Dulu, saya sering menghabiskan malam dengan menatap langit-langit kamar, sementara di dalam kepala ada badai yang tidak kunjung reda. Pikiran melompat dari satu kekhawatiran ke kekhawatiran lainnya, membuat dada terasa sesak seolah ada beban tak kasat mata yang duduk di sana. Aku dulu mengira, kunci untuk tenang adalah dengan memaksa pikiran berhenti—melawan arus emosi itu sekuat tenaga.