Jumat, 30 Desember 2016

Berburu Hantu

Siang ini aku dan adikku, Sakti, menunggu kedatangan seorang sahabat karib, Hany namanya. Kita sudah janjian mau merencanakan sesuatu sepulang sekolah. Ya...kami ingin tahu soal hantu yang beberapa hari ini menggemparkan seisi kampung tempat tinggalku. Beberapa orang mengaku telah melihat sesosok bayangan putih muncul dari rerimbunan pepohonan pisang.  

Kabar ini cepat sekali menyebar sehingga banyak para ibu yang resah dan anak-anak menjadi takut bermain di luar rumah. Siang ini aku dan Hany ingin mencari tahu kebenaran kabar tersebut. Sebenarnya aku ingin pergi berdua saja dengan Hany, tapi adikku ingin sekali ikut karena dia baru sedikit memiliki teman bermain.
 
"Hai Intan!...maaf ya nunggunya lama..,"kata Hany ketika nongol di depan pagar dengan dandanan rambut dikepang dua. "Ah nggak apa-apa....gimana?jadi 'kan?"tanyaku sambil membuka pintu pagar."Ya jadi dong...kan aku dah sampai sini. Eh...Sakti mau ikut ya?emang dia berani?"tanya Hany."Iya Han...kasihan dia nggak ada yang ngajak main,"jawabku berharap dia setuju."Oke...ndak apa-apa....ayo kita berangkat!"seru Hany. Bergegas kami bertiga menuju pojok kampung, tempat dimana konon bayangan hantu itu sering terlihat oleh beberapa orang. 

Hanya beberapa menit kami telah sampai di dekat sebuah rumah kosong yang telah lama sekali tidak berpenghuni. Rumah tua itu kondisinya sudah rusak berat karena tidak terawat dan terlihat sangat angker. Apalagi letaknya diujung kampung dan dekat pepohonan pisang serta banyak tanaman liar yang sangat rimbun, sangat jarang orang yang lewat disekitar sini."Ugh...serem juga ya Tan..,",bisik Hany,hampir tak terdengar. "Nanti kalau hantunya ketangkap mau dibikin apa ya...?"tanyaku pada Hany agak lirih."Ehm...dibikin sop aja...,"bisik Sakti."Huuh...emangnya sosis dibikin sop,"jengkel juga aku denger celetukan adikku. Hany cekikikan. 

Bertiga kami mengendap-endap dibalik rerimbunan tanaman perdu dekat sebuah pohon besar. Bagaikan detektif yang sedang bertugas melakukan pengintaian. Lama kami menunggu apa yang akan terjadi disekitar rumah angker itu. "Hihihi..!!..hihii...hihihi..!".Kaget kami bertiga ketika tiba-tiba mendengar suara tawa cekikikan desertai munculnya sosok bayangan putih dari balik pepohonan pisang. Semua menahan napas dan merinding melihat sosok putih besar berkelebat masuk ke rumah tua itu."Mbak...aku takut...takut mbak...,"isak adikku menangis sambil menutup muka dengan kedua tangannya.Aku pegang pundak Hany karena sedikit takut juga. "Gimana ini Han..??tanyaku dengan nada bergetar menahan rasa takut."Ahh...tanggung Tan, ayo kita tangkap!"sahut Hany bersemangat."Sakti sembunyi disini saja ya,"lanjutnya. "Haaayooo..hayooo....huaa...!!haayooo....!"aku dan Hany berteriak-teriak tak karuan sambil mengejar sesosok bayangan putih itu. Sosok misterius itupun terkejut dan menoleh ke arah kami. Terlihat wajah seramnya sambil menyeringai dan tertawa cekikikan; "hihihi...hihihi..hihihi...!".Lalu bayangan putih itu berusaha lari. Tapi baru beberapa langkah terdengar suara 'gedebuk!'. Sosok putih itu rupanya terjatuh ketika berlari karena kakinya terjerat kain putih mirip jubah yang dia kenakan. Sejurus kemudian dia berusaha bangkit lagi dan melepas jubah kain putihnya, kemudian berlari lagi sambil teriak-teriak; "setan...tolong! ada setan...tolong....tolong....hihihihiiii...". Kami berdua melongo melihat siapa dibalik kain putih tadi. Ya,sudah tidak asing lagi bagi kami,dia orang gila dari kampung tetangga yang sering jalan kesana kemari menyusuri jalan-jalan dikampung kami. 


Betapa kagetnya aku ketika memungut kain putih yang ditinggalkan 'hantu' tadi. "Lho?Han?...ini kan mukena bundaku yang minggu lalu hilang dari jemuran?!"aku terheran campur geli. Sakti pun mendekat dan ikut memastikan,"ho'oh mbak!...ini mukena ibu yang kemarin dijemur terus hilang.....wah diambil orang gila to?!". "Hahahaaa...hahahaa...,"kami bertiga tertawa, ternyata hantunya hanya orang gila yang memakai mukena. "Hahaha....masak ada hantu pocong kok kainnya dibordir motif bunga...,"seloroh Hany. "Hahaha....ahahah...!!"kami bertiga kembali tertawa sambil beranjak dari rumah kosong itu untuk kembali pulang.
Baca selengkapnya

Kamis, 29 Desember 2016

Pesta Rambutan

Hari ini aku dan Hani akan bermain ke rumah Nabila. Dia mengajak kami untuk pesta rambutan, yang langsung dipetik dari pohonnya. Sampai di rumah Nabila ternyata sudah ada Nanda dan mbak Nova, dan tentu saja Nabila yang telah menunggu. Kami saling mengucapkan salam ketika bertemu. Ya, kami semua teman satu kampung dan juga teman satu sekolah. "Ayo!...kita langsung petik saja," ajak Nabila. Dengan cekatan temanku itu meloncat dan menaiki pohon rambutan. Tampak dia sudah terbiasa memanjat pohon itu. "Ayo Intan ikutan naik dong...bantuin aku!" seru Nabila kepadaku. Meski sedikit grogi karena harus panjat pohon rambutan yg cukup tinggi, akupun segera meloncat keatas, meniti batang pohon rambutan dengan hati-hati. "Hei lihat!..ada monyet!" teriak mbak Nova sambil menunjuk kearahku. "Hahaha...hahaha...," teman-temanku tertawa semua melihatku bergelantungan di pohon rambutan.

Nabila melemparkan rambutan-rambutan itu kebawah, dimana Hani berusaha menangkapnya. Sebagian kecil tertangkap, tapi lebih banyak yang berserakan di tanah. Dengan tekun Nanda memunguti buah rambutan yang tidak tertangkap. "Itu..nah..yang itu...". "Itu juga...bukan...yang itu...sebelah kanan...nah itu!" mbak Nova teriak-teriak dari bawah. Dari tadi mbak Nova cuma tunjak-tunjuk jari sambil teriak  'ita-itu.' Sebenarnya sebel juga kami karena dari tadi mbak Nova enggak mau bantu apa-apa. "Hei Intan....di dekatmu ada yang besar sekali....lemparkan kesini untuk aku!" perintah mbak Nova bak tuan putri."Nih tangkap!" teriakku sambil melempar sebiji rambutan besar berwarna merah tua. Setelah berhasil menangkap rambutan istimewa itu, dengan cekatan mbak Nova mengupas kulitnya dan langsung melahap isinya. Tapi tak lama kemudian terdengar jeritnya, "hiii....cuih..cuih....huek...hiii." "Kenapa mbak?" tanya kami hampir berbarengan melihat mbak Nova berkali-kali meludah sambil mengusap-usap bibirnya. "Ada belatungnya!" gerutunya. Rupanya mbak Nova telah memakan buah rambutan yang hampir busuk dan ada beberapa belatung di dalamnya.

"Hei Intan...kalo ngasih rambutan yang bener dong!" mbak Nova mengomel. "Lho tadi kan mbak sendiri yang milih?....tadi kan rambutan spesial untuk tuan putri. Selain banyak vitamin...juga mengandung protein hewani," jawabku bercanda. "Hahaha..hahaha...." kami semua tertawa termasuk mbak Nova. Dan pesta rambutan yang mengasyikan pun terus berlanjut hingga kami semua kenyang rambutan.
Baca selengkapnya

Rabu, 28 Desember 2016

Legenda Berdirinya Kota Jogja

Suatu ketika seorang pekatik (tukang cari rumput untuk kuda-kuda milik raja) sedang mencari rumput di hutan Beringan. Ia merasa haus dan berusaha mencari tempat-tempat air, tetapi sulit didapat meskipun telah berjalan kesana-kemari. Ketika itu ia melihat sekawanan

burung kuntul yang sedang terbang menuju ke suatu tempat. Pekatik itu pun menduga-duga bahwa kawanan burung kuntul tersebut tentulah sedang menuju rawa atau sungai, ataupun paling tidak ke sebuah mata air. Maka ia pun bergegas menuju ke tempat arah burung-burung kuntul tadi terbang.

Benar saja dugaan pekatik itu, sampailah ia pada sebuah kolam yang berlimpah dan jernih airnya. Pekatik itupun berniat meminum air tersebut. Namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh kemunculan seekor ular yang sangat besar."Hai, janganlah engkau lari tukang sabit!" kata siluman ular naga itu ketika melihat si pekatik ketakutan dan hendak melarikan diri. "Aku adalah Kyai Jaga, yang menjaga keselamatan hutan Beringan ini. Sampaikan kepada rajamu, jika beliau hendak mencari tempat untuk ibukota kerajaan, hutan Beringan inilah yang terbaik," pesan sang naga kepada hamba tukang sabit itu.



Buru-buru hamba tukang sabit menghadap Sri Sultan dan menceritakan peristiwa yang dialaminya. Ketika itu Sri Sultan masih tinggal di Pesanggrahan Pura-para, sebelah barat hutan Beringan. Sebagian orang menyebutnya Keraton Ambarketawang. Tidak lama kemudian Sri Sultan menitahkan untuk membuka alas (hutan) Beringan untuk didirikan keraton lengkap dengan tembok benteng sebagai pertahanan. Dititahkan pula untuk didirikan Tugu di sebelah utara keraton, tempat untuk Kyai Jaga.


ilustrasi-java harmony
Baca selengkapnya

Selasa, 27 Desember 2016

Main di Sungai

Hari minggu adalah saat yang paling menyenangkan untuk bermain bersama teman-teman. Aku, Hani, Arum dan Sifa asyik bermain di sungai. Kami senang sekali bermain di sana. Ketika sedang asyik bermain air, tiba-tiba saja Arum berteriak; "Aaaa....aduh!. Pandangan kami semua tertuju ke arahnya. Ternyata seekor kepiting sungai mencapit jari tangan Arum. Katanya tidak terlalu sakit, hanya mengeluarkan sedikit darah dari bekas capitan kepiting itu. Dia tadi menjerit karena kaget saja. Kami semua tertawa dan menganggapnya lucu. Walau sebenarnya kasihan juga si Arum.

Saat hari sudah sore aku dan teman-temanku pulang ke rumah masing-masing. Beberapa hari kemudian aku menceritakan pengalaman bermain di sungai kepada Bunda. Sebenarnya aku takut membicarakannya kepada Bunda, karena aku mengira tidak diperbolehkan bermain di sungai. Eh...ternyata boleh!

ilustrasi-java harmony
Baca selengkapnya

Minggu, 25 Desember 2016

Coloring Pyrography


Pada dasarnya seni lukis pirografi hanya berupa warna-warna hasil pembakaran permukaan papan kayu. Namun seiring permintaan para pemesan, kami pun mewarnai sedikit di bagian-bagian tertentu pada lukisan pirografi kami.

Ada yang menginginkan pewarnaan di bagian dekoratifnya, sedang wajah tidak diwarnai. Namun ada pula yang sebaliknya, bagian wajah diwarnai sedang bagian latar belakang tetap pirografi dengan warna natural.

Ada juga yang menginginkan full color pyrography, baik bagian wajah maupun hiasan dekoratifnya. Semua bergantung pada selera dan keinginan pemesan.


Dalam pewarnaan kami menggunakan pencil warna faber castell. Warna tetap awet karena kami menggunakan 'clear' sampai 3-5 kali semprotan/lapisan agar lukisan awet dan tidak luntur serta berjamur.

Masih banyak contoh pesanan yang telah kami buat dan bisa Anda lihat di Gallery blog ini.
Baca selengkapnya

Ketika Bunda Sakit

Betapa kagetnya Eka sepulang sekolah mendapati ibunya terbaring lemah diatas tempat tidur di kamar beliau. "Apa yang sedang terjadi?"tanya hatinya. Tampak raut muka sedih kedua adiknya yang duduk disamping ranjang tempat ibundanya terbaring. "Apa yang terjadi dengan Bunda?"tanya Eka lirih sambil mendekat dan memegangi tangan ibunya.

"Ohh...Ibu nggak apa-apa nak...hanya sedikit capek dan badan terasa lemas,..masuk angin mungkin,"jawab ibu menenangkan putra sulungnya itu. "Maaf, hari ini Ibu belum sempat masak karena tadi ibu tidak pergi ke pasar," lanjut ibu. "Tidak apa-apa Bu...biar Eka dan adik-adik yang mengerjakannya....Ibu istirahat dulu aja,"kata Eko berusaha menghibur hati bundanya.
   
Eka dan kedua adiknya bersepakat berbagi tugas untuk membantu ibu mereka. Kedua adiknya bergotong royong menanak nasi, sedang Eka sendiri langsung menyahut peralatan pancingnya. Dengan lincah kedua kakinya menyusuri jalanan ujung kampung menuju sebuah sungai kecil. Sejurus kemudian mata kail berumpan cacing itupun tenggelam dalam air, siap dimangsa ikan-ikan sungai. "Yes..hari baik!"teriak Eka dalam hati ketika jorannya mulai terasa berat karena se-ekor ikan mas mulai menyambar umpannya. Betapa girang wajah Eka karena satu persatu ikan berhasil dia pancing. "Asyik...hari ini pesta ikan nich..,"gunamnya. Setelah dirasa cukup untuk hari ini, ia pun segera pulang.

         Senyum lebar kedua adiknya menyambut hangat kepulangan Eka. "Wah, dapet ikan banyak banget!"seru adik terkecilnya. "Iya...ikannya besar-besar lagi!"timpal adik satunya. Setelah ikan-ikan tersebut dibersihkan dan dilumuri bumbu bawang campur sedikit garam,masuklah dalam penggorengan.

"Aduhhh ..... harum sekali.....pasti enak nich". "Iya..kak Eka kan pintar masak". Begitu celotehan adik-adiknya tidak sabar ingin segera menyantap ikan mas goreng. Mendengar ribut-ribut di dapur dan tertarik dengan bau harumnya ikan goreng, ibu pun keluar dari kamar dan berjalan pelan menuju dapur.

"Tinggal bikin sambal kok Bu," demikian kata Eka ketika melihat ibunya muncul di dapur.Senyum bangga sang ibupun tersungging, melihat putra-putrinya belajar mengerjakan pekerjaan rumah secara mandiri. Siang itu, mereka pun pesta ikan dan kebahagiaan senantiasa menyelimuti di rumah keluarga sederhana itu.

ilustrasi-java harmony
Baca selengkapnya

Kamis, 15 Desember 2016

Hobi Baru Bernama Pyrography

Sejak akhir bulan November dan awal Desember ini, saya coba kesenangan baru yaitu melukis dengan teknik pirografi. Secara pengertian sederhananya pirografi adalah aktifitas melukis diatas papan kayu (bisa juga kulit maupun kertas tebal) memakai unsur panas api maupun memakai besi panas.

Ke-isengan beberapa minggu lalu terus berlanjut tampaknya. Karena tanpa diduga karya saya sudah mulai mendapat respon. Dari Fb sudah mulai ada permintaan / pesanan.


Sebenarnya peralatan untuk melukis pirografi harganya cukup mahal. Sayang di Indonesia tidak ada yang jual. Mesti beli secara online dari luar negri dengan kisaran harga diatas 5 jutaan. Tapi kita orang Indonesia gak kurang akal, saya modifikasi sendiri solder 80watt jadi alat gambar. Dipadukan dengan solder uap (blower) yang dulu saya beli seharga 800an ribu rupiah (12 tahun lalu sampai sekarang masih awet). Kalo beli solder uap model sekarang emang sudah lebih murah, 450ribuan rupiah, tapi cepet jebol dalam hitungan bulan.


Meski peralatan yang saya punya masih sangat minim, tapi lumayanlah...sudah mulai dapat pesanan dari teman-teman yang mengontak lewat sosmed.
Baca selengkapnya

Rabu, 14 Desember 2016

Layang-Layang Raksasa

Hari ini merupakan hari yang mendebarkan hatiku. Ya, Sabtu ini merupakan hari terima rapot semester ganjil. Ayah pergi ke sekolah untuk mengambil buku raporku, beliau mengajak adik, sedangkan aku tinggal di rumah bersama bunda. Ketika aku mulai merasa jenuh menunggu kedatangan ayah dan adikku, tiba-tiba mataku menatap sebuah layang-layang besar milik ayah yang tersimpan di gudang belakang rumah. Layang-layang besar itu sering dipakai untuk lomba oleh ayah bersama teman-temannya. Sebuah layang-layang besar berbentuk burung elang terbuat dari bahan parasut dengan kerangka fiber yang kuat.

"Hmm...belum pernah aku diajak Ayah memainkan layangan itu, .....gimana ya rasanya main layangan besar....nggak ada salahnya aku coba daripada cuman bengong aja sejak tadi," begitu pikirku. Diam-diam layang-layang itu aku ambil dengan hati-hati supaya tidak ketahuan bunda. "Huuh....repot juga bawa layangan sebesar ini," gerutuku sambil berjalan ke lapangan dekat persawahan, tempat anak-anak kampung biasa bermain. Sesampainya di lapangan ternyata belum ada seorang anak pun yang bermain di tempat itu, masih sepi. Sayang sekali, karena layangan ini harus dimainkan banyak orang dan memang nggak bisa dimainkan sendirian. Ketika sedang asyik di tengah lapangan sambil melempar pandangan ke semua arah, berharap ada teman yang datang, tiba-tiba saja angin bertiup sangat kencang. Saking kencangnya angin bertiup, layang-layang besar itupun terangkat. Aku panik banget, tapi tetap berusaha memegang talinya yang terbuat dari nylon. Aku tidak mau layangan itu 'kabur' dan hilang, ayah bisa marah kalau itu sampai terjadi. Tapi bagaimana ini? tubuh kecilku tak mampu menahan tarikan layang-layang yang makin membumbung tinggi. Ya ampun, sekarang akupun ikut terbawa naik keatas sambil tetap memegang tali layangan. Panik, bingung, takut semuanya jadi satu dan akupun mulai menangis.
Angin terus-menerus bertiup dan membawa layang-layang serta tubuhku makin naik...naik..dan terus naik. Tingginya pohon kelapa pun telah terlampaui dan tubuhku makin terangkat keatas. "Tolong...tolong...tolooooong!!" aku berteriak bercampur tangis, tapi keadaan dibawah memang sepi sehingga tak seorangpun dengar teriakanku. Layangan raksasa ini telah membawaku melintasi beberapa rumah di perkampungan tempat tinggalku. "Bunda...Bunda...tolong akuuuuu!" teriakku ketika melintas diatas rumahku. Sayang bunda tidak mendengar teriakanku dan tetap asyik menjemur pakain di halaman belakang. Dari atas sini, bunda yang gendut jadi terlihat kecil sekali. Rumah-rumah pun terlihat cuma sebesar korek api, begitu pula pepohonannya. Petak-petak sawah yang menghijau dan liukan sungai yang seperti seekor ular raksasa. Orang -orang yang sedang berjalan di bawah tampak seperti semut. Meski masih tegang, akupun mulai bisa menikmati pemandangan indah sekitar kampungku dari atas sini. Beberapa burung seriti yang kebetulan terbang melintas dibawahku, terlihat panik. Mungkin burung-burung itu mengira kalau layang-layang berbentuk elang ini sebagai burung elang betulan.

Aku sudah tidak menangis lagi, sebab percuma saja, kini aku tinggal mengikuti kemana layang-layang ini akan mendarat. Aku berdoa semoga bisa mendarat dengan selamat, jangan sampai deh...nyangkut ke kabel listrik. Tiupan angin mulai reda, dan layang-layang inipun perlahan-lahan turun. Tapi...kok arahnya ke sungai?. "Waduh...bener-bener gawat nich!" teriakku sendirian. Dan.....'byuuuur'.....aku dan layang-layang sial ini pun tercebur ke sungai!.

Tenagaku hampir habis ketika harus berjalan pulang sambil membawa layang-layang yang makin berat karena basah. Apalagi, barusan tadi aku berayun-ayun diangkasa, berpegangan pada seutas tali sambil menahan berat badanku sendiri. Tanganku terasa pegal semua. Tapi........kalau dipikir-pikir asyik juga petualanganku barusan, bisa terbang seperti burung dan ternyata sangat indah melihat pemandangan dari atas. Menegangkan sekaligus menyenangkan, meskipun aku tidak mau mengulanginya lagi karena memang sangat berbahaya, bisa bikin celaka!. Untung saja aku tidak kenapa-kenapa, "slamet...slamet...slamet...slamet," batinku.

ilustrasi-java harmony
Baca selengkapnya