Bagian 1: Di Depan Laboratorium
Bangunan itu berdiri dengan angkuh di bagian utara kota Jogja, menolak sepenuhnya tunduk pada laju zaman. Sejak diresmikan pada tahun 1922 dengan nama pertama kalinya: Rumah Sakit Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders, dinding-dinding tebalnya telah menjadi saksi bisu bagi ribuan mata yang berharap menemukan cahaya. Rumah sakit khusus mata dengan arsitektur kolonialnya bukan sekadar batu bata dan semen; ia adalah napas berat dari sejarah, sebuah ruang yang menyimpan gema dari masa satu abad yang telah lewat.
Audio artikel tersedia: Disarankan menggunakan headset.
Pada medio tahun 2017, istriku baru saja melewati operasi mata di sore hari. Sepanjang jam-jam setelahnya, aku berjaga di samping ranjangnya, menanti efek bius total itu perlahan luntur dari kesadarannya. Keheningan kamar rawat terasa begitu pekat, hanya diselingi napasnya yang teratur dan detak jam dinding yang terdengar sangat keras di telingaku.
Pukul dua dini hari. Kelelahan yang menyesakkan dada memaksaku untuk mencari ruang bernapas. Aku mencium keningnya perlahan—ia masih terlelap, terombang-ambing di antara sisa obat bius dan kelelahan pasca-operasi—lalu beranjak keluar.
Koridor rumah sakit itu tampak berbeda di malam hari. Cahaya lampu lorong yang redup menciptakan bayang-bayang panjang yang menggeliat di dinding, seolah tembok-tembok kolonial ini memiliki detak jantungnya sendiri. Tidak ada suara langkah perawat, tidak ada desah mesin medis. Hanya ada kesunyian yang tebal, sebuah keheningan yang terasa tidak wajar, seolah rumah sakit ini sedang menahan napas.
Aku melangkah menjauh dari bangsal rawat inap, menyusuri selasar demi selasar yang memanjang. Langkah kakiku terasa asing, memantul di ubin tua dengan ritme yang lambat. Aku akhirnya berhenti tepat di luar bangunan laboratorium.
Di titik ini, kompleks rumah sakit tampak banyak sudut-sudut yang gelap, ada satu area di depanku yang masih menyisakan nyala lampu temaram. Di sanalah aku memutuskan untuk duduk. Selasar terbuka ini menghadap langsung ke arah barisan tanaman. Hujan turun dengan irama yang konstan—tak deras sejak sore tadi, namun cukup untuk membuat udara di sekelilingku menjadi dingin dan lembap. Aku menatap dedaunan di seberang lorong yang kuyup diguyur hujan, membiarkan aroma tanah basah—bau petrichor yang tajam dan purba—memenuhi paru-paruku.
Aku duduk sendirian. Menikmati dingin yang mulai menusuk pori-pori, di bawah pendar lampu kuning yang samar, dikelilingi oleh sunyi yang begitu absolut. Di sanalah, di tengah hujan yang enggan berhenti, waktu seolah kehilangan maknanya.
Bagian 2: Perjumpaan di Ujung Lorong
Di tengah rintik yang jatuh membasahi tanaman di seberang, pendengaranku menangkap sesuatu yang asing. Bukan suara angin, bukan pula tetesan air dari talang. Itu adalah derit logam—ritme repetitif dari roda troli peralatan medis yang beradu dengan ubin tua berbentuk kotak yang lebar-lebar dengan motif yang sudah lama memudar. Suaranya samar, namun di tengah kesunyian dini hari, derit itu terdengar begitu jelas, seolah sedang membelah keheningan yang tebal.
Aku menoleh ke arah ujung lorong, ke tempat di mana cahaya lampu koridor mulai meredup ditelan kegelapan.
Dari sana, sosok itu muncul. Seorang pria dengan perawakan sedang, berjalan dengan langkah yang tertata, mendorong troli medis kecil di depannya. Rambutnya rapi, dipotong sedikit cepak, khas pria dari generasinya. Saat dia semakin mendekat ke arah area laboratorium tempatku duduk, cahaya lampu temaram menyingkap garis-garis wajahnya yang tegas—sebuah raut keturunan Tionghoa yang sarat akan ketenangan.
Dia tidak berjalan dengan gaya seorang kakek yang ringkih, meski usianya mungkin sudah melewati setengah abad. Punggungnya agak membungkuk, namun aku tahu itu bukan karena usia. Bahunya merosot ke depan seolah ada beban yang tak kasat mata—sebuah tanggung jawab yang begitu berat yang ia pikul di pundaknya, mungkin beban dari rumah sakit ini sendiri. Ia tampak seperti seorang abdi yang sedang menyelesaikan tugas terakhirnya sebelum fajar tiba.
Saat jarak kami hanya tersisa beberapa langkah, ia melintas tepat di depanku. Entah mengapa, instingku sebagai orang Jawa muncul secara alami. Tanpa berpikir panjang, aku mengangguk pelan padanya sebagai tanda hormat—sebuah gestur pengakuan kepada sesama manusia yang berpapasan di jam yang tidak lazim.
Pria itu berhenti sejenak. Ia menoleh, menatapku dengan sorot mata yang teduh namun lelah. Tidak ada raut terkejut, tidak ada aura yang mengancam. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis, sebuah gestur manusiawi yang terasa begitu hangat sekaligus getir. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya membalas anggukanku, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Troli itu kembali berderit, menjauh perlahan, hingga akhirnya sosoknya perlahan memudar, ditelan oleh bayang-bayang gelap di ujung lorong. Hening kembali merajai malam. Hanya tersisa aroma antiseptik yang samar bercampur dengan bau hujan, seolah ia baru saja lewat dan meninggalkan jejak energi yang perlahan menguap ke udara. Aku terduduk diam, jantungku berdetak dengan ritme yang sedikit lebih cepat dari biasanya, namun pikiranku justru terasa jernih, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang sangat sakral.
Bagian 3: Relik di Balik Pintu Tua
Matahari Jogja esok harinya menyiram rumah sakit dengan cahaya yang terik, seolah berusaha menghapus sisa-sisa misteri yang tertinggal di lorong-lorong semalam. Rutinitas kembali mengambil alih; dokter dan perawat lalu-lalang, bau antiseptik menguat, dan detak jam dinding kembali menjadi pengingat waktu yang fana. Istriku telah melewati masa kritisnya, namun ia masih harus menjalani pemulihan. Siang itu, saat ia terlelap dalam pengaruh obat yang tersisa, aku merasa ruang rawat inap menjadi terlalu sempit untuk pikiranku yang masih dihantui oleh sosok di depan laboratorium semalam.
Aku memutuskan untuk keluar, sekadar mencari angin. Langkahku membawaku menjauh dari bangsal utama, menyusuri jalan setapak yang kini terasa berbeda di bawah cahaya matahari. Aku berjalan tanpa tujuan, membiarkan kaki membawaku melintasi sisi kompleks yang lebih sunyi.
Di sebuah sudut yang agak tersembunyi, di antara rimbunnya pohon-pohon tua yang daunnya menari tertiup angin, mataku menangkap sebuah bangunan yang mencuri perhatian. Berbeda dengan bangsal-bangsal tambahan yang lebih modern yang sedang dibangun di sisi lain, bangunan ini tampak kokoh dengan gaya arsitektur yang jujur, seolah membeku di masa lalu.
Aku mendorong pintu kayu yang sedikit berat, lalu melangkah masuk.
Seketika, keriuhan dunia luar lenyap. Yang menyambutku bukan lagi aroma obat-obatan, melainkan aroma kertas tua yang menguning, butiran-butiran debu yang sangat lembut melayang perlahan di bawah berkas cahaya matahari yang menerobos kisi-kisi jendela, dan keheningan yang memiliki kedalaman. Ini adalah perpustakaan sekaligus museum pribadi milik sang pendiri rumah sakit.
Di rak-rak kayu yang masih kokoh, berderet buku-buku medis dengan ejaan lama—sebagian besar dalam bahasa Belanda dan Inggris. Aku merasa seolah baru saja menyeberangi ambang pintu waktu.
Seorang petugas cleaning service yang tengah mengepel lantai di sudut ruangan menoleh padaku. Ia tersenyum ramah, seolah terbiasa dengan pengunjung yang tidak sengaja tersesat ke sini.
"Ini perpustakaan pribadi pendiri rumah sakit ini, Pak," ucapnya pelan, suaranya terdengar seperti bisikan di tengah ruangan yang megah namun sunyi itu. "Dari cerita turun-temurun, dulu beliau dan putranya sering menghabiskan waktu di sini, membaca dan berdiskusi. Di ruangan ini jugalah, banyak keputusan penting mengenai rumah sakit ini dibuat."
Ia menunjuk ke dinding di seberang, tempat deretan lukisan foto dipajang. "Itu lukisan sang pendiri, dan di sisi lain itu lukisan potret keluarga beliau."
Aku mengangguk, namun langkah kakiku terasa berat saat aku mulai mendekat ke arah dinding tersebut. Ruangan itu mendadak terasa dingin, bukan karena suhu, melainkan karena kehadiran sejarah yang seolah menatapku kembali. Aku belum menyadari, bahwa beberapa langkah ke depan, perjalananku menuju jawaban akan segera dimulai.
Bagian 4: Tatapan dari Balik Bingkai
Aku mendekat ke dinding utama. Di sana, terpajang sebuah lukisan potret besar dengan guratan tangan yang begitu berwibawa—karya maestro Henk Ngantung. Lukisan dengan tanda tangan si pelukis dan bertanggal 30 Mei 1948 itu menampilkan sang pendiri rumah sakit dengan tatapan tajam, memancarkan aura pionir yang keras kepala namun visioner. Aku terdiam sejenak, memberikan penghormatan pada sosok yang meletakkan batu pertama di tempat ini hampir seabad lalu.
Namun, langkahku terhenti saat aku bergeser ke sisi lain ruangan. Di sana berjajar deretan lukisan potret diri anggota keluarga, sebuah seri karya pelukis potret bernama Wahyu.
Mataku tertuju pada satu potret.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Aku mematung, menatap goresan pensil charcoal yang membentuk wajah itu. Rambut cepak, raut wajah Tionghoa yang tegas, dan yang paling menyesakkan adalah guratan lelah di sudut matanya—sosok yang sama persis dengan pria yang melintas di depanku semalam. Pria yang dengan punggung merosot seolah memikul beban dunia, pria yang membalas anggukanku dengan senyum tipis di depan laboratorium.
Dia adalah sang pewaris, putra yang mengelola rumah sakit ini setelah ayahnya pindah ke negri Belanda tahun 1949 dan wafat di Den Haag pada tanggal 28 November 1952.
Di tengah keheningan perpustakaan itu, bayang-bayang masa lalu seolah menyeruak keluar dari bingkai. Pikiranku melayang pada desas-desus yang pernah kubahas bersama kakakku jauh setelah peristiwa itu berlalu. Riwayat hidup pria dalam lukisan ini adalah sebuah tragedi yang tak pernah benar-benar disuarakan dengan lantang. Konon, hidupnya berakhir di salah satu ruangan di rumah sakit ini, sebuah kematian sunyi yang dibalut misteri.
Ada bisik-bisik yang menyebut tentang masalah keluarga yang tak terurai, namun di sudut lain, terdengar pula desas-desus yang lebih gelap dan liar yang dikait-kaitkan dengan gejolak politik 1965, tentang tuduhan yang mungkin memaksanya untuk memilih jalan paling tragis, atau memang sengaja dibunuh dengan racun? Apakah ia benar-benar mengakhiri hidupnya sendiri, ataukah sejarah sengaja mengubur kebenaran di balik pintu kamar kerja itu?
Aku menatap kembali lukisan itu. Goresan tangan sang pelukis di tahun 1998 itu seolah menangkap sesuatu yang melampaui fisik—sebuah kesedihan yang abadi. Tidak ada jawaban pasti atas kematiannya. Yang tersisa hanyalah wasiat terakhirnya, di mana ia menyerahkan seluruh pengabdian, museum, dan rumah sakit ini kepada yayasan, seolah ingin memastikan bahwa meski ia harus pergi dengan cara yang paling pedih, ia telah menitipkan "sang anak" yaitu rumah sakit yang ia cintai ke tangan yang aman.
Aku menarik napas panjang. Di ruangan penuh buku tua ini dan peralatan medis antik koleksi musium, aku akhirnya memahami bahwa resonansi yang kutemui semalam bukan sekadar bayangan. Itu adalah manifestasi dari sebuah tanggung jawab yang terlalu besar, sebuah duka yang tak sempat terucap, dan pengabdian yang menolak untuk mati meskipun sejarah telah berusaha menghapusnya dengan tragedi.
Bagian 5: Melepaskan Beban, Menjaga Ingatan
Aku menutup pintu perpustakaan itu perlahan, seolah sedang menutup sebuah bab dalam buku yang tak pernah kuceritakan pada siapa pun—bahkan pada istriku. Saat melangkah keluar, kompleks rumah sakit yang tadinya terasa sedikit mencekam bagiku, kini tampak berbeda. Di bawah sinar matahari siang yang cerah, tembok-tembok kolonial itu tidak lagi terlihat seperti saksi bisu yang angker. Ia kini tampak seperti sosok tua yang lelah, yang telah melihat terlalu banyak sejarah dan menanggung terlalu banyak rahasia.
Tidak ada rasa takut yang tersisa. Yang ada hanyalah rasa haru dan hormat yang mendalam.
Kematian memang sering kali menyisakan tanda tanya. Desas-desus tidak berdasar yang mengaitkan dengan pergolakan politik era itu, atau beban problem keluarga yang tak tertanggungkan, hingga pilihan tragis di kamar kerja itu—semua itu adalah bagian dari fragmen sejarah yang retak. Namun, melihat pria itu kembali "bekerja" di sela-sela waktu, aku sadar bahwa bagi sebagian orang, pengabdian bukanlah sesuatu yang berhenti saat jantung berhenti berdetak. Ia adalah sebuah habitus, sebuah identitas yang terlalu dalam untuk dilepaskan begitu saja.
Pelajaran berharga bahwa dalam hidup yang fana ini, apa yang kita berikan dengan ketulusan—akan tetap hidup, meski raga telah lama tiada.
Mungkin ia memang tidak pernah benar-benar pergi. Mungkin, ia adalah manifestasi dari dedikasi yang paling murni; sosok yang, bahkan setelah hidupnya berakhir dengan cara yang paling pedih, masih memilih untuk tetap hadir memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang layak. Ia bukan sosok yang menakut-nakuti, melainkan resonansi dari janji tulus yang ia buat seumur hidupnya—janji untuk merawat, janji untuk mengabdi.
Sejak hari itu, rumah sakit ini bagiku bukan sekadar bangunan untuk menyembuhkan mata. Ia adalah tempat di mana manusia belajar tentang artinya memberi. Bahwa harta bisa diwariskan ke yayasan, bangunan bisa diserahkan ke pemerintah, namun kecintaan pada profesi adalah sesuatu yang sering kali terbawa sampai ke ambang batas dimensi.
Aku menoleh sekali lagi ke arah laboratorium sebelum kami meninggalkan rumah sakit itu untuk pulang. Tak ada lagi troli obat yang berderit. Tak ada lagi sosok bungkuk yang memikul beban dunia. Hanya ada keheningan yang damai.
Di dalam hati, aku berbisik pelan, sebuah salam perpisahan yang tulus bagi seorang abdi yang tak pernah benar-benar pamit dari posnya: "Terima kasih, Dokter... Tugas Anda sudah selesai. Sekarang, istirahatlah dengan tenang."
Kini, setiap kali aku lewat depan rumah sakit itu, aku selalu teringat pada malam hujan 9 tahun silam. Tentang seorang pria berdedikasi, sebuah troli medis, dan pelajaran berharga bahwa dalam hidup yang fana ini, apa yang kita berikan dengan ketulusan—akan tetap hidup, meski raga telah lama tiada.

Posting Komentar