Licik dan Culas: Ketika Watak Sengkuni Menjelma di Panggung Politik Modern
Meskipun Patih Sengkuni itu tokoh fiksi dari epos klasik Mahabharata yang hidup di jagat pewayangan, herannya kok kelakuannya sering terasa relate banget ya sama dunia nyata? Kalau kita mau jujur dan jeli melihat panggung politik modern saat ini, "topeng-topeng" Sengkuni nyatanya masih sering berseliweran. Di era kontemporer, ada beberapa karakteristik culas ala Sang Patih yang kerap di-copy paste oleh sebagian oknum politikus kita. Yuk, kita preteli satu per satu cirinya:
- Kelicikan dan Gurita Intrik: Sama seperti Sengkuni yang jago main di balik layar, politikus modern tipe ini mahir banget merajut intrik. Senjata utama mereka bukan adu gagasan yang sehat, melainkan penyebaran propaganda, hoaks, disinformasi, hingga teori konspirasi. Pokoknya, yang penting lawan politik tumbang, urusan cara urusan belakangan.
- Ambisi Tanpa Batas (Asal Bapak Berkuasa): Ketika seseorang sudah telanjur "cinta mati" sama kursi kekuasaan, moralitas biasanya langsung ditinggal di rumah. Mereka rela melakukan apa saja demi mempertahankan takhta atau naik ke hierarki yang lebih tinggi, bahkan jika harus mengorbankan prinsip-prinsip moral demi kepuasan ego pribadi.
- Seni Berkhianat Demi Kepentingan Sendiri: Hari ini bisa jadi kawan koalisi yang paling mesra, besok subuh bisa jadi lawan yang menusuk dari belakang. Karakteristik khas Sengkuni yang bermuka dua ini jamak kita lihat pada politikus yang hobi putar haluan dan mengkhianati sekutu demi mengamankan keuntungan politik sepihak.
- Hobi Memecah Belah dan Polarisasi: Sengkuni sukses besar bikin trah Bharata pecah dan perang berdarah-darah di Kurusetra. Di dunia modern, trik lawas ini dimodifikasi lewat narasi atau retorika yang memancing polarisasi di tengah masyarakat. Mereka sengaja bikin kubu-kubuan biar bisa "memancing di air keruh" sambil mendulang suara.
- Matinya Etika dan Amputasi Moral: Bagi para "Sengkuni Modern", aturan hukum dan norma etika itu bukan sesuatu yang harus ditaati dengan khidmat. Alih-alih dipatuhi, mereka justru sibuk menyewa ahli untuk mencari celah-celah hukumnya demi memuluskan rencana terselubung mereka.
Refleksi: Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Melihat sepak terjang Sengkuni versi modern yang banyak berkeliaran di linimasa media sosial ataupun layar kaca kita saat ini, sebenarnya ada satu tamparan berharga buat kita sebagai pemilih. Belajar dari karakter Patih Sengkuni dalam konteks politikus modern, kita diingatkan untuk tidak mudah silau oleh senyum manis, tutur kata yang membuai, atau janji-janji surga saat musim pemilu tiba.
Sifat licik, haus kekuasaan, dan bakat berkhianat pada akhirnya hanya akan menumbalkan masyarakat dan merusak stabilitas negara. Sebagai pemilih yang cerdas, tugas kita adalah lebih jeli mengendus "aroma" kelicikan ala Sengkuni ini, lalu mengalihkan dukungan kita kepada para pemimpin yang memang punya integritas, etika, dan tulus mendedikasikan dirinya untuk kebaikan bersama. Jangan sampai kita masuk ke sumur jebakan yang sama dua kali!

