Kalau kita membuka medsos belakangan ini, isinya kalau tidak bikin mengelus dada, ya bikin pengin garuk-garuk kepala. Mulai dari harga kebutuhan pokok yang hobi banget climbing tanpa permisi, susahnya nyari kerja sampai rasanya pengin daftar jadi PNS di negri antah berantah saja, hingga drama politik yang lebih ruwet daripada kabel listrik di gang sempit. Singkatnya, negri+62 kita tercinta ini memang lagi berada dalam kondisi yang, pinjam istilah anak sekarang, sambat-able alias bawaannya pengin mengeluh terus.
Di tengah situasi yang carut-marut begini, banyak pakar di televisi sibuk berdebat menawarkan teori-teori makro-ekonomi yang njlimet. Alih-alih paham, kita yang mendengarkan malah makin pusing dan berakhir merenungi nasib di pojokan kamar.
Padahal sebenarnya, sebagai manusia yang lahir dan tumbuh di tanah Nusantara, kita tidak pernah kehabisan kompas kehidupan. Para leluhur kita sudah mewariskan cetak biru (blueprint) bertahan hidup yang sangat genius melalui kearifan lokal. Minggu ini, mari kita pinggirkan dulu teori ekonomi global yang bikin dahi berkerut itu. Kita akan belajar dari satu makhluk kecil, yang saking kecilnya sering kali berakhir jadi pakan ikan lohan, yaitu: Ikan Cethul.
Mari kita bedah bersama, bagaimana Filosofi Cethul atau falsafah ikan parit ini bisa menjadi jimat bagi kita untuk menghadapi kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja ini.
---Siapa Sih Ikan/Iwak Cethul Ini?
Bagi kamu yang masa kecilnya kurang bahagia dan tidak pernah main di selokan, iwak cethul (ada yang menyebutnya ikan impun atau guppy liar) adalah ikan kecil-kecil yang hobi berenang bergerombol di parit, sawah, atau sungai kecil. Mereka sedikit mengkilat walau tidak punya warna neon yang berkilau seperti ikan cupang aduan, juga tidak punya harga selangit seperti ikan arwana yang kalau mati bisa bikin satu keluarga berduka cita.
Cethul itu polosan, murah meriah, dan sering dianggap remeh temeh. Tapi, coba perhatikan ekosistem mereka. Cethul hidup di air parit yang kalau musim kemarau baunya aduhai, dan kalau musim hujan arusnya bisa menghanyutkan apa saja. Ajaibnya, mereka tidak pernah punah. Mereka bertahan.
Di sinilah letak magisnya. Filosofi Cethul adalah representasi murni dari wong cilik—ya kita-kita ini—yang memiliki tingkat kelenturan (resilience) luar biasa. Kita mungkin bukan golongan elit pemilik "pohon uang", tapi kita punya mentalitas sekecil cethul yang hampir mustahil ditenggelamkan oleh keadaan.
---3 Falsafah Jawa di Balik Ketangguhan si Iwak Cethul
Untuk mengimplementasikan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari di tengah situasi kehidupan yang ruwet saat ini, ada tiga falsafah Jawa kuno yang sangat klop dengan perilaku si ikan parit ini:
1. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake
Secara harfiah, artinya "menyerang tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan."
Coba lihat ikan cethul. Mereka tidak punya senjata, tidak punya taring, dan tidak punya backing-an ikan hiu. Kalau mereka bertahan hidup, itu karena mereka mandiri dan tahu cara memanfaatkan celah terkecil di antara batu kali untuk bersembunyi dari arus deras.
Hari-hari ini, hidup di situasi tidak menentu, menuntut kita untuk punya mentalitas ini. Di era di mana "orang dalam" dan koneksi dinasti terkesan menguasai segalanya, kita yang tidak punya privilese itu tidak perlu berkecil hati sampai mogok bernafas. Filosofi cethul mengajarkan kita untuk memperkuat kapasitas diri sendiri secara mandiri. Kita bertarung dengan 'kahanan' secara elegan.
Saat ekonomi sulit, kita memenangkan pertarungan bukan dengan cara menjatuhkan bisnis tetangga atau menyebar hoax, melainkan dengan menaikkan kualitas diri kita sendiri. Menang tanpa harus membuat orang lain merasa kalah atau terhina. Itu baru keren, bukan cuma menang karena menang "orang dalam."
2. Alon-Alon Waton Kelakon
Falsafah ini sering banget disalahpahami sebagai sikap malas, lamban, dan tidak punya etos kerja. "Halah, pantesan nggak maju-maju, prinsipnya aja alon-alon (lamban)." Padahal, makna aslinya jauh lebih dalam dari sekadar kecepatan gerak. Alon-alon waton kelakon itu bicara tentang kehati-hatian, kecermatan, dan manajemen risiko.
Ikan cethul kalau berenang di air keruh itu tidak pernah asal tabrak. Mereka bergerak taktis, membaca riak air, dan tahu kapan harus diam di balik lumut.
Di tengah kondisi Indonesia yang, kata sebagian kelas menengah 'makin mantab (makan tabungan)', godaan untuk mengambil jalan pintas itu besar banget. Di media sosial, kita dibombardir iklan judi online yang kedoknya gim seru, pinjol ilegal yang syaratnya cuma modal KTP tapi bunganya mencekik leher, sampai investasi bodong yang menjanjikan kaya raya dalam waktu semalam tanpa ngapa-ngapain.
Nah, di sinilah prinsip alon-alon waton kelakon bertindak sebagai rem darurat. Kita diingatkan untuk tetap berkepala dingin. Biar langkah finansial atau karier kita kecil dan pelan, yang penting jalurnya aman dan berkah. Daripada ngebut demi kelihatan sukses di Instagram, tapi besoknya rumah disatroni debt collector. Kan berabe....naudzubillah tsumma naudzubillah.
3. Urip Iku Urub
Arti dari falsafah ini sangat indah: "Hidup itu adalah cahaya." Artinya, hidup kita baru dianggap benar-benar hidup kalau bisa memberikan manfaat atau cahaya bagi lingkungan sekitar, sekecil apa pun itu.
Ikan cethul itu posisinya di paling bawah dalam kasta perikanan. Tapi tahu tidak? Tanpa adanya cethul di parit-parit desa, populasi jentik nyamuk demam berdarah bakal meledak. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang menjaga keseimbangan ekosistem mikro di sekitar lingkungan kita.
Melihat berita di televisi atau media sosial kadang bikin kita frustrasi dan pengin bersikap apatis. "Ah, negaranya aja rusak dari atas, ngapain saya repot-repot jadi orang baik?" Pikiran seperti ini sangat manusiawi, tapi kalau kita semua berpikiran begitu, ambyar.
Filosofi cethul mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu menunggu jadi presiden, menteri, atau influencer dengan jutaan pengikut untuk bisa berbuat baik. Jadilah "nyala" kecil di lingkunganmu sendiri. Kalau melihat tetangga kesusahan karena beras mahal, bagi sedikit rezeki. Kalau melihat banyak hoaks bertebaran yang bikin suasana makin panas, jangan ikut menyebarkannya—cukup putus di kita. Menjadi ruang yang adem di tengah lingkungan yang lagi gerah adalah wujud nyata dari urip iku urub.
---Rayakan Mentalitas Cethul-mu!
Menjadi masyarakat akar rumput di Indonesia saat ini memang membutuhkan stok kesabaran yang setara dengan luasnya Sahara. Namun, sejarah sudah membuktikan bahwa bangsa ini diselamatkan bukan oleh keputusan-keputusan elite yang sering kali absurd, melainkan oleh daya tahan masyarakat bawahnya yang tidak pernah kehabisan akal untuk bertahan hidup.
Kita adalah cethul-cethul itu. Kita fleksibel, kita kuat, dan kita punya solidaritas kelompok yang tinggi. Air di sekitar kita mungkin sedang keruh dan berarus deras, tapi selama kita tidak kehilangan kompas moral falsafah leluhur, kita tidak akan pernah hanyut.
Jadi, untuk kamu yang hari ini sedang lelah dengan keadaan, tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan perlahan. Tetaplah berenang, tetaplah taktis, dan jangan lupa untuk saling menjaga sesama cethul di kanan-kiri Anda. Karena pada akhirnya, air yang keruh pasti akan surut, dan kita akan tetap ada di sana, hidup dan merdeka!
Bagaimana denganmu? Apakah kamu sudah siap menerapkan protokol Cethul dalam menghadapi drama kehidupan minggu ini? Silahkan kalau mau sambat sekaligus diskusi di kolom komentar!

Posting Komentar