Lambang sebuah kota bukan sekadar logo atau tanda pengenal administratif. Bagi Yogyakarta, lambang kota adalah "kitab terbuka" yang menyimpan nilai-nilai filosofis, sejarah perjuangan, dan cita-cita luhur masyarakatnya. Menurut KBBI, lambang adalah tanda yang menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Mari kita bedah makna tersembunyi di balik elemen-elemen dalam lambang Kota Yogyakarta.
Filosofi Bentuk dan Warna
Secara geometris, lambang ini memiliki perbandingan ukuran lebar 18 : 25 (tinggi). Angka ini bukan kebetulan, melainkan pengingat historis akan dimulainya perjuangan Pangeran Diponegoro melawan VOC Belanda pada tahun 1825.
Makna Warna
- Hitam: Melambangkan keabadian.
- Kuning Emas: Melambangkan keluhuran budi.
- Putih: Melambangkan kesucian hati.
- Merah: Melambangkan keberanian dalam bertindak.
- Hijau: Melambangkan kemakmuran tanah Yogyakarta.
Elemen Ikonik: Kekuatan dan Identitas
Setiap elemen visual dalam lambang ini memiliki kedalaman makna:
- Mangayu Hayuning Bawana: Kalimat di bagian atas ini adalah visi utama kota, yakni cita-cita untuk menyempurnakan tatanan masyarakat.
- Bintang Emas: Simbol cita-cita kesejahteraan yang diraih melalui usaha di bidang kemakmuran.
- Padi dan Kapas: Lambang dasar sandang dan pangan.
- Perisai Segi Lima: Melambangkan pertahanan yang berlandaskan Pancasila.
- Tugu: Merujuk langsung pada ikon arsitektur Kota Yogyakarta.
- Dua Sayap: Melambangkan keseimbangan lahir dan batin, material dan spiritual, serta sinergi antara pemerintah dan rakyat.
- Gunungan: Identitas kebudayaan Jawa yang kuat.
- Ringin Kurung (Pohon Beringin): Simbol kerakyatan dan perlindungan.
- Banteng: Representasi semangat dan keberanian.
- Keris: Simbol perjuangan bangsa.
Sengkala: Jejak Tahun dalam Aksara
Salah satu bagian paling unik dari lambang ini adalah penggunaan Sengkala, yaitu penanda tahun yang disembunyikan dalam kalimat. Ada dua sengkala penting:
- Gunaning Keris Anggatra Kotapraja (1953 M): Melambangkan tahun Masehi. Guna=3, Keris=5, Anggatra=9, Kotapraja=1. Dibaca terbalik menjadi 1953.
- Warna Hasta Samadyaning Kotapraja (1884): Melambangkan kalender Jawa. Warna=4, Hasta=8, Madya=8, Kotapraja=1. Merujuk pada tahun 1884 Jawa.

Posting Komentar