Jangan Baca Primbon Kalau Belum Siap Mental ! - JAVA HARMONY

Jangan Baca Primbon Kalau Belum Siap Mental !

Jangan Baca Primbon Kalau Belum Siap Mental !

Hampir 5 tahun lebih saya bergelut dengan ketidak-pastian hidup dan kondisi ekonomi yang cukup sulit. Terlalu besar ambisi dan ngotot mengejar keinginan. Tapi sampai di penghujung 2019 ini, banyak yang tidak terwujud.
Sampai tadi sore saya iseng-iseng baca primbon tentang neptu saya (tanggal lahir saya dalam kalender jawa), membuat saya jadi merenung dan sempat sedih juga. Tentu saja setelah membaca hal-hal baik dan buruk berdasarkan tanggal lahir saya tersebut.

Hari gini percaya Primbon?He..he..he... saya orang jawa yang awalnya tidak terlalu pusing soal isi primbon. Dulu sekali pernah baca-baca sedikit tentang isi Primbon Betaljemur Adammakna yang ditulis oleh Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Cokroningrat.
Dan yang membuat saya terhenyak, apa yang tertulis di primbon tersebut 97% sama persis dengan sifat dan watak yang saya miliki sesuai dengan tanggal kelahiran saya dalam kalender jawa. Ketika membaca di bagian yang baik-baik, saya senang. Tapi ketika sampai di bagian penggambaran sifat-sifat buruknya, saya langsung merasa lemas, karena memang sangat cucok-meong dengan keadaan yang terjadi pada diri saya.
Sempat saya nge-blank, resah, sekaligus kagum pada para penulis jaman doeloe yang sangat sidik-waskita (cerdas-cermat-teliti-visioner). Tapi segera saya sadar bahwa primbon bukanlah ramalan, apalagi ramalan nasib seseorang. Menurut saya, isi primbon lebih pada wilayah ilmu titen. Ya..orang jawa tempo doeloe sering 'niteni' atau merangkum ciri-ciri tentang sesuatu, penanggalan dan tanda-tanda alam. 


Berulang-ulang saya yakinkan diri-sendiri kalau primbon itu bukanlah kitab ramalan semata, tapi ilmu titen. Justru setelah saya membaca di bagian kekurangan dan sifat-sifat buruk saya sesuai tanggal kelahiran, saya baru menyadari bahwa bisa jadi banyak kegagalan yang saya temui selama ini akibat kurang introspeksi diri. Primbon bukanlah tulisan takdir manusia dalam lembaran-lembaran kertas yang terangkum dalam sebuah kitab. Namun terkadang isinya cukup membantu kita menemukan kekurangan-kelemahan yang selama ini kurang kita sadari, untuk segera diupayakan solusi dan perbaikan atas watak-watak kita yang kurang baik.

Bisa jadi garis nasib ada di langit, garis tangan dalam genggaman. Kewajiban kita hanya berikhtiar sebaik-baiknya. Berhasil atau tidak...Tuhan yang tentukan.
Baca Juga :

Anda boleh menuliskan komentar di bawah ini :