Arane Anak Kewan: Uniknya Nama-nama Anak Hewan Dalam Bahasa Jawa

Pernah tidak kamu merenungkan betapa kayanya kosakata yang kita miliki? Dalam bahasa Indonesia, penyebutan nama anak hewan itu cenderung praktis dan sederhana karena tinggal mengikuti nama induknya. Misal induk seekor sapi punya anak, kita cukup menyebutnya anak sapi. Contoh lain yang sering kita dengar sehari-hari: gajah punya anak gajah, bebek punya anak bebek, dan seterusnya. Praktis, bukan?

Akan tetapi, beda cerita kalau kita masuk ke dalam khasanah sastra dan budaya Jawa. Khasanah bahasa Jawa itu punya tingkat ketelitian dan rasa (roso) yang luar biasa dalam melihat alam semesta. Uniknya, masing-masing anak hewan ternyata memiliki sebutan namanya sendiri yang sama sekali berbeda dengan nama induknya!

Uniknya Nama-nama Anak Hewan Dalam Bahasa Jawa

Misalkan saja, induknya bèbèk, anaknya tidak disebut anak bèbèk, melainkan meri. Induknya sapi, anaknya disebut pedhèt. Konsekuensinya, anak-anak zaman sekarang—terutama generasi muda yang hidup di era digital—pasti bakal garuk-garuk kepala karena kesulitan menghafalnya. Istilah-istilah ini perlahan mulai terkikis dan jarang terdengar lagi dalam obrolan sehari-hari.

Padahal, mengenal kembali arane anak kewan (nama-nama anak hewan) ini bukan sekadar urusan menghafal kata untuk ujian sekolah, lho. Ini adalah bagian dari Kawruh—sebuah kearifan lokal yang mengajak kita untuk lebih peduli, peka, dan menyatu dengan alam sekitar. Mengajarkannya kepada generasi muda adalah langkah kecil kita untuk merawat ingatan agar identitas dan keindahan bahasa Jawa ini tidak hilang ditelan zaman.

Nah, berhubung jenis hewan itu ada banyak sekali, di bawah ini kita kumpulkan sebagian daftar nama induk hewan beserta sebutan nama anaknya dalam bahasa Jawa yang bisa kita pelajari bersama-sama:

Nama Induk Nama Anaknya
Ampal Embug
Angkrang Kroto
Asu Kirik
Babi Gembluk
Bandeng Nènèr
Banthèng Warèng
Banyak Blengur
Baya Krété
Bèbèk Meri
Bulus Ketul
Cacing Lur
Cecak Sawiyah
Cèlèng Genjik
Coro Mèndhèt
Dara Piyik
Emprit Indhil
Gagak Engkak
Gajah Bledug
Gangsir Clondho
Garangan Rasé
Garèngpung Drungkuk
Gemak Drigul
Glathik Cècrèkan
Iwak Béyong
Jangkrik Gendholo
Jaran Belo
Kadal Tobil
Kalajengking Ketupa
Kancil Kenthi
Kebo Gudèl
Kecapung Jenthit
Kemangga Ceriwi
Kepik Mrèki
Kidang Komprèng
Kimar Kedah
Kinjeng Senggutru
Kintel Kenthus
Kethèk Kenyung
Kodhok Precil
Kombang Engkuk
Kremi Racek
Kucing Cemèng
Kéyong Krikik
Kupu-Kupu Uler
Kuthuk Kotesan
Kwangwung Gendhot
Laler Sèt/Singgat
Lawa Kamprèt
Lele Jabrisan
Lemut Uget-uget
Lintah Pacet
Linsang Beles
Luwing Gonggo
Macan Gogor
Manuk Piyik
Menjangan Komprèng
Menthok Minthi
Merak Uncung
Sapi Pedhèt
Singa Dibal
Tambra Bokol
Tawon Gana
Tekèk Celolo
Tikus Cindhil
Tongkol Cengkik
Tumo Kor
Ula Kisi/Ucet
Urang Grago
Wadher Sriwet
Wagal Jendhil
Walang Dhogol
Warak Plencing
Wedhus Cempé
Welut Udhet
Yuyu Bèyès

Lebih baru Lebih lama
Rekomendasi Buku Minggu Ini
Membuka Harmoni Diri
Membuka Harmoni Diri
Penulis: Purwanto Hadityo
Buku ini hadir sebagai panduan self-improvement dan kepemimpinan yang berfokus pada penyelarasan aspek internal individu. Dengan mengusung subjudul "Pelajaran Hidup, Kerja & Jiwa", buku ini mengajak pembaca untuk menyelami kembali makna keseimbangan di tengah dinamika rutinitas profesional dan pergulatan batin sehari-hari...
Penulis menyajikan berbagai sudut pandang reflektif yang membimbing pembaca untuk mengenali potensi diri, meredakan konflik mental, serta mengarahkan energi kerja dan jiwa agar selaras dengan tujuan hidup yang lebih utuh.

Secara keseluruhan, buku ini sangat relevan bagi siapa saja yang tengah mencari ketenangan sekaligus efektivitas dalam menavigasi dunia kerja modern tanpa harus kehilangan jati diri. Gaya penulisan yang bertumpu pada kontemplasi membuat setiap babnya terasa dekat dengan pengalaman personal pembaca, menjadikannya bacaan penyeimbang yang berbobot untuk memperkuat mental, kepemimpinan, dan kedamaian batin.
Show More
Harga: Rp 59.000
Cek di Gramedia