Aroma minyak goreng panas dan tempe mendoan hampir matang, beradu dengan kepulan asap kopi tubruk di warung Bu Benu sore itu. Angin Senin sore di gang Joyonegaran berembus agak malas, membawa lari sisa-sisa hawa gerah perkotaan. Di sudut bangku panjang, Kang Parman, tukang becak langganan kampung, terlihat sedang menekur. Tangannya memegang sepotong kardus bekas bungkus rokok dan ujung pensil yang sudah agak tumpul. Dahinya berkerut-kerut seperti jemuran belum disetrika, sibuk mencoret-coret angka yang tampaknya enggan berkompromi dengan dompetnya.
Suasana syahdu itu mendadak buyar ketika Bobon, mahasiswa semester tua yang tasnya selalu penuh buku teori, datang sambil menaruh laptopnya di meja dengan gaya perlente. Tingkahnya emang agak sedikit pecicilan, bawaan orok.
"Piye Bro? Ketoke koq mumet banget, koyo mikir negara wae," seloroh Bobon sambil memesan es teh pertanda dompetnya sendiri sebenarnya lagi kritis.
Kang Parman mendengus, melempar pensilnya ke meja. "Iki lho, Bon. Minggu ngarep wis riyoyo kurban. Aku ki niat ati pengen mbeleh wedus nggo kurban tahun iki. Tabunganku seka narik becak wis tak kumpulke sithik mbaka sithik. Ning jebul wingi pas aku takon neng pasar kewan, rego wedus lanang sing pantes nggo kurban wis mundak ra karuan. Tekanan ekonomi tahun iki jan nggatheli tenan."
Bobon senyum simpul, benerin letak kacamatanya dengan gaya ala-ala pakar ekonomi jadi narsum di televisi. "Halaaah, Kang. Hari gini kok masih pusing mikir nyari kambing sendirian. Itu namanya tidak efisien. Di era modern ini kita harus pakai prinsip sharing economy alias gotong royong biaya. Mending sampeyan melu urunan sapi wae neng mesjid. Sapi satu dibagi orang tujuh. Konsep patungan itu kan tujuannya biar beban dibagi rata, jadi logikanya kudunya luwih murah toh?"
Mendengar ucapan Bobon, mata Kang Parman langsung seolah
mencolot. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menyemprot Bobon tanpa ampun.
"Bon,
Bon... Kowe kuwi ketoke kakehan kuliah online ning Tik Tok, dadi utegmu
kokehan teori tapi kurang piknik neng pasar kewan! Rumus ekonomimu kuwi
blunder!" Kang Parman ngetuk-ngetuk kardus rokoknya. "Urunan sapi sepertujuh
neng kene tahun iki regone wis patang yutanan punjul, Bon! Lha rego wedus sing
sedengan lan sah nggo kurban wae isih ono sing rong juta setengah. Patungan
sapi kuwi malah luwih ngawu-awu kanggoku, cah baguuus! Dengkulku selak copot
narik becak sedino muput nggo nutupi kurange!"
Bobon langsung
terdiam, wajahnya mendadak merah saking malunya karena kalkulasi teoritisnya
dipatahkan telak oleh logika jalanan seorang tukang becak.
Bu Benu
yang lagi sibuk membalik mendoan langsung ikut menimpali sambil tersenyum
sungkan. "Iyo bener ngono, Mas Bobon. Wong bojoku wingi nggih ngomong ngono.
Patungan sapi tahun iki pancen luwih dhuwur regone dibanding tuku wedus dewe,
mergo rego sapine yo wis melu mumbul. Tapi nggih mboten nopo-nopo nding, sing
penting niate, dadi berkah... hehe." Bu Benu buru-buru menutup kalimatnya biar
tidak ada yang tersinggung.
Di ujung meja, Mbah Joyo yang sejak
tadi diam sambil menikmati rokok klobotnya, meletakkan cangkir kopi setelah
menyeruputnya pelan. Suasana warung langsung hening, menunggu sabda sang
sesepuh kampung.
"Man..." kata Mbah Joyo dengan suara beratnya yang
menenangkan sambil melirik Kang Parman. "Bobon iki pinter perkoro rumus modal,
tapi ora ngerti realita nek rego pakan karo transportasi sapi saiki wis melu
mundak. Tapi kowe yo ra usah nganti mumet ngono, Man. Perintah kurban kuwi
sejarahe seka Nabi Ibrahim. Gusti Allah nuntut awake dhewe ngorbanke perkoro
sing paling ditresnani ing njero ati, dudu perkoro sing paling larang regone
neng pasar. Kurban kuwi ukurane dudu gedhene kewan, tapi sepira gedhene
ikhlasmu mbuwang sifat medit lan ego ing njero dadamu. Nek mampune tuku wedus
cilik sing sah, kuwi wis mulia banget. Malah nek kahanane pancen durung mampu
babar pisan mergo ekonomi lagi seret, Gusti Allah kuwi ya wis priksa, niatmu
wis dicatet."
----------
Sabetan logika Kang Parman ke Bobon di warung Bu Benu tadi itu sebenarnya
potret riil dari dilema musiman yang dihadapi masyarakat kelas pekerja kita
setiap menjelang Idul Adha. Banyak orang yang masih salah kaprah mengira bahwa
sistem patungan (kolektif) otomatis lebih murah daripada membeli hewan kurban
secara mandiri.
Tekanan ekonomi Indonesia tahun ini memang terasa
cukup mencekik daya beli masyarakat bawah. Kenaikan harga hewan kurban tidak
selalu karena permainan tengkulak, melainkan akibat dari rantai pasok yang
membengkak.
Para pengamat ekonomi sosiologi dan peternakan mengemukakan beberapa faktor utama di balik fenomena ini:
- Inflasi Sektor Pakan & Logistik: Biaya pakan konsentrat ternak mengalami kenaikan, ditambah ongkos transportasi bahan bakar untuk mengirim hewan dari daerah sentra peternakan ke kota seperti Jogja yang semakin mahal.
- Dilema "Scaling Up": Sapi membutuhkan perawatan kolektif yang biayanya lebih sensitif terhadap inflasi makro. Komponen biaya sepertujuh bagian sapi akhirnya melonjak melampaui harga satu ekor kambing lokal kelas standar yang perawatannya lebih rumit tapi mandiri.
- Ujian Modal Sosial (Social Capital): Di tengah himpitan ekonomi, ibadah kurban sebenarnya bertindak sebagai indikator kesehatan sosial masyarakat. Berdasarkan data World Giving Index, Indonesia sering kali menjadi negara paling dermawan bukan karena masyarakatnya kaya raya, melainkan karena tingginya dorongan teologis untuk saling berbagi di masa sulit.
Artinya, esensi kurban di tengah tekanan ekonomi justru sedang menguji fungsi aslinya sebagai jaring pengaman sosial (social safety net) di tingkat kampung, di mana daging kurban yang dibagikan secara adil akan membantu gizi keluarga-keluarga yang setahun terakhir jarang menyentuh daging karena harganya yang mahal di pasar umum.
----------------
Kembali ke warung Bu Benu, kepulan asap kopi mulai menipis berganti dengan adzan maghrib yang lamat-lamat terdengar dari toa masjid.
Kang Parman tampak mengembuskan napas panjang, wajahnya tidak lagi sekaku tadi
setelah mendengar wejangan dari Mbah Joyo. Dia melipat kardus rokoknya, lalu
mengantonginya kembali ke dalam celana kainnya yang sudah pudar.
"Yowis,
matur nuwun Mbah. Atiku dadi rada plong. Sesuk tak tuku wedus sing pas karo
dompetku wae, sing penting ikhlas lahir batin," kata Kang Parman sambil meraih
satu mendoan hangat di piring.
"Lha ngono, Man. Sing penting ra
usah ngoyo mburu gengsi sapi nek malah nggawe dapurmu ra ngebul," sahut Mbah
Joyo sambil terkekeh.
Bu Benu yang melihat Kang Parman sudah
tersenyum lagi, langsung mengibaskan tangan saat Kang Parman mau merogoh uang
untuk membayar sepotong tempe mendoan. "Ah...ora sah, mboten sah dibayar
mendoane, Kang Parman. Anggep wae niki kurban cilik-cilikan versi kulo nggo
tukang becak kesayangane warga," ucap Bu Benu dengan keluguannya yang selalu
berhasil membuat seisi warung tertawa.
"Kurban tempe mendoan?...wah mazhab anyar meneh ki," seloroh Bobon sambil menenggak habis es tehnya dan bersiap pulang.
Sore itu, di tengah himpitan ekonomi yang nyata, warung kopi Bu Benu membuktikan satu hal: bahwa keikhlasan dan keinginan untuk saling membahagiakan sesama manusia ternyata tidak pernah bisa diinflasi oleh keadaan.




Posting Komentar