Ada masa di mana usia kepala tiga bayangannya adalah sebuah garis finis yang megah. Waktu masih umur dua puluh satu misalnya, dengan sisa-sisa idealisme mahasiswa yang menyala-nyala, kita gemar sekali menggambar cetak biru masa depan yang rapi. Hidup dikurung dalam lembar kerja tabel dan timeline hidup yang presisi: umur 25 lulus S2 atau punya karier yang mapan, umur 27 menikah di ballroom yang estetik penuh sesak dansa-dansi tamu undangan, umur 30 sudah punya rumah dengan halaman belakang yang cukup luas bagi para toddler yang rusuh berlarian dan menanam hidroponik. Kita memperlakukan masa depan seperti memesan barang di toko online; bayar dengan kerja keras, lalu tinggal tunggu kurir paketnya datang sesuai estimasi waktu.