Misteri Angka Minus di Pertengahan Tahun

00:00 00:00

Kalau ada penghargaan untuk bulan paling menegangkan dalam kalender masehi, Juni dan Juli (dan bahkan bisa sampai Agustus) pasti keluar sebagai juara bertahan. Desember boleh punya cerita hepi-hepi tentang liburan, tapi Juni-Juli punya cerita tentang surviving.

Selamat datang di musim tahun ajaran baru. Sebuah ritual tahunan di mana para orang tua mendadak jadi akuntan publik profesional, lengkap dengan kalkulator yang layarnya mulai buram dan tombol kusam karena keseringan dipencet.

Misteri Angka Minus di Pertengahan Tahun - Java Harmony

Dulu, zaman ekonomi kita masih "agak baik-baik saja"—dalam artian belum sedramatis sekarang—bulan-bulan ini sudah sukses bikin dahi mengkerut. Apalagi sekarang, ketika rupiah sedang tiarap, dan harga kebutuhan pokok naik dengan cita-cita setinggi langit. Semua sektor ekonomi melambat, kecuali satu: akselerasi kecepatan berkurangnya saldo di rekening kita. Masuk sekolah rasanya bukan lagi seperti mengantar anak menjemput masa depan, tapi lebih mirip uji nyali finansial.

Kalkulator yang Lelah

Mari kita hitung dengan santai. Uang pangkal sekolah, uang gedung (yang gedungnya sudah berdiri sejak zaman kolonial tapi entah kenapa masih dicicil), sumbangan sukarela tapi wajib, uang seragam, sampai uang buku. Buku pelajaran zaman sekarang juga punya bakat jadi selebritas; tiap tahun ganti sampul dan revisi sedikit, membuat tradisi warisan buku dari kakak ke adik resmi menjadi mitos masa lalu.

    "Nak, ini buku matematika kakakmu jangan dibuang."
    "Wis ora iso, Mak. Punyaku kurikulumnya sudah ganti jadi Kurikulum Merdeka Merenung."

Belum lagi urusan seragam. Anak-anak ini punya kebiasaan ajaib: tumbuh tinggi justru di saat harga kain sedang mahal-mahalnya. Alhasil, anggaran belanjaan dapur terpaksa digunting demi sepotong kain putih-biru atau putih-abu-abu. Menu makanan di rumah pun mengalami penyesuaian estetika. Kalau bulan lalu kita makan ayam, bulan ini kita cukup makan ala-ala menu MBG... Kreatif (atau akrobat?) harus jadi bakat wajib bagi banyak keluarga di negri +62.

Ironi Kelas Pekerja

Di luar sana, para pengamat ekonomi sibuk bicara tentang "perlambatan ekonomi makro" dan "tekanan geopolitik". Istilah yang keren sekali. Tapi di tingkat mikro—alias di warung kelontong dan pasar tradisional——sketsa kehidupan sehari-hari istilah itu diterjemahkan dengan sangat sederhana: "Duwite ono, ning wis ora aji"

Semua orang menahan diri untuk tidak belanja hal-hal yang tidak penting. Tukang bakso mengeluh sepi karena para orang tua lebih memilih merebus mi instan di rumah demi mengamankan uang daftar ulang. Di kedai kopi, obrolan beralih dari membahas taktik sepak bola menjadi ajang saling bertukar info pegadaian mana yang bunganya paling ramah lingkungan.

Kita dipaksa memprioritaskan pendidikan anak—dan memang harus—sambil merelakan keinginan-keinginan tersier kita dikubur dalam-dalam. Mau beli baju baru untuk diri sendiri? Ah, nanti saja kalau anak sudah lulus kuliah.

Bertahan dengan Senyuman dan Kopi Hitam

Namun, keindahan dari masyarakat kita adalah kemampuan kita untuk menertawakan penderitaan sendiri. Kita mengeluh, kita menyindir kebijakan di medsos dengan meme-meme jenaka, tapi besok paginya kita tetap bangun subuh, memanaskan motor, dan berangkat kerja dengan semangat membara demi si buah hati. Tahun ajaran baru akhirnya bukan cuma ujian bagi otak anak-anak kita di kelas, tapi ujian kelulusan bagi mentalitas kita sebagai orang tua.

Bagi Anda yang saat ini sedang menatap rincian biaya sekolah sambil memijat pelipis: Anda tidak sendirian. Kita semua sedang berada di perahu yang sama, mendayung di tengah badai inflasi, sambil berharap semoga anak-anak kita nanti paham bahwa setiap lembar buku yang mereka baca, dibayar dengan helaan napas panjang orang tuanya di akhir bulan.

Solusi?

Mohon maaf, kalau Anda nyari tips dan trik untuk keluar dari persoalan di artikel ini? Saya hanya punya laci kosong. Suhu keuangan sekelas Safir Senduk pun mungkin akan memilih bengong. Di negri surganya para koruptor, pungli, preman berkedok ormas dan oligarki, solusi untuk masyarakat akar rumput hanya seperti melihat papan pengumunan 'Stok Habis....Mohon Ma'ap'.

Selamat memasuki tahun ajaran baru. Tetap waras, tetap harmoni, dan jangan jongkok di WC duduk!

Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Membuka Harmoni Diri
Membuka Harmoni Diri
Penulis: Purwanto Hadityo
Buku ini hadir sebagai panduan self-improvement dan kepemimpinan yang berfokus pada penyelarasan aspek internal individu. Dengan mengusung subjudul "Pelajaran Hidup, Kerja & Jiwa", buku ini mengajak pembaca untuk menyelami kembali makna keseimbangan di tengah dinamika rutinitas profesional dan pergulatan batin sehari-hari...
Penulis menyajikan berbagai sudut pandang reflektif yang membimbing pembaca untuk mengenali potensi diri, meredakan konflik mental, serta mengarahkan energi kerja dan jiwa agar selaras dengan tujuan hidup yang lebih utuh.

Secara keseluruhan, buku ini sangat relevan bagi siapa saja yang tengah mencari ketenangan sekaligus efektivitas dalam menavigasi dunia kerja modern tanpa harus kehilangan jati diri. Gaya penulisan yang bertumpu pada kontemplasi membuat setiap babnya terasa dekat dengan pengalaman personal pembaca, menjadikannya bacaan penyeimbang yang berbobot untuk memperkuat mental, kepemimpinan, dan kedamaian batin.
Show More
Harga: Rp 59.000
Cek di Gramedia