Aroma minyak goreng panas dan tempe mendoan hampir matang, beradu dengan kepulan asap kopi tubruk di warung Bu Benu sore itu. Angin Senin sore di gang Joyonegaran berembus agak malas, membawa lari sisa-sisa hawa gerah perkotaan. Di sudut bangku panjang, Kang Parman, tukang becak langganan kampung, terlihat sedang menekur. Tangannya memegang sepotong kardus bekas bungkus rokok dan ujung pensil yang sudah agak tumpul. Dahinya berkerut-kerut seperti jemuran belum disetrika, sibuk mencoret-coret angka yang tampaknya enggan berkompromi dengan dompetnya.