Pernah lihat gerombolan ikan cethul di selokan atau pinggir sawah? Kalau kamu
lempar sebutir remah biskuit ke sisi kanan, wusss... semua cethul bakal
berenang heboh ke kanan. Detik berikutnya kamu lempar kerikil ke sisi kiri,
wusss... semuanya balik badan dan lari berenang
tunggang-langgang ke kiri. Mereka enggak tahu di kanan ada makanan beneran atau
di kiri cuma ada batu iseng. Yang penting ikut lari dulu, biar tidak
ketinggalan rombongan.
Lucu, ya? Tapi sadar nggak sih, kelakuan kita di media sosial belakangan
ini tuh "Nyethul banget".
Sekarang ada istilah kerennya: FOMO (Fear of Missing Out),
alias ketakutan setengah mati kalau sampai ketinggalan tren.
"Ela-elu" dan "Angon Grubyuk": Sengsara Demi Validasi
Lihat orang antre ruko kue sus yang lagi viral sampai mengular ke jalanan, kita ikut antre 2 jam sambil kaki gempor, padahal setelah digigit rasanya ya kayak kue sus biasa. Ada konser band luar negeri seharga satu bulan gaji, kita bela-belain war tiket pakai pinjol, padahal lagu yang dihafal cuma satu yang sering lewat di fyp TikTok.
Unen-unen (istilah) Jawa, kelakuan FOMO ini pas banget digambarkan dengan sindiran: "ela-elu" dan "angon grubyuk". Ela-elu (dari kata melu-melu; ikut-ikutan) adalah gambaran bagi orang-orang yang hobi sekadar ikut-ikutan. Boro-boro mengetahui esensinya, tahu manfaatnya apa, juga enggak ngeh. Sing penting melu ngono wae, esensi dan manfaatnya apa ya mbuh ora weruh.
Satu lagi istilah Jawa yang pas untuk menggambarkan fenomena FOMO ini adalah;"angon grubyuk", orang-orang lari ke utara, ikutan-ikutan lari ke utara. Lihat orang-orang bergerombolan lari ke selatan, ikut lari ke selatan. Main sradak-sruduk. Kalau ditanya kenapa ikut "grubyak-grubyuk", ya enggak tahu, yang penting tidak ketinggalan rombongan.
Kita sibuk berburu validasi (pengakuan dari orang lain) biar bisa bikin Story dengan takrir "Akhirnya nyobain juga!". Kita takut dibilang kuper atau kurang kekinian. Padahal, demi memuaskan rasa takut itu, ada dompet yang jebol, waktu yang habis, dan ketenangan pikiran yang dikorbankan. Kita kehilangan kemerdekaan diri hanya demi menjadi replika dari orang lain.
Obat FOMO dari Yunani dan Tanah Jawa
Kalau kita mau sedikit melipir dari riak air selokan yang berisik, dua kiblat kebijaksanaan dari tempat dan zaman yang berbeda ternyata punya obat yang sama manjurnya buat penyakit FOMO ini.
Dari tanah Yunani Kuno, kaum Stoik (Stoikisme) punya konsep jitu bernama Dikotomi Kendali. Menurut Epictetus, hal di dunia ini cuma dibagi dua: yang bisa kita kendalikan (pikiran, prinsip, tindakan kita) dan yang di luar kendali kita (opini orang, tren global, apa yang viral).
Orang FOMO itu stres karena menggantungkan kebahagiaannya pada hal di luar kendali. "Kalau aku nggak beli sepatu yang lagi tren ini, nanti temen-temen tongkrongan mikir apa ya?" Lah, isi kepala temen nongkrong kan di luar kendali kita. Ngapain pusing? Stoikisme mengajarkan kita buat cuek pada riak di luar dan fokus pada ketenangan di dalam.
Nasihat ini klop banget sama wejangan Jawa yang legendaris: "Aja gumunan, aja kagetan." (Jangan mudah heran/takjub, jangan gampang terkejut).
Orang Jawa yang punya rasa mendalam, tidak akan langsung silau begitu melihat ada hal-hal baru yang lagi heboh. Mereka bakal menggagas dulu, mikir pake kepala dingin: "Iki beneran butuh, apa mung melu tren?". Ketika kita enggak gampang gumunan, kita tidak akan bakal gampang disetir oleh keadaan. Kita bisa menjadi pawang buat diri kita sendiri.
Kita kehilangan kemerdekaan diri hanya demi menjadi replika dari orang lain.
Menjadi Cethul yang Bijak
Tidak ada salahnya ikut tren, tapi kalau hidup kita habis cuma buat mengejar bayangan orang lain, capeknya dapet, bahagianya semu.Ikan cethul itu bentuknya kecil, tapi kalau mereka berenang tenang di bawah daun semanggi air (Marsilea crenata), mereka aman dari sergapan burung bangau. Sebaliknya, cethul yang hobi konvoi heboh ngikutin riak air justru yang paling gampang diciduk pakai saringan.
Jadi, pilihan ada di tangan kita. Mau tetep jadi "Cethul FOMO" yang capek bolak-balik ngikutin lemparan batu netizen, atau jadi manusia merdeka yang sumeleh, yang tahu kapan harus ikut arus dan kapan harus santai di tepi selokan kehidupan sambil ngopi?☕
Posting Komentar