Ki Ageng Soeryomentaram: Filsuf Jawa dan Ilmu Bahagia

Barangkali kita sering gelisah dan merasa sulit menemukan kebahagiaan. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk selalu "menjadi lebih", Ki Ageng Soeryomentaram, seorang filsuf dan tokoh spiritual Jawa, menawarkan konsep Kawruh Jiwa atau Ilmu Bahagia sebagai jalan untuk kembali ke rumah: diri sendiri.

Sketsa pensil Ki Ageng Soeryomentaram sedang duduk di pendapa Jawa sambil memberikan ajaran Kawruh Jiwa kepada para muridnya - Java Harmony

Sebagai orang yang lahir dan besar di kota Jogja, saya termasuk salah satu pengagum pemikiran beliau. Belakangan ini, prinsip-prinsip yang beliau ajarkan banyak dibahas di berbagai channel YouTube, namun sering kali dikemas dengan pendekatan ala Barat. Prinsip-prinsip dari Ki Ageng Soeryomentaram ini sebenarnya sangat mirip dengan konsep pengembangan diri (self-improvement) yang sedang tren—seperti Law of Attraction (LoA), Sedona Method, hingga Ho'oponopono. Ketiga metode tersebut tidak hanya bersinggungan dengan mindfulness, melainkan sangat bergantung padanya agar bisa bekerja dengan efektif.

Bisa dibilang, mindfulness adalah tanah tempat benih metode-metode tersebut tumbuh. Tanpa kesadaran penuh (mindfulness), metode-metode tersebut sering kali hanya menjadi rutinitas mekanis yang kurang mendalam.

Mengenal Ki Ageng Soeryomentaram

Ki Ageng Soeryomentaram (lahir 20 Mei 1892) memiliki kisah hidup yang luar biasa. Terlahir dengan nama Bendara Raden Mas (BRM) Kudiarmadji, beliau adalah putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Namun, beliau membuat keputusan radikal: melepaskan gelar kebangsawanan dan memilih hidup sebagai rakyat biasa.

Keputusan ini bukan karena melarikan diri, melainkan sebuah pencarian mendalam akan kebebasan sejati. Beliau ingin memahami mengapa manusia sering menderita, dan melalui kontemplasi panjang, lahirlah Kawruh Jiwa, sebuah ilmu psikologi Jawa yang sangat relevan hingga hari ini.

Karma Ala Orang Jawa: Bukan Hukuman, Tapi Keseimbangan yang Bijak
Baca nanti:
Karma Ala Orang Jawa: Bukan Hukuman, Tapi Keseimbangan yang Bijak

Inti Kawruh Jiwa: Memahami "Kramadangsa" dan "Raos"

Sebelum mempraktikkan "Ilmu Bahagia", kita perlu memahami dua elemen yang ada di dalam batin kita:

  • Kramadangsa: Inilah ego atau "Aku" yang selalu ingin menang, merasa lebih baik dari orang lain, merasa iri, atau cemas akan masa depan. Inilah sumber utama kegelisahan kita.
  • Raos: Inilah Rasa Sejati atau inti kesadaran kita yang murni. Ketika kita bisa memisahkan diri dari Kramadangsa dan kembali ke Raos, di situlah ketenangan ditemukan.

Filosofi "Saiki Ning Kéné... Ngéné... Aku Gelem"

Kunci untuk menenangkan Kramadangsa adalah ajaran beliau yang terangkum dalam frasa bijak:

"Saikí ning kéné... ngéné... aku gelem"

  • Saiki → Sekarang (bukan masa lalu, bukan masa depan).
  • Ning kené → Di sini (bukan di tempat lain, bukan di posisi orang lain).
  • Ngéné → Seperti ini/begini (kenyataan yang sedang terjadi sekarang).
  • Aku gelem → Aku menerimanya (penerimaan sepenuh hati).

Ini bukanlah sikap pasrah atau malas, melainkan penerimaan aktif. Ketika kita berhenti melawan kenyataan—dengan berhenti bertanya "mengapa begini?" atau "seharusnya begitu"—energi yang tadinya habis untuk protes justru berubah menjadi ketenangan untuk mencari solusi.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Ajaran Ki Ageng Soeryomentaram dapat membantu kita dalam berbagai aspek kehidupan modern:

Mengelola Emosi: Saat situasi tidak sesuai harapan, sadarilah bahwa itu adalah "permainan" Kramadangsa. Dengan prinsip "Saiki ning kéné... ngéné... aku gelem", kita menarik kesadaran kembali ke saat ini dan meredakan gejolak ego.

Mengurangi Stres: Stres sering lahir dari perbandingan (ingin seperti orang lain). Dengan kembali ke Raos, kita memahami bahwa kondisi kita saat ini adalah realitas yang perlu dirangkul, bukan untuk disesali.

Menemukan Kebahagiaan Sejati: Kebahagiaan bukan soal mencapai tujuan besar di masa depan, melainkan kemampuan untuk hadir seutuhnya di momen sekarang.

Pandangan Orang Jawa tentang 11 Tahapan Kehidupan: Unsur Penting Kearifan Lokal
Baca nanti:
Pandangan Orang Jawa tentang 11 Tahapan Kehidupan: Unsur Penting Kearifan Lokal

Warisan untuk Kita

Hingga kini, Kawruh Jiwa tetap menjadi kompas yang tajam bagi siapa saja yang sedang mencari makna hidup. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang harus dikejar di luar sana, melainkan sesuatu yang bisa kita temukan dengan menyadari diri sendiri.

Apa kamu juga merasa terinspirasi dengan ajaran ini? Yuk, coba terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mulailah dari satu momen di hari ini, terimalah ia apa adanya, dan rasakan ketenangannya.

─── ❀✿❀ ───
Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Rahasia Berpikir Positif
Rahasia Berpikir Positif
Penulis: Haidar Musyafa
Pikiran sering kali menjadi kompas utama yang menentukan arah hidup kita, terutama saat badai kesulitan datang menerjang...
Melalui buku Rahasia Berpikir Positif karya Haidar Musyafa yang diterbitkan oleh Syalmahat Publishing, Anda akan diajak menyelami kiat-kiat praktis untuk mengenali struktur pikiran serta memaksimalkan potensinya demi membentuk pribadi yang optimis dan berdaya. Buku setebal 212 halaman dengan cetakan bookpaper berukuran 14 x 20 cm ini hadir sebagai panduan esensial untuk membekali diri menghadapi berbagai tantangan, karena pada akhirnya, kemampuan mengelola pikiran positiflah yang menjadi fondasi utama dalam meraih kesuksesan tanpa batas baik di dunia maupun di akhirat.
Show More
Harga: Rp 44.100
Cek di Shopee