Menggugat Mitos "Karma" di Warung Kopi Kampung
Di bawah pohon Waru tua yang akarnya menjalar bagai urat nadi bumi, beberapa orang tampak duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah mulai menguning. Udara sore itu terasa lengket, tapi angin semilir membawa aroma tanah yang sedikit basah—sisa hujan deras siang tadi yang sempat bikin kampung sepi sejenak. Genangan air di pelataran warung Mbak Siti masih memantulkan cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat, menciptakan siluet keemasan di antara dedaunan.
"Jadi, beneran Pak RT kemarin jatuh terpeleset di depan warung sini?" tanya Karyo sambil menyeruput kopi hitamnya yang mulai dingin. Matanya menyipit, menahan tawa.
"Iya, dan yang bikin tambah apes, dia jatuh pas banget di atas tumpukan kulit durian!" jawab Parmin sambil tertawa kecil. Dari mulutnya menyembur asap putih dari sebatang kretek yang terselip di antara jari-jarinya. "Kalian tahu sendiri, kulit durian itu kan tajem-tajem. Kasihan sih, tapi agak lucu juga kalau dibayangin."
"Walah, kasihan juga ya. Tapi mungkin itu ada sebabnya," sela Mbah Slamet, lelaki tua berpeci hitam yang dikenal sebagai "mbahnya" kampung ini. Bicaranya pelan, tapi selalu bikin orang berhenti sejenak untuk mikir.
Karyo menoleh cepat. "Maksudnya gimana, Mbah? Apa ini yang sering disebut orang-orang sebagai karma?"
Suasana mendadak hening sejenak. Hanya suara jangkrik dari balik semak yang mulai bersahutan.
"Lha yo jelas to ya! Wong sudah jelas-jelas kemarin dapet bantuan dana dari pemerintah buat perbaikan jalan kampung. Tapi sampai sekarang kok diem-diem bae. Nggak ada rembug, nggak ada diskusi sama warga. Nah, saiki kena karma... rasakno dewe!" sambar Kang Ponijo dengan nada tinggi. Emosinya masih terasa, mengingat jalan di depan rumahnya yang sudah bolong sejak tiga bulan lalu.
Mbah Slamet tersenyum tipis, tangannya tetap tenang menyesap teh hangat dari gelas kaca yang mulai retak di bagian bibirnya. Ada jeda yang cukup panjang sebelum ia membuka suara.
"Nah, soal itu, kita semua harus ngerti dulu satu hal penting. Dalam Islam, sebenarnya nggak ada yang namanya karma seperti yang diyakini saudara-saudara kita pemeluk agama Hindu atau Buddha. Tapi, Islam juga mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia pasti ada balasannya. Ini dua konsep yang berbeda, tapi sering banget dicampuradukkan."
Karma vs. Hukum Sebab-Akibat dalam Islam—Di Mana Bedanya?
"Lho, terus bedanya di mana, Mbah? Sama-sama perbuatan dapat balasan kan?" tanya Parmin sambil mematikan rokoknya di asbak kaleng biskuit. Dahinya berkerut, penasaran.
Mbah Slamet meletakkan gelasnya, lalu bersandar pada akar pohon Waru yang jadi sandaran alami.
"Begini, Min, Yo. Dalam konsep karma yang kita kenal dari ajaran Hindu-Buddha, itu sifatnya otomatis dan mekanis. Kayak hukum alam: kalau kamu lempar batu ke atas, pasti jatuh ke bawah. Nggak bisa ditawar. Terus, balasannya juga biasanya langsung terjadi di kehidupan sekarang, atau kalau nggak, nanti di kehidupan selanjutnya setelah reinkarnasi."
Ia berhenti sejenak, memastikan yang lain menyimak.
"Nah, dalam Islam, balasan atas perbuatan itu sepenuhnya ada dalam kehendak Allah. Jadi bukan hukum alam yang berjalan sendiri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗۚ وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ
Famay ya'mal mitsqāla dzarratin khairay yarah. Wa may ya'mal mitsqāla dzarratin syarray yarah.
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (biji sawi), niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya." (QS. Al-Zalzalah [99]: 7-8)
Parmin menepuk pahanya pelan, mukanya berbinar. "Nah, ini yang aku inget-inget! Ayat tentang biji sawi itu, kan, Mbah? Hukum Dzarrah!"
"Wah, pinter kamu, Min!" Mbah Slamet tertawa kecil. "Tapi coba perhatikan lagi. Ayat itu nggak bilang kapan balasannya terjadi dan di mana. Bisa besok di dunia, bisa nanti banget di akhirat. Bisa juga nggak terjadi di dunia sama sekali karena Allah menundanya untuk perhitungan akhir yang lebih adil."
Karyo yang sedari tadi mengangguk-angguk tiba-tiba menyela. "Oh, jadi kalau ada orang jahat yang hidupnya malah enak-enak aja, itu bukan berarti dia lepas dari balasan ya, Mbah?"
"Betul! Justru itu yang sering bikin salah paham. Orang lihat koruptor hidup mewah, yang jujur hidup susah, terus ngomong: 'Ah, mana keadilan Tuhan?' Padahal, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
اَلدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ
Ad-dunyā sijnul mu'mini wa jannatul kāfir.
"Dunia ini adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir." (HR. Muslim no. 2956, Tirmidzi no. 2324, Ibnu Majah no. 4113)
"Jadi, kalau orang beriman diuji terus di dunia, ya wajar. Itu tandanya Allah sayang sama dia dan mau menggugurkan dosa-dosanya sebelum hari perhitungan. Sebaliknya, orang yang bermaksiat dibiarkan enjoy dulu di dunia, bisa jadi itu istidraj—jebakan nikmat yang justru bikin dia makin jauh dari Allah."
Kang Ponijo tampak mulai melembut raut mukanya. Tapi masih ada yang mengganjal.
Musibah Pak RT—Hukuman, Ujian, atau Penggugur Dosa?
"Jadi, Mbah... jatuhnya Pak RT tadi itu sebenarnya apa dong? Kalau bukan karma, apa itu hukuman atas perbuatannya yang diem-diemin dana desa itu?" tanya Kang Ponijo dengan nada yang kini lebih hati-hati. Tangannya menarik segelas es teh yang mulai mencair.
Mbah Slamet memandang ke arah jalan setapak depan warung. Di sana, beberapa anak kecil berlarian mengejar layangan putus, tawa mereka memecah seriusnya obrolan orang dewasa.
"Begini, Jo. Dalam Islam, setiap musibah yang menimpa seorang muslim itu bisa jadi salah satu dari tiga hal. Ini dijelaskan oleh para ulama berdasar Al-Qur'an dan hadits. Pertama, bisa jadi itu ujian untuk meningkatkan derajatnya di sisi Allah. Allah mau lihat, apakah dia sabar atau malah mengutuk. Kalau dia sabar, derajatnya naik. Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
Wa lanabluwannakum bisyai'im minal-khaufi wal-jụ'i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn.
"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 155)
Karyo menyela, "Sabar itu kayak naik level di game ya, Mbah?"
Semua tertawa kecil. Mbah Slamet melanjutkan.
"Kedua, bisa jadi itu penggugur dosa. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
Mā yuṣībul muslima min naṣabin wa lā waṣabin wa lā hammin wa lā ḥuznin wa lā ażan wa lā gammin ḥattasy syaukatil yusyākuhā, illā kaffarallāhu bihā min khaṭāyāhu.
"Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, atau duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosa-dosanya dengan sebab itu." (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)
Mbah Slamet menatap satu per satu. "Bayangkan, Min, Yo. Bahkan duri kecil yang menusuk kaki saja bisa jadi penghapus dosa. Apalagi jatuh di atas kulit durian? Itu bisa jadi cara Allah membersihkan dosa-dosa Pak RT yang bahkan dia sendiri nggak sadar."
Mata Kang Ponijo membelalak. "Jadi, bisa jadi Pak RT sebenernya sedang disayang Allah dengan cara yang nggak enak gitu?"
"Persis. Dan yang ketiga," lanjut Mbah Slamet sambil menaikkan nada sedikit, "bisa jadi itu memang hukuman yang disegerakan di dunia sebagai peringatan. Tapi ini urusan Allah sepenuhnya. Kita sebagai manusia nggak boleh memvonis. Yang jatuh hati kita itu adalah mendoakan, bukan menghakimi. Karena yang tahu isi hati manusia dan dosa mereka cuma Allah."
Fokus pada Amal, Bukan Menerka-nerka Takdir
Sore makin larut, langit berubah jingga pekat bercampur ungu. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan titik-titik cahaya yang hangat di kejauhan. Suara adzan Maghrib dari musholla ujung kampung sayup-sayup terdengar, menandakan bahwa malam segera tiba.
Karyo menghabiskan sisa kopinya yang benar-benar sudah dingin. "Berarti, daripada kita sibuk mikirin apakah Pak RT kena karma atau nggak, lebih baik kita fokus aja berbuat baik ya, Mbah? Karena balasannya pasti, cuma caranya aja yang kita nggak tahu."
"Kamu ini semakin bijak aja, Yo," kata Mbah Slamet sambil menepuk bahu Karyo. "Islam itu mengajarkan keseimbangan antara rasa takut dan harap. Kita takut pada azab Allah, tapi kita juga sangat berharap pada rahmat-Nya. Jadi, setiap kali lihat orang tertimpa musibah, yang muncul pertama kali di hati kita adalah doa, bukan vonis. Setiap kali kita sendiri yang kena musibah, yang pertama muncul adalah introspeksi dan sabar, bukan ngomel-ngomel soal nasib."
Kang Ponijo akhirnya tersenyum, sesuatu yang langka sepanjang sore itu. "Iya ya, Mbah. Saya jadi malu sendiri tadi nuduh-nuduh. Siapa tahu memang Pak RT lagi punya masalah pribadi yang bikin dia lupa sama dana desa. Atau jangan-jangan, dia jatuh karena mau ambil durian buat dibagi ke warga?"
Semua tertawa. Suasana yang tadinya tegang mencair seketika.
Mbah Slamet bangkit perlahan, meraih sandal jepitnya yang sudah tipis. "Sudah, mari kita beres-beres. Sebentar lagi Maghrib. Ingat ya, dalam hidup ini, kita semua sedang menanam. Panennya bisa di dunia, bisa di akhirat. Yang penting, tanamannya jangan sampai salah. Jangan menanam duri, lalu berharap panen mangga."
Ia berhenti sejenak, lalu menutup obrolan dengan satu pengingat.
"Dan ingat firman Allah ini baik-baik:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهٖ وَمَنْ اَسَاۤءَ فَعَلَيْهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيْدِ
Man 'amila ṣāliḥan fa linafsih, wa man asā'a fa 'alaihā, wa mā rabbuka biẓallāmil lil-'abīd.
"Barangsiapa mengerjakan amal saleh, maka itu untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa berbuat jahat, maka itu akan menimpa dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fuṣṣilat [41]: 46)
Obrolan sore itu pun berakhir. Burung-burung pipit telah kembali ke sarangnya di celah-celah genteng. Namun pelajaran tentang balasan perbuatan itu tetap tertinggal di hati masing-masing, seperti aroma tanah basah yang masih setia menemani malam kampung yang mulai sunyi.
Catatan Redaksi: Penulis bukanlah ustaz, kiai, atau ulama. Tulisan ini hanyalah catatan pribadi hasil belajar dari berbagai sumber yang lebih paham soal fikih Islam. Jika ada kekeliruan, penulis terbuka untuk diskusi dan masukan. Wallahu a'lam bishawab.
