Mei 2018


Salah seorang yang menjadi tokoh kunci keberhasilan reformasi 98 adalah Cak Nun (MH Ainun Najib). Pejuang, Jurnalis, Budayawan dan seabrek predikat lain yang melekat padanya (beliau nggak suka dipanggil kyai, ustad, bahkan ulama). Sepak terjang beliau dalam mendorong perubahan 20 tahun lalu cukup besar. Namun Cak Nun yang rendah hati dan bersahaja, tidak pernah menghitung-hitung jasa yang telah diberikan untuk bangsa ini. Beliau juga bukan tipe orang yang kemaruk jabatan dan gila kedudukan, beda dengan reformis lainnya. Begitu pula Sri Sultan HB X, dimata saya, beliau juga pejuang reformasi yang sejati.
[ads-post]
Mbarang jantur jajah desa milang kori, itulah kegiatan mbah Nun (Cak Nun) sekarang, bersama Pengajian Padang Bulan dan Gamelan Kyai Kanjeng. Berkeliling dari desa ke desa mengadakan Sinau / Ngaji Bareng yang selain membangun kesadaran ruhani umat islam, sekaligus memberikan pendidikan politik secara sederhana untuk masyarakat kecil di pedesaan. Sebelum rezim sekarang mencanangkan pembangunan (fisik) dari pinggiran, Mbah Nun telah memulainya lebih dulu dengan membangun mental-ruhani masyarakat pinggiran.

Disaat para reformis mengaku paling berjasa dan sibuk berebut kekuasaan, Mbah Nun memilih laku prihatin demi kebaikan anak-cucu bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT memuliakan Mbah Nun dan seluruh anak cucunya, juga jamaah dan para pengikutnya. Amin.

-Tamat-
Credit image:Robbi Gandamana

Dalam ceramah hari pertama shalat tarawih bulan ramadhan tahun 1439 H disampaikan langsung oleh pengurus takmir masjid yaitu sdr H Achmad Mustafid, SAg. MHum. Meskipun beliau belum termasuk 200 ustad recommended versi Depag, tapi isi tausiyahnya cukup menarik dan selalu berkenaan dengan kehidupan orang kampung sehari-hari.

Beliau sampaikan tentang manusia baik dan manusia buruk. Tema yang kelihatan ringan tapi sesungguhnya ini termasuk inti dari kehidupan manusia. 

Manusia baik bukanlah manusia yang tidak pernah salah, tidak pernah berbuat dosa. Tidak ada manusia yang sempurna. Karena hanya Rasulullah Muhammad SAW saja yang maksum, yang terjaga perilakunya oleh Allha SWT. Manusia baik adalah manusia yang amalan kebaikannya lebih banyak ketimbang keburukannya. Dan manusia buruk adalah manusia yang perilaku buruknya lebih dominan ketimbang amal kebaikannya.
Manusia baik adalah manusia yang Allah masih mau menyembunyikan aib-aibnya, dosa masa lalunya, perbuatan tercela yang hanya Allah yang mengetahuinya. Dan manusia baik selalu menyesali atas dosa dan kesalahan dimasa lalu dan tidak berputus dalam memohon ampunan-Nya.

Tema sederhana yang membuatku terus-menerus berpikir dalam perjalanan pulang dan ketika sampai dirumah. Tema yang membuat hati ini gembira karena yakin Allah Yang Maha Penyayang pasti tetap membukakan pintu kebaikan untuk manusia buruk sepertiku, dan memberikan kesempatan luas kepada manusia semacam aku untuk memperbanyak kebaikan dan mulai meninggalkan keburukan.

Credit image: www.hddesktops.com


Aksi Para Badut

Sesungguhnya aku sangat malez (pake z) ngomong soal politik. Tapi kondisi negeri tercinta akhir-akhir ini memang mengkhawatirkan. Semua ini akibat ulah para badut politik yang sudah tidak lucu lagi.

Cita-cita reformasi dahulu untuk mengkoreksi segala praktek yang keliru yang dilakukan rezim Orde Baru. Terutama semangat memberantas KKN (Korupsi-Kolusi-Nephotisme. Redistribusi kekuasaan agar tidak hanya bertumpu pada kewenangan pusat (Jakarta) melalui otonomi daerah. Kebebasan menyampaikan pendapat dan mengkritik jalannya pemerintahan, dan banyak lagi cita-cita muluk lainnya.

Namun sayang apa hendak dikata?...Reformasi hanyalah menjadi tenda sirkus yang besar tempat para badut politik menunjukkan kemahirannya berkhianat atas cita-cita mulia reformasi. Semua yang dulu dianggap buruk di masa pemerintahan Soeharto, tanpa malu-malu lagi dipraktekkan dan dilanggengkan. Apa yang dulu sudah bagus di jaman Pak Harto, justru malah di-eliminir.


Negara terkotak-kotak, otonomi daerah hanya menghasilkan dinasti-dinasti raja kecil yang korup, pers dan jurnalis hanya jadi buzzer partai politik sang pemilik media. Kedaulatan ekonomi terenggut, kemandirian bangsa terkoyak dan pembangunan berjalan tanpa arah.

credit image: www.desktopimages.com

Negeri tercinta ini kembali mendapat cobaan dengan maraknya aksi bom bunuh diri di kota Surabaya. Kejadian yang banyak mengundang keprihatinan, baik bagi bangsa Indonesia maupun negri-negri di luar Indonesia. Aksi tak berperikemanusiaan yang tak pernah mengundang simpati dan justru mempertebal rasa benci masyarakat. Aksi yang membuat kita semua tidak habis mengerti dengan cara dan pola pikir para pelaku teror tersebut.

Namun yang membuatku teramat marah, geram dan mengoyak segenap rasa hatiku adalah dilibatkannya anak-anak kecil tidak berdosa dalam aksi mereka. Juga anak-anak kecil yang menjadi korban kebiadaban mereka. Astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim...astaghfirullahaladzim..Ya Allah ya Robbi...lindungilah kami semua...lindungilah anak-anak kami...lindungilah negri kami. Berikan hidayahmu pada para pelaku teror, luruskan niat dan jalan pikirannya, lembutkan hati mereka untuk meninggalkan kebiadaban dan menghargai sesama ciptaan-Mu ya Rob..

Ketika usia tak lagi bisa dibilang muda. Ketika banyak keinginan belum terwujudkan. Ketika kekecewaan bertumpuk menutup harapan. Menggugah kesadaran kalau semua ini terlalu memikir persoalan duniawi. Hidup-pun jadi teramat rapuh.

Aku mengakui adanya Allah Ta'ala. Aku mengakui Muhammad SAW adalah nabi dan rasul utusan Allah SAW. Aku memiliki kitab suci Al-Qur'an yang dulu sering aku baca beserta terjemahannya. Tapi harus aku akui pula, pengetahuanku tentang agamaku...amat sangat minim.

Tak ada kata terlambat untuk memulai mempelajari agama dengan lebih bersungguh-sungguh. Dan sesekali aku ingin catat di blog ini hasil dari upaya belajar agama, agar ada kontrol dan ada yang mengingatkan dari para pengunjung blog ini, untuk menghindari salah arah yang berujung pada kesesatan.

Aku juga ingin lebih sering membuat catatan tentang falsafah-falsafah luhur orang jawa jaman dulu. Bagaimanapun juga aku sangat kagum dengan wawasan dan pemikiran mereka yang mampu melintasi dimensi waktu dan jamannya.

Catatanku tentang politik juga ingin aku buat. Paling tidak untuk menggugah kesadaranku sendiri karena suka-nggak suka, dirasakan atau tidak dirasakan, pembodohan politik kepada masyarakat makin masif dilakukan oleh oknum-oknum politikus di negeri ini.

[page][item]
William Kemmler yang lahir 9 Mei 1860 di kota Philadelphia, Pennsylvania, Amerika adalah orang yang pertama kali menjalani hukuman mati diatas kursi listrik. Ketika berusia 28 tahun, Kemmler yang buta huruf dan memiliki riwayat penyakit tekanan darah tinggi suatu hari mengadakan kencan dengan kekasihnya yang bernama Matilda "Tillie" Ziegler. Entah penyakit darah tingginya sedang kambuh atau ada sebab lain, Kemmler marah-marah kepada kekasihnya tersebut dan mengambil kapak hingga membacok kekasihnya sampai tewas. Kemmler pun ditahan pihak yang berwajib setempat dan dalam persidangannya ia dijatuhi hukuman mati oleh hakim. Pada waktu itu atauran yang berlaku mengenai pelaksanaan hukuman mati yaitu dengan cara digantung. Tetapi pengadilan memutuskan lain, meskipun Kemmler dijatuhi hukuman mati tapi tidak dengan cara digantung. William Kemmler yang seharusnya setelah menjalani hukuman mati akan dilupakan orang sebagaimana para pembunuh lainnya yang menjalani hukuman mati, namun tidak seperti itu nasibnya. Dia harus menjalani hukuman mati diatas kursi listrik untuk yang pertama kalinya yang membuat namanya jadi pembicaraan orang dan tercatat dalam sejarah.

Bagaimana hukuman mati itu dilaksanakan?
[/item][item]
Tanggal 6 Agustus 1890 jam 6 pagi di penjara Auburn, New York, sudah dilakukan persiapan pelaksanaan hukuman mati dengan memakai kursi listrik. Di ruangan eksekusi juga sudah hadir beberapa pejabat hukum, para wartawan dan 15 orang dokter. William Kemmler dengan dikawal pemimpin eksekusi yang bernama Charles F. Durston, tampak berjalan dengan tenang memasuki ruangan. Kemmler memakai pakaian yang baik dan rapi.

Sebelum pelaksanaan eksekusi mati, diadakan acara singkat yang dipimpin Durston dengan memperkenalkan nama William Kemmler kepada para hadirin saat itu. Dengan tenang Kemmler berdiri dan memberi hormat kepada semua saksi yang hadir. Selanjutnya Durston meminta ijin agar pakaian Kemmler dibuka dan kemudian didudukkan diatas kursi listrik yang telah tersedia. Wakil Sherif yang bernama Yoe Velling bertugas mengikat Kemmler diatas kursi listrik dengan memakai sabuk kulit. Terlihat jika Velling agak gugup dan gemetar sehingga Kemmler pun berucap:" Tenang saja Yoe...lebih baik kencangkan ikantanmu".

Apa yang terjadi selanjutnya?
[/item][item] Setelah selesai diikat tali sabuk kulit, selanjutnya Kemmler dipakaikan topeng. Davis, si ahli listrik juga sudah siap memegang sakelar. Setelah semuanya siap, Durston memberi isyarat kepada Davis dengan sebuah ucapan perpisahan kepada Kemmler;" Goodbye William'. "Goodbye" jawab Kemmler dengan tenang. Davis segera menarik tuas saklar untuk membuka arus listrik 1300 volt dan seketika tubuh Kemmler mengejang dan kaku. Asap keluar dari elektroda-elektroda yang membakar sabuk kulit tersebut. Dua orang dokter yang bertugas mengawasi jam nampak gemetaran, baru berjalan 17 detik salah satunya pun berkata;" Cukup!, dia sudah meninggal....matikan saklarnya". Tubuh Kemmler nampak terbujur kaku dan hangus diatas kursi listrik dan dikelilingi para dokter. Namun tiba-tiba dada Kemmler nampak melembung. Kemmler masih hidup dan membuat para dokter dan saksi yang hadir kebingungan. Kemudian terdengar perintah lagi supaya saklar dinyalakan lagi. Dengan gugup Davis pun menarik tuas saklar naik turun sehingga aliran arus listrik tidak setabil dan terdengar suara tuas saklar yang berderit naik turun.

Berhasilkah hukuman mati dengan cara ini?
[/item][item] Setelah 70 detik, aliran listrik dimatikan lagi. Menyaksikan pelaksanaan hukuman mati dengan memakai kursi listrik yang harus diulang sampai 2 kali tersebut membuat George G. Bain, seorang wartawan dari Surat Kabar United Press, jatuh pingsan. Saksi yang lain berlari sambil muntah-muntah dan tidak berani melihat jasad Kemmler. Hasil pemeriksaan tim dokter menyatakan bahwa tubuh Kemmler terbakar sampai kering, otaknya hangus dan mengeras seperti batu, otot-otot tubuh kaku dan sebagian punggungnya terbakar sampai melepuh dan terkelupas.

Hari berikutnya peristiwa tersebut menjadi berita besar di koran-koran yang mengabarkan jika pelaksanaan hukuman mati William Kemmler dengan memakai kursi listrik mengalami kegagalan sehingga Kemmler terkesan mengalami penyiksaan. Tumbuh protes dimana-mana yang meminta supaya hukuman mati dengan memakai kursi listrik di pending atau dibatalkan saja. Dikarenakan banyak sekali yang meneriakkan protes, sampai-sampai surat kabar Buffalo Express meramalkan jika Kemmler adalah orang pertama sekaligus orang terakhir yang menjalani hukuman mati di atas kursi listrik. Tetapi ramalan tersebut meleset, sepanjang 50 tahun setelah kematian Kemmler, sudah ada 1000 orang lebih narapidana hukuman mati yang menyusul Kemmler diatas kursi listri.

Keberuntungan Ernt Chapelu?
[/item][item] Sebenarnya orang yang seharusnya menjalani hukuman mati diatas kursi listrik bukan William Kemmler, tetapi Ernt Chapelu dari kota New York yang terkenal sebagai pembunuh yang kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Akan tetapi ketika Gubernur David B. Hill menandatangani undang-undang penghentian hukuman gantung dan diganti dengan kursi listrik di tahun 1889, sampai saat pelaksanaan eksekusi untuk Chapelu, alat kursi listrik itupun belum selaseai dibuat dan berakibat hukuman untuk Ernt Chapelu diubah menjadi hukuman seumur hidup.

Terindikasi adanya persaingan?

Alat yang dipakai untuk eksekusi mati yang dinamakan kursi listri ini muncul karena adanya persaingan antara penemu listrik Thomas Alva Edison dengan pesaingnya, George Westinghous.

Ketika selama persidangan, Kemmler didampingi para pembela yang dipimpin Burkeco Chran dari New York tanpa bayaran karena Kemmler hanyalah seorang petani miskin. Para pembela tersebut mengatakan jika pembelaan mereka untuk Kemmler didasari perasaan tidak tega jika manusia harus mati dengan cara dibakar diatas kursi listrik buatan perusahaan Thomas Alva Edison. Tetapi faktanya para pembela tersebut ternyata mendapat bayaran dari Westinghous sejumlah 100.000 dollar!!.

Sumber gambar; wikipedia Carl Sifaxis-JFX Hoery
[/item][/page]



Refleksi Diri di Bulan Reformasi

Tidak terasa sudah 20 tahun reformasi digulirkan di negri tercinta ini. Yang aku rasakan hanyalah penyesalan dan penyesalan. Rasanya malu jika teringat 20 tahun lalu saya dan istri (waktu itu kami masih pacaran) rajin ikut demo sana-sini mendukung gerakan reformasi. Berharap akan kehidupan yang lebih baik dan segera tercapai kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sibuk mendukung demo dan gerakan reformasi demi kehidupan yang lebih baik bagi anak cucu nanti.

Tapi siapa yang bisa meramal masa depan?. Siapa yang kala itu bisa tahu jika pada akhirnya negri tercinta ini jatuh ketangan para petualang dan para makelar politik?. Membangun dinasti keluarga, merampok harta negara, memupuk kekuasaan diatas penderitaan rakyat. Politikus dan partai politik sekarang tidak lebih baik dibanding dulu sebelum reformasi. Bahkan menurutku lebih kurang bermoral dibanding dulu (kalau bilang tidak bermoral rasanya kok terlalu kasar). Hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Pengabdian pada bangsa dan negara tak lagi bermakna jika hanya sebuah pencitraan demi melanggengkan kekuasaan. Harapan rakyat kecil seperti saya ini kembali padam. Ini reformasi atau reformati??

Those who make peaceful revolution impossible, will make violent revolution inevitable.  -John F. Kennedy-
Mereka yang membuat revolusi damai mustahil, akan membuat revolusi kekerasan menjadi tidak terhindarkan.

image credit:reddit.com

Admin javaharmony.com seneng ndelok acara Sinau Bareng Kyai Kanjeng sing dipandegani Cak Nun (Emha Ainun Najib) kang rutin disiarake ADTV saben malem jemuah. Lan mesti kemekelen ngrungokake apa kang dingendikakake panjenenganipun Cak Nun kaya ing mau bengi.

Ning ndonya iku kabagi 2 golongan utawa kutub yaiku golongan kanan (Liberalis-Kapitalis) kang dipandegani Amerika lan negara-negara Eropah. Golongan iki menehi kebebasan rakyat ngomong lan mbiwarakake pendapate kanti sak bebas-bebase. Ananging perkara pakaryan/ golek pangan, rakyat kudu golek dewe-dewe.
Golongan sijine yaiku golongan kiwa (Sosialis-Komunis) kang dipandegani Rusia, Tiongkok, lan sakpanunggalane, nglarang rakyate ora entuk omong lan ngekang kebebasane rakyat 'berpendapat'. Anangin negara nyukupi kabeh kabutuhane rakyat. Bab pangan, sandang, papan, transportasi lan liya-liyane dicukupi negara, waton rakyate meneng ora kakehan omong/pendapat.

Lha ning Indonesia piye?. Gabungan loro-lorone. Karepe yo rakyate ora sah omong  ketimbang kena ujaran kebencian, utawa dipolisekke nek ngritik DPR lan Pemerintah. Kebebasan berpendapat arep dikekang. Nanging babagan pangan/penggaotan/panguripan dikon golek dewe-dewe. 

Penguasa: ' Wis kowe rakyat menenga wae katimbang tak cekel lan kena tuduhan ujaran kebencian lho?!...wis rakyat manut pamarentah wae'.
Rakyat: ' Injih ndoro...'
Penguasa: ' Lha ya..ngono kuwi...rakyat kudu monat-manut ngono lho... Wis saiki kono....dha golek pangan dewe-dewe!'
Rakyat: (karo ngresulo......) 'ora mbiyen ra saiki...jenengane wong kuasa iku mesti urik...golek benere dewe...mesti golek menange dewe'.

image credit:pixabay.com

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.