Aroma bubuk kopi tubruk yang tersiram air mendidih selalu punya cara sendiri untuk menenangkan sore yang gerah. Di sudut warung Yu Sri, suara jepretan korek api gas berkali-kali beradu dengan riuh angin yang menggoyang daun pohon talok. Di atas meja kayu yang mulai kusam, tiga buah cangkir blirik menggumpalkan asap tipis yang membawa aroma pekat, jujur, tanpa kepalsuan.
"Jan-jane, kopi kuwi yo sing mantep yo sing ireng mentah digiling dewe ngene iki lho, Don. Murni. Gak kakehan campuran esens," celetuk Kang Parmin sambil meraih cangkir kopi seduh manualnya yang masih panas, lalu meniupnya pelan.
Doni hanya tersenyum tipis sambil mengaduk segelas es kopi sasetan yang
warnanya cokelat muda cerah lengkap dengan busa di permukaannya.
"Lha
nggih mboten saget dibandingke toh, Kang," sahut Doni santai. "Kopi saset
ngene iki praktis, wis lengkap karo gulo lan susu. Gak perlu ngenteni ampas
mudun, yo gak nggawe untu ireng. Nek kopine Sampeyan kuwi lak murni pait,
marai spaneng. Darah tinggine sampeyan cepet munggah."
Yu Sri yang sedang mengelap kaleng kerupuk langsung menimpali tanpa menoleh, "Halah Don, Don. Kopi sasetanmu kuwi lak mung golek cepete. Sing penting manis lan langsung ngantukmu ilang, ra gelem ngenteni proses."
"Bener kuwi, Sri! Wong saiki kuwi pengen sing instan-instan wae. Padahal nikmate kopi ireng sing diseduh secara manual ki ono ing proses niteni panase banyu lan ngenteni ampase mudun dewe. Lha kopi sasetmu kuwi? Mung menang kembung neng weteng," Kang Parmin tertawa terkekeh sampai pundaknya terguncang.
"Heeelah, sing penting kan taseh enten kafeine toh, Kang? Penting mripat melek, regane murah nek pas pengin gawe dewe ning kamar. Mung limang ewu wis entuk rong wungkus nggone warunge Bu Benu," bela Doni, meski wajahnya agak tersipu karena dikeroyok dua generasi di depannya.
"Murah jaremu, Don? Tapi kowe kuwi lak mung wegah rekasane. Pengen sing langsung dadi, langsung manis. Padahal urip kuwi nek ra ono ampas lan pait-paite sitik, malah ra ketok perjuangane. Ti-ati ginjelmu lho Bro," ledek Kang Parmin sembari terkekeh, disusul tawa renyah Yu Sri. Warung kopi sore itu menghangat, penuh dengan candaan lepas, mengalir, tanpa ada yang merasa tersinggung.
Sing instan kuwi mung penak ing lambe, tapi ora ono sejarahe
Mbah
Warso yang sejak tadi diam menyimak sambil menikmati kepulan asap dari cangkir
bliriknya, akhirnya meletakkan cangkirnya pelan. Beliau membetulkan posisi
peci hitamnya, lalu tersenyum tipis ke arah Doni.
"Mas..." suara
Mbah Warso tenang, berat, tapi memotong keriuhan warung. "Kopi saset kuwi ora
salah. Sing salah kuwi nek kowe mikir urip iku iso diringkes lan diudak cepet
koyo sasetan. Sing instan kuwi mung penak ing lambe, tapi ora ono sejarahe.
Kopi seduh kuwi ngajari awake dhewe siji hal: samubarang perkoro sing apik lan
dhuwur maknane ing urip iku, pancen mbutuhake wektu lan kesabaran kanggo
ngracike."
Doni terdiam, jepretan korek api Kang Parmin pun mendadak berhenti. Kalimat singkat dari balik peci hitam itu seketika membuat angin sore di Gang Joyonegaran terasa lebih syahdu.
Perdebatan kecil antara kopi saset dan kopi seduh manual di warung Yu Sri sore itu sebenarnya adalah potret kecil dari bagaimana kita menjalani hidup hari ini.
Zaman yang serba cepat sering kali merayu kita untuk memilih jalur "sasetan"—segala hal yang instan, praktis, langsung manis di awal, tanpa mau melewati proses yang panjang. Kita sibuk mencari cara cepat untuk meraih validasi atau hasil, hingga lupa bahwa sesuatu yang berharga sering kali butuh waktu untuk "diseduh" dengan sabar.
Padahal, hidup adakalanya butuh dinikmati layaknya secangkir kopi seduh manual. Kita harus sabar menunggu airnya matang, membiarkan bubuknya larut, dan telaten menyisihkan ampas pahitnya demi mendapatkan rasa yang benar-benar jujur dan mendalam.
Sore
mulai luruh di Kota Jogja, langit berganti warna jingga yang tenang. Mas Doni
akhirnya menandaskan es kopi sasetnya, lalu melirik ke arah teko hitam Yu Sri
yang masih mengepul.
"Bu Sri, sesuk jajal kopi seduh manual sing
nggo lepek nggih. Pengen ngerti pait asline," ucap Doni pelan.
Kang
Parmin tersenyum, menyodorkan bungkus rokoknya. Dan di sela-sela kesibukan
dunia yang berisik, warung kopi kecil itu tetap menjadi ruang baca kehidupan
yang paling menenangkan.
Perdebatan ringan sekedar guyonan antara kubu saset dan cangkir blirik sore itu sejatinya bukan hanya perkara selera lidah, melainkan sebuah cermin besar bagi cara kita menjalani hidup. Di era yang serba bergegas ini, kita kerap kali silau oleh hal-hal yang sifatnya "sasetan"—sesuatu yang instan, menjanjikan rasa manis yang cepat, dan dikemas secara praktis demi kepuasan seketika.
Kita begitu terburu-buru mengejar hasil akhir hingga sering kali lupa bahwa esensi hidup yang paling murni justru terletak pada kesediaan kita untuk telaten melewati prosesnya, merawat kesabaran, dan berani berhadapan dengan getirnya realita tanpa perlu ditutupi pemanis buatan.
Tidak terasa sore pun luruh sepenuhnya di sudut Kota Jogja, menyisakan kehangatan yang menjalar dari dinding cangkir seng yang mulai mendingin.
Pada akhirnya, hidup ini adakalanya memang harus dinikmati layaknya secangkir kopi seduh manual: kita butuh waktu untuk menunggu airnya benar-benar matang, membiarkan serbuk-serbuk masalahnya larut perlahan, dan dengan lapang dada menyisihkan ampas pahitnya di akhir cerita demi mereguk seteguk makna yang jujur dan mendalam.
Di balik kesederhanaan warung kampung ujung gang dan kepulan asap kopi murni itulah, kerap kali diajarkan untuk kembali membumi dan mensyukuri setiap rona kehidupan apa adanya.





Posting Komentar