Tak boleh menyerah, cerita hidup ini musti berlanjut. Sampai akhirnya, kaki pegal ini mengantarkan kami kepada seorang simbah yang lagi menikmati tembakau susurnya. Mulutnya kencos sana-kencos sini.
"Mbah, purun numbas kucing kula mboten, Mbah? (Mbah, mau beli kucing saya tidak, Mbah?)" tanya Gudel mulai menawarkan komoditasnya.
Namun, ekspektasi kami yang setinggi langit langsung dihempas ke bumi oleh sang pedagang. Beliau melihat kucing kami, lalu menengok ke arah kami sambil geleng-geleng kepala.
"Lha, ini kan kucing kampung biasa, Le... Ndak ada harganya. Orang-orang di sini carinya kucing anggora atau persia yang bulunya tebal!"
Setelah negosiasi yang alot dan diwarnai sedikit aksi teatrikal Gudel yang meyakinkan si pedagang kalau ini adalah "kucing kampung trah unggul", sang pedagang akhirnya kasihan juga. Kucing itu dibeli, tapi dengan harga yang sangat murah. Sangat jauh dari target untuk membeli mainan.
Dengan langkah gontai dan lesu, kami pun pulang berboncengan membawa beberapa keping uang koin. Sepanjang jalan kami kehausan, tapi tidak berani mampir beli es lilin karena takut uangnya berkurang dan tidak cukup untuk beli Harmonika. Apalagi si Gudel sudah ngos-ngosan mengayuh sepeda. Tapi, teman satu ini memang setia kawan banget.
Plot Twist di Jalan Menurun
Kesialan kami ternyata belum mencapai puncaknya.
Jogja tahun 80-an, jalanan di kampung-kampung belum semulus sekarang. Saat melewati jalanan yang agak menurun dan sepi, Gudel menggenjot sepedanya agak kencang—mungkin karena melampiaskan rasa kecewanya.
Tiba-tiba... Duk!... GROBYAK!!
Roda depan sepeda kami menghantam batu jalanan yang cukup besar. Sepeda oleng, setang tidak bisa dikendalikan, dan BYURR!! Kami berdua sukses mendarat dengan tidak estetik di dalam selokan irigasi kecil di pinggir Kali Code.
Sepeda kami rantainya putus, baju kotor, dan yang paling parah: kaki kami berdua robek, lecet, dan mulai mengucurkan darah segar.
"Investasi" yang Pas
Sambil terpincang-pincang menuntun sepeda, kami mampir ke sebuah toko kelontong kecil di dekat situ. Tokonya Mbak Sum, yang juga menjual Harmonika mainan incaran aku. Target kami berubah drastis: bukan beli mainan, tapi beli Obat Merah.
Anak zaman sekarang mungkin tidak tahu nikmatnya obat merah jadul. Itu adalah cairan antiseptik berwarna merah pekat, dikemas dalam botol kaca kecil warna hijau tua, dengan penutup yang terbuat dari kayu gabus. Untuk memakainya, kita harus mencabut gabusnya, lalu saling bantu meneteskan cairan merah itu secara bergantian, langsung ke luka terbuka. Praktek langsung P3K di depan penjualnya. Rasanya? Pedas-perih luar biasa sampai membuat mata mendelik dan senam muka!
Saat membayar, kami menghitung uang modal (uang saku dari rumah) ditambah omzet penjualan anak kucing kurus yang agak rembes tadi. Dan tebak apa? Jumlah uangnya pas hanya untuk menebus satu botol obat merah tersebut!
Hari itu kami pulang ke rumah dengan jalan yang diseret-seret. Sepanjang jalan, bukannya bawa mainan baru, kami malah sibuk pringas-pringis merintih menahan perihnya tiupan angin di atas luka yang sudah berlumuran cairan obat merah pekat. Gudel menuntun sepedanya, aku kebagian bawa rantai putus dan sebotol obat merah. Cari duit tambahan gagal total, yang didapat malah tato alami dari batu jalanan kampung di kota Jogja.


Posting Komentar