Indoprasta, sebuah kerajaan dimana setiap terjadi pergantian rezim tidak pernah sesederhana yang dikisahkan para pujangga di buku sejarah. Saat era Sang Prabu Welgudewelbreh—lakon Petruk Dadi Ratu—akhirnya mencapai garis finis dan harus lengser keprabon karena ketentuan konstitusi, tidak ada isak tangis di istana. Yang ada hanyalah bisik-bisik transaksi. Sang Prabu Petruk, yang nyatanya masih enggan melepas cengkeraman kekuasaan, telah menyiapkan pintu darurat: sebuah syarat mutlak bagi siapapun yang ingin menduduki singgasana.
Males baca teks panjang? Dengerin versi audionya saja sambil tetap bisa scroll artikel ini. 🎧
Pintu itu hanya terbuka bagi Tejamantri alias Togog. Namun, tiket masuk menuju singgasana tidaklah gratis. Togog harus menerima satu syarat "titipan": wajib nyangking Raden Pahpoh, putra mahkota sang Prabu Petruk sendiri, sebagai Mahapatih.
Bagi Petruk, ini adalah langkah catur yang jenius. Menempatkan Raden Pahpoh—yang secara pengalaman masih "bocil ingusan" dalam urusan kenegaraan—bukan sekadar nepotisme biasa, melainkan strategi agar dinastinya tetap mengakar kuat di jantung kekuasaan. Sementara bagi Togog, ini adalah pil pahit yang harus ditelan bulat-bulat. Ia tahu betul bahwa menerima Raden Mas Pahpoh berarti menggadaikan independensinya, namun ambisinya untuk jumeneng nata jauh lebih besar daripada rasa malunya.
Maka, resmilah sudah: Tejamantri alias Togog naik takhta sebagai boneka, sementara bayang-bayang Petruk tetap tegak berdiri lewat Raden Pahpoh yang duduk di kursi Patih. Sebuah tatanan baru telah lahir di Indoprasta, di mana singgasana diduduki oleh sang hyang "nDobleh", namun arah kebijakan tetap disetir dari balik bayang-bayang sang mantan penguasa lama.
Begitu duduk di singgasana, Togog yang memakai gelar Sri Prabu nDobleh Kencono tidak membuang waktu. Hari-hari pertama kepemimpinannya di Indoprasta dihabiskan bukan dengan menata birokrasi, pranatan hukum yang carut-mawut, melainkan dengan memanjakan mulutnya yang lebar. Bagi Sang Prabu, sabda pandita ratu bukan lagi berarti "perkataan raja yang harus ditaati karena kebijaksanaannya", melainkan "perkataan raja yang harus didengarkan karena saking banyaknya".
Pidato pertamanya di depan rakyat Indoprasta menjadi legenda instan. Selama berjam-jam, Sang Prabu berbicara tentang "lompatan raksasa" yang akan dilakukan kerajaan. Ia menjanjikan swasembada mimpi, kedaulatan kata-kata, dan kesejahteraan yang merata—setidaknya merata bagi para gedibalnya. Mulutnya yang nDobleh bergerak dengan ritme yang memukau: terbuka lebar, meluap-luap, namun saat suara itu sampai di telinga rakyat, yang tertangkap hanyalah gema kosong dan semerbak aroma kecurangan yang nduleg melebihi bau kemenyan.
"Kabinet ngGambleh," begitu ia menyebut mazhab pemerintahannya, dimana para mentrinya sebilangan jumlah Kurawa. Baginya, jika sebuah masalah bisa diselesaikan dengan pidato, mengapa harus repot-repot dengan kerja nyata?
Di sisi lain singgasana, Raden Pahpoh—sang Mahapatih "bocil ingusan"—diam-diam mengenyotkan. Bergerilya, jajah desa milang kori, menebar pencitraan bau prengus. Rakyat Indoprasta yang awalnya berharap banyak, perlahan mulai sadar: di era ini, kebijakan tidak ditulis di atas prasasti, melainkan di atas embusan napas Sang Prabu yang sebentar lagi akan menguap.
Indoprasta kini bukan lagi kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja, melainkan panggung stand-up comedy politik di mana penontonnya adalah rakyat, dan leluconnya adalah nasib mereka sendiri. Dari jaman Kalacihno menuju jaman Kalasawit.
Di sudut pasar Indoprasta, Bagong hanya bisa menggaruk kepala. Ia bukan ahli strategi, bukan pula politisi yang pandai bersilat lidah. Namun, Bagong punya insting yang tidak dimiliki para penghuni istana: insting perut lapar dan nurani yang jujur. Bagong mulai sadar, Indoprasta sedang dimainkan dalam lakon yang salah. Ketika Sang Prabu nDobleh Kencono sibuk dengan pidato-pidatonya yang melangit, dan Mahapatih Pahpoh sibuk dengan mainannya sendiri demi menjaga kursi dinasti, rakyat di luar sana mulai merasakan harga kebutuhan pokok yang ikut-ikutan "nggambleh"—tidak menentu dan membingungkan.
Bagi Bagong, masa bodoh dengan siapa yang berkuasa. Yang ia tahu, janji manis tidak bisa dimakan, dan omon-omon tidak bisa mengisi kantong yang kosong. Maka, Bagong memutuskan: jika istana hanya bisa nggambleh tanpa henti, maka di sini—di rubrik ini—rakyat harus mulai bicara.
Selamat datang di Wayang nDobleh. Tempat di mana kami akan menterjemahkan "Omon-omon" menjadi bahasa yang sebenarnya, dan tempat di mana topeng-topeng kekuasaan akan kita kritisi satu demi satu. Terbit setiap Rabu jam 5 sore, tapi untuk edisi perdana ini, terbit hari Selasa di tanggal 23 Juni, sebagai bingkisan kado, tepat hari ulang tahun admin Java Harmony. Bersiaplah, karena mulai pekan ini, kelir Indoprasta tidak akan pernah sama lagi.
Tancep Kayon.

Posting Komentar