Sore itu, suasana toko buku terbesar di pusat kota Jogja sedang lumayan ramai. Niat awal saya sebenarnya cuma mau window shopping sambil numpang ngadem, tapi langkah kaki malah otomatis berhenti di depan rak berlabel Psychology & Self-Improvement. Di sana, pandangan saya berpapasan dengan seorang perempuan—sebut saja namanya Amel.
Dia berdiri tegak, tapi gesturnya menunjukkan kebingungan yang hakiki. Tangannya memegang sebuah buku bersampul mencolok, dahinya berkerut dalam, dan matanya bolak-balik menatap sinopsis di sampul belakang seolah sedang menimbang keputusan hidup yang sangat berat.
Sadar kalau sedang diperhatikan, Amel menoleh ke arah saya, melempar senyum canggung, lalu memberanikan diri menyodorkan buku tersebut. "Kak, sori nih mengganggu... tahu buku The Let Them Theory ini, nggak? Menurut Kakak, ini beneran worth it buat dibeli enggak, sih? Lagi butuh banget bacaan yang bisa bikin berhenti overthinking, nih," tanyanya dengan nada penuh harap.
Pertanyaan spontan dari Amel sore itu langsung melempar ingatan saya ke beberapa bulan lalu saat pertama kali menamatkan buku karya Mel Robbins ini. Saya tersenyum, mengambil buku tersebut dari tangannya, lalu membalik telapak tangan seolah sedang menimbang beratnya.
"Singkatnya gini, Mel," kata saya, sengaja memotong namanya biar terasa lebih akrab. "Buku ini intinya cuma membahas kekuatan dari kata ajaib: Let them. Biarkan mereka."
Amel mengernyitkan alis, tampak makin bingung. "Hah? Maksudnya kita disuruh jadi orang yang apatis dan cuek bebek gitu, Kak?"
"Nah, justru enggak," sergah saya. "Mel Robbins di sini bukan ngajarin kita buat jadi manusia mati rasa. Gini deh, saya kasih contoh yang paling sering bikin anak muda zaman sekarang kena mental. Kamu pernah enggak, ngerasa baper atau overthinking gara-gara ngelihat di update-an media sosial kalau temen-temen dekatmu lagi nongkrong, tapi kamu nggak diajak?"
*Overthinking adalah kebiasaan memikirkan suatu hal secara berlebihan, berulang-ulang, dan terlalu lama hingga memicu rasa cemas yang tidak perlu. Pola pikir ini sering kali membuat seseorang terjebak dalam skenario terburuk di dalam kepalanya tanpa menghasilkan solusi nyata.
---
Amel langsung mengangguk cepat, matanya sedikit melebar. "Sering banget, Kak! Langsung mikir-mikir semalaman, aku ada salah apa ya sama mereka? Apa mereka udah ngerasa nggak asyik lagi sama aku?"
"Nah, buku ini hadir buat momen-momen kayak gitu," lanjut saya sambil mengetuk-ngetukkan pelan jari telunjuk ke sampul buku di tangan Amel. "Mel Robbins bilang: Let them. Biarkan mereka nggak ngajak kamu. Alih-alih kamu habis bensin mental buat nyari tahu alasan mereka—yang mana itu di luar kendali kamu—kamu harus belajar merelakannya. Energi emosionalmu itu terlalu mahal buat dipakai ngemis perhatian atau validasi dari orang lain."
Saya menggeser posisi berdiri, bersandar santai pada rak buku di belakang saya.
"Di dalam buku ini, konsep Let Them itu dibongkar tipis-tipis ke berbagai situasi hidup kita sehari-hari. Mulai dari gimana cara ngadepin pacar yang egois, rekan kerja yang toksik, sampai ekspektasi orang tua yang sering bikin sesak. Robbins membagi bukunya jadi beberapa bagian praktis yang intinya menyadarkan kita: kita itu sering stres bukan karena kelakuan orang lain, tapi karena kita maksa pengen mengubah atau mengendalikan kelakuan mereka. Padahal, satu-satunya hal yang bisa kita kontrol di dunia ini cuma respons kita sendiri."
Amel terdiam sebentar, memandangi buku di tangannya dengan tatapan yang berbeda. "Wah... kok kedengarannya nampol tapi menenangkan ya, Kak?"
"Memang," sahut saya sambil terkekeh. "Dan bagian terbaiknya, buku ini nggak pakai teori psikologi yang njlimet atau bahasa akademis yang bikin ngantuk. Bahasanya blak-blakan, kayak kamu lagi diomelin sama sahabat sendiri yang tulus pengen kamu waras."
Amel tersenyum kecil, tampaknya dia mulai benar-benar kepincut dengan buku di tangannya. Tapi dasar anak muda kritis, dia tidak langsung menyerah begitu saja.
"Tapi Kak," Amel menyipitkan mata, menatap saya menyelidik. "Sebagai pembaca jujur, masa buku ini isinya cuma bagus-bagus aja? Nggak ada minusnya sama sekali? Biasanya kan buku self-improvement suka jualan ludah atau isinya teori muluk-muluk yang susah dipraktikkan."
Saya tertawa lepas. Pertanyaan Amel ini khas banget dengan tipe pembaca blog saya yang nggak gampang kemakan hype.
"Nah, ini dia rahasianya," kata saya, menurunkan volume suara sedikit agar tidak mengganggu pengunjung lain. "Kelebihan utama buku ini justru karena dia nggak jualan teori awang-awang. Mel Robbins itu tipe penulis yang pragmatis. Di setiap bab, dia selalu kasih actionable steps—langkah nyata yang bisa kamu lakuin saat itu juga. Gaya bahasanya itu jujur, tegas, tapi anehnya tetep kerasa kayak pelukan hangat. Kamu bakal merasa divalidasi, tapi di saat bersamaan ditarik keluar dari zona meratapi nasib."
"Terus, minusnya apa dong, Kak?" kejar Amel penasaran.
"Minusnya... karena buku ini dibangun dari satu premis tunggal, yaitu dua kata Let Them tadi, di beberapa bab pertengahan kamu mungkin bakal ngerasa ceritanya agak repetitif," jawab saya blak-blakan. "Mel mencoba mengupas konsep yang sama ke berbagai skenario hidup yang berbeda. Jadi buat pembaca yang kepengin dapet kejutan teori psikologi baru di setiap bab, buku ini mungkin bakal terasa sedikit berputar-putar di ide yang itu-itu saja."
Saya berhenti sejenak, memberikan waktu buat Amel mencerna penjelasan saya.
"Plus, kalau kamu tipe orang yang rajin dengerin podcast atau nonton video YouTube-nya Mel Robbins, sebagian besar isi buku ini sebenarnya sudah pernah dia bahas di internet. Jadi buat sebagian orang, sensasi 'wah'-nya mungkin agak berkurang karena merasa ini cuma versi cetak dari konten-konten gretongan dia."
Amel manggut-manggut, jempolnya mengusap pinggiran halaman buku tersebut. "Hm, masuk akal sih, Kak. Tapi buat aku yang lagi butuh pengingat konkrit dan jarang dengerin podcast-nya, kayaknya ini tetep bakal nolong banget deh."
"Nah, kalau situasimu begitu, buku ini justru bakal jadi investasi mental yang bagus banget buat kamu," pungkas saya sambil menepuk pundaknya pelan.
Amel terdiam sejenak, memandangi sampul buku itu sekali lagi sebelum akhirnya senyumnya merekah lebar.
"Oke fix, Kak! Obrolan singkat kita barusan beneran bikin aku yakin. Daripada malam ini aku lanjut overthinking meratapi nasib di kosan, mending aku investasikan waktu buat baca buku ini," ujarnya mantap sambil melangkah riang menuju antrean kasir.
Saya hanya bisa tersenyum simpul melepas kepergian Amel. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menyelamatkan seorang pembaca dari kebingungan di depan rak toko buku.
Kesimpulan Akhir: Layakkah Buku The Let Them Theory Ini Menghuni Rak Bukumu?
Bagi saya yang sudah membaca mungkin belasan buku-buku sejenis, The Let Them Theory bukan sekadar buku self-improvement musiman yang modal viral doang. Mel Robbins berhasil merangkum sebuah filosofi penerimaan hidup yang mendalam menjadi "mantra" modern yang sangat aplikatif untuk waras di tengah gempuran ekspektasi sosial.
Buku ini akan menjadi bacaan yang sangat membebaskan kalau kamu:
❖Sudah lelah terjebak dalam lingkaran setan people pleasing (cenderung ingin menyenangkan semua orang).
❖Sering makan hati mencoba mengubah tabiat orang lain yang tidak bisa diubah.
❖Butuh panduan praktis (bukan sekadar kutipan motivasi kosong) untuk mulai tega berkata "tidak".
Menyelamatkan energi mental itu mahal harganya, dan buku ini memberikan kunci pembukanya dengan harga yang sangat sepadan.
Nah, kalau kamu sendiri gimana? Siap buat mulai menerapkan prinsip "Let Them" dari sekarang, atau masih mau lanjut menikmati overthinking-nya? Boleh koq kamu obrolin di kolom komentar di bawah!


Posting Komentar