Rasanya seperti berlari di atas treadmill. Kamu menguras tenaga, berpeluh, dan berusaha sekuat mungkin, namun posisi fisikmu tetap di titik yang sama. Setiap pagi dimulai dengan daftar tugas yang menumpuk dan kecemasan tentang hasil yang tak kunjung tampak, sementara malam hari ditutup dengan kelelahan yang tidak membawa kepuasan batin. Dulu, impian-impian besar terasa seperti bintang di langit: indah untuk dikagumi, namun terlalu jauh untuk digenggam. Setiap rencana baru seolah selalu membentur tembok tak terlihat, membuat usaha keras terasa sia-sia.