Memelihara dan bermain dengan burung merpati (ada yang menyebut burung dara) sudah menjadi hal umum di kalangan anak-anak era 80-an. Begitu juga di kampungku, teman-temanku bisa memiliki beberapa pasang burung merpati, bahkan ada yang memiliki sampai belasan pasang. Aku sendiri? Tidak memiliki satu ekor pun, karena orang tuaku tidak mau membelikannya.
Males baca teks panjang? Dengerin versi audionya atau scroll ke bawah artikel ini untuk versi videonya. 🎧
Hampir tiap pulang sekolah aku main di rumah teman-temanku, sekadar ikut merasakan asyiknya bermain burung merpati. Tapi karena hanya aku yang tidak punya merpati, jadilah diriku seorang anak bawang. Tugasku disuruh-suruh 'nggabur dara'. Apa itu 'nggabur dara'? Yaitu membawa beberapa ekor merpati jantan milik teman-temanku dalam sebuah sangkar bambu dan berjalan menuju areal persawahan yang cukup jauh dari kampungku—setidaknya bagi langkah kaki kecilku kala itu.
Tukang 'Nggabur Dara' dan Kasta Terendah
Setelah sampai areal persawahan, merpati-merpati itu aku keluarkan satu per satu, dilempar ke atas, dan mereka pun segera terbang melesat pulang ke kandangnya (yang sering disebut gupon). Biasanya, ketika aku pulang kembali ke rumah temanku, merpati-merpati itu sudah sampai duluan, bertengger manis di atas atap atau hinggap di atas gupon.
Sebagai 'toekang nggabur dara', tentu saja aku sering bolak-balik dari rumah teman ke areal persawahan, bisa sampai lebih dari 5 kali. Capek?...Tentu saja. Sedih? Lha iya lah! Selama aku belum memiliki burung merpati sendiri, aku tetap akan menempati kasta terendah dalam sirkel pemain burung merpati. Belum lagi kalau ada merpati yang relatif baru dan belum kenal lingkungan, sering terbangnya nyasar kemana-mana sampai ke kampung lain. Dan akulah pihak yang patut dipersalahkan, lalu disuruh ikut mencarinya. Double capek tentunya.
Petuah Emas Mahasiswa Kost
Sampai pada suatu hari, ketika sedang menjalankan 'tugas suciku', aku melewati beberapa tempat kost. Ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk-duduk di depan rumah kost-kost-san. Salah seorang dari mereka menegurku, "Mau kemana Dik?"
"Nggabur dara," jawabku.
Dengan tertawa mereka bilang, "Mending digoreng aja... enak lho. Ketimbang kamu capek bolak-balik cuman disuruh nggabur dara?" Aku tidak memperdulikan omongan mereka dan terus berlalu.
Sesampainya di areal persawahan, seperti biasa, aku lepas satu per satu merpati yang aku bawa. Tinggal seekor saja yang 'sepertinya' tidak mau dikeluarkan dari kurungan. Dia menatapku dan aku menatap matanya. Kami saling diam, sementara pikiranku sibuk mengingat 'petuah emas' dari mas-mas mahasiswa tadi. Dan senyum cerahku pun mengembang, sementara si merpati terakhir itu sibuk 'kelabakan' di kurungan, seolah tahu jalan logikaku.
Misteri Merpati Goreng
Ketika aku pulang ke tempat teman-temanku, aku sempatkan 'sekedar mampir' ke rumah. Seekor merpati malang yang tersisa (emang sengaja aku sisain sih) berpindah tempat dari kurungan ke dalam besek. Aku bilang ke Ibu kalau itu merpati sakit pemberian teman, disuruh menyembelih dan digoreng pakai bumbu bawang-uyah. Dibumbuin pakai bawang putih dan garam, kasih air dan daging merpati direndam dulu dalam bumbu itu sebelum digoreng. Selesai mengajukan request ke Ibu, segera aku bergegas ke rumah teman untuk gabung lagi bermain merpati.
Hari menjelang sore, aku pamit. Aku tinggalkan teman-temanku yang masih setia menunggu karena ada satu ekor merpatinya yang belum pulang. Melihat wajah cemas mereka, rasanya aku pingin ketawa. Tapi harus kutahan, rahasia negara tidak boleh bocor.
Sampai di rumah, burung dara goreng yang garing dan renyah sudah nangkring di meja makan, tergeletak santai di atas piring blek. Kriuknya... renyahnya... gurihnya, inilah pertama kalinya aku menyantap burung dara goreng yang konon kalau beli di lesehan Malioboro, harganya bisa selangit. Dipadu-padankan sambel kecap buatan ibuku, sungguh lauk-pauk yang serasi. Dan 'terpaksaaaa sekali' aku nambah nasi sampai dua kali, seolah ingin memperpanjang momen ter-absurd dalam hidupku!
Dewi Fortuna dan Dekrit Ibu
Sayangnya, kejadian itu tidak hanya terjadi sekali saja. Ada sekuel lanjutannya seperti episode sinetron yang nggak pernah rampung. Aku makin rajin kalau disuruh 'nggabur dara'. Kalau teman-temanku kayak orang linglung mencari merpatinya yang tak kunjung kembali, akupun sibuk clingak-clinguk ikut mencari dengan memasang wajah prihatin. Harusnya aku pantas meraih Oscar untuk aktingku.
Tapi beda dengan naluri Ibuku. Kebohonganku sebagai bocil yang tak lagi polos setelah ternoda ide 'brilian' mas-mas mahasiswa indekost, dengan mudah terbaca olehnya. Bo'ongnya template banget: bawa pulang 'merpati sakit' dan minta digorengkan.
Namun, Ibuku adalah wanita yang bijak. Beliau tidak menginterogasiku dengan bawa rotan. Ibu hanya melarangku ikut bermain burung merpati lagi, disuruh main bola saja di lapangan bersama anak-anak kampung sebelah. Atau bermain layangan sendirian di sawah. Pokoknya tidak boleh lagi bawa pulang burung merpati. Titik.
Sejak dekrit ibu hari itu, dunia perburung-merpatian di kampungku kembali tenang. Buat teman masa kecilku yang mampir dan membaca ini, aku hanya bisa mengucapkan: "SELAMAT!! Kalian telah berhasil membuka kotak pandora dan mengungkap misteri hilangnya merpati-merpati kalian". Benar apa yang tertulis dalam judul film karya Wim Umboh "Merpati Tak Pernah Ingkar Janji", dan benar juga kalau aku ini bukan seekor merpati yang terikat pada judul film itu... hehehe.



Posting Komentar