Grebeg Sekaten in Jogjakarta

Prajurit Keraton Jogja-blogystyle

While the world celebrated Valentine's Day, the city of Yogyakarta commemorated the Prophet Muhammad's birthday. The Yogyakarta Royal Palace marked this occasion with the Grebeg Gunungan festival.

Central to the celebration were 'Gunungan,' elaborate mountain-shaped offerings made of food. These miniature mountains, symbols of gratitude to God, were later distributed among the public in a lively contest. Those tasked with creating the Gunungan observed fasting throughout the preparation process. Two Gunungan were crafted: a male Gunungan and a female Gunungan.

Upacara Gunungan Grebek Sekaten-blogystyle


Both Gunungan were paraded out of the palace towards the Grand Mosque of Kauman. Palace guards escorted the procession, and thousands of people attended to witness the sacred ceremony.


Similar ceremonies are also held by the Royal Palace of Surakarta (Solo) in Central Java and the Keraton Kasepuhan (Cirebon Palace) in West Java.


The ceremony marks the culmination of the Prophet Muhammad's birthday celebration. For forty days leading up to the Grebeg Gunungan ceremony, a public market festival called Sekaten takes place.

Pasar Malam Sekaten Jogja-blogystyle


While Valentine's Day was celebrated globally, Yogyakarta commemorated Prophet Muhammad's birthday with the Grebeg Gunungan festival. The Yogyakarta Royal Palace showcased 'Gunungan,' elaborate food mountains symbolizing gratitude. These offerings were paraded to the Grand Mosque of Kauman, guarded by palace knights, and witnessed by thousands. The Gunungan, crafted through fasting, represent male and female forms, later distributed among the public.

This tradition, culminating 40 days of Sekaten festivities, isn't exclusive to Yogyakarta; similar ceremonies occur in Solo and Cirebon. It's a centuries-old practice, blending spiritual, social, and cultural values, deeply rooted in Yogyakarta's identity.

Grebeg gunungan sekaten Jogja tempoe doloe-blogystyle
The Sekaten Folk Market Festival and the Grebeg Festival in 1888



*Klik pada gambar untuk melihat detail produk.
Novel Layla Majnun
Rp62.250
BUKU TRILOGI PERANG NABI SAW
Rp70.000

Lebih baru Lebih lama
Best Seller Minggu Ini
Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
Setelah Melompat Aku Ingin Hidup
Penulis: Brian Khrisna
999 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menyaksikan akhir dari segalanya. Namun, hari ini menjadi pengecualian ketika sang pencabut nyawa mendapati seseorang yang justru ingin hidup tepat satu detik setelah melompat. Inilah awal dari perjalanan terakhir Mori sebelum kontrak seribu tahunnya benar-benar berakhir.

Setelah sukses besar dengan Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Brian Khrisna kembali dengan narasi yang jauh lebih mendalam dan emosional. Buku ini bukan hanya bicara tentang ajal, melainkan cermin bagi kita untuk melihat bagaimana manusia berjuang untuk tetap hidup dengan caranya masing-masing. Melalui sudut pandang Mori, kita akan diajak menyusuri kisah-kisah haru—mulai dari seorang ibu pejuang, pemuda yang terjerat trauma, hingga kemunculan sosok Ale yang tak terduga. Dengan sentuhan genre fantasi yang segar dan dilengkapi ilustrasi yang menyentuh di setiap halamannya, novel ini akan membawamu bertualang di batas antara kehidupan dan kematian, sembari mengungkap misteri siapa sebenarnya Mori sebelum ia menjadi sang pencabut nyawa.

Apakah Mori akan menemukan jawaban atas eksistensinya sebelum kontraknya benar-benar usai? Temukan kisah penuh makna yang akan mengubah cara pandangmu tentang waktu dan kehidupan dalam karya terbaru ini. Dapatkan bukunya sekarang dan siapkan dirimu untuk perjalanan yang tak terlupakan!
Show More
Harga: Rp 97.000
Cek di Gramedia