Rumahku Surgaku

Amru Khalid dalam bukunya Al-Jannatu fil Baiti telah mengutip pendapat Ibnu Qoyyim bahwa Syaikhul Islam pernah mengatakan;" Di dunia ini ada Surga. Siapa yang tidak memasukinya ia tidak akan memasuki surga akhirat." Amru Khalid berpendapat bahwa surga dunia itu adalah keluarga, tentu saja keluarga yang sakinah-mawaddah-warrahmah.

Rasulullah SAW pernah bersabda;"Baiti Jannati" artinya beliau merasakan bahwa kehidupan rumah tangga beliau yang bak di surga. Penuh dengan pengertian, damai, saling menyayangi, saling mempercayai, peduli dengan sesama, selalu dalam akhlakul karimah. Keluarga yang penuh dengan ketakwaan, menikmati ibadah dengan keluarga, menjadi sumber kebaikan bagi sekitarnya, dan seterusnya.

Bagi kita semua yang ingin menghadirkan surga di lingkungan keluarga dalam rumah kita, Allah memberikan pedoman yang jelas dengan firmannya:

۞وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

 wa sāri'ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin 'arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u'iddat lil-muttaqīn
"Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,"

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-'āfīna 'anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn
"(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,"(QS Ali Imran 133-134)
Dari firmanNya di atas, Allah membukakan rahasia cara mendapatkan surga di rumah, dengan amalan-amalan seperti; sesegera mungkin mencari ampunan Allah dengan bertobat dan selalu istighfar. Jangan ditunda-tunda mohon ampunan Allah kalau terlanjur melakukan dosa. Detik itu berbuat berdosa maka detik itu juga mohon ampunan kepada Allah. Ini jalan pertama menuju surga Allah.

Jalan ke-2 menuju surga Allah dengan selalu menafkahkan harta baik di waktu lapang maupun sempit. Ini sebetulnya simbol agar keluarga kita selalu punya kepedulian sosial kepada orang lain, menjaga hablum minannas. Jadi disamping selalu menjaga ibadah kepada Allah, hablum minallah, maka keluarga kita menjadi sumber kebaikan bagi orang lain yang ada di lingkungan rumah kita.
[next]
Jalan ke-3 menuju surga Allah, 'orang-orang yang menahan amarahnya'. Ini sebetulnya simple agar kita sekeluarga selalu menjaga akhlakul karimah, akhlak yang mulia. Rumah kita dengan seluruh penghuninya merupakan perwujudan akhlak yang mulia dan menjadi suri teladan untuk keluarga keluarga di sekitar rumah kita, sahabat, serta karib kerabat kita. Pernah sahabat meminta nasehat kepada Nabi sewaktu akan pergi haji, Nabi memberikan;"Laa Taghdab". Jangan marah...sampai 3x karena kalau kita mampu menahan amarah, artinya kita mampu mengendalikan diri dan inilah inti ketakwaan kepada Allah.

Jalan ke-4 menuju surga Allah yaitu memaafkan kesalahan orang lain. Ini simbol dari kemampuan untuk mengalah dalam hubungan dengan orang lain walau disakiti, dizalimi, dirugikan oleh orang lain, tidak akan pernah membalas dengan kejahatan yang sama. Tetapi justru akan membalas kejahatan dengan kebaikan. Orang-orang yang seperti inilah yang dijanjikan Allah dalam surat Ar-Ra'd, akan mendapatkan Jannatun 'And.

Jalan ke-5 untuk menuju surga Allah, ayat itu ditutup dengan kalimat; "Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." Ini petunjuk agar kita sekeluarga gemar berbuat kebaikan untuk hamba-hamba Allah lainnya.

Pernah diriwayatkan bahwa suatu kali Nabi Musa sedang bermunajat kepada Allah, tiba-tiba Allah bertanya kepada Nabi Musa. "Wahai Musa alangkah banyaknya ibadahmu tapi sayang semua ibadah ibadahmu itu hanya untukmu. Mana ibadahmu yang untukKu?",tanya Allah. Dengan spontan Nabi Musa menjawab;"Ya Allah semua ibadahku untukMu, selalu dzikirku, puasaku, hajiku, pokoknya semuanya itu untukMu." Allah menjawab;"Belum,..itu semua masih untukmu." "Kalau begitu tunjukkan kepadaku, bagaimana ibadah yang untukMu?", tanya Nabi Musa. Lalu Allah berkata;" Berkhidmatlah kepada hamba-hambaKu."

Jadi berkhidmat kepada orang lain artinya memperhatikan, membantu, melayani, berempati, menolong, memahami, mengalah, atau pada pokoknya bermanfaat bagi orang lain, ternyata merupakan ibadah yang paling disukai Allah. Sehingga Nabi merasa perlu memberitahu kita bahwa sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya.

Akhirnya marilah kita membina rumah tangga kita menjadi keluarga yang dicintai Allah, menjadi sumber ketakwaan, sumber ilmu, sumber kebaikan, sumber ibadah, dan ladang amal untuk akhirat kita. Sehingga kita mampu mewujudkan hadis Nabi;"Baiti Jannati." Kalau-lah kita mampu mewujudkan surga di rumah kita, insyaallah ini akan menjadi jalan untuk mendapatkan surga di akhirat kelak. Amin..!.
|*Drs. H. Bakrim Ma'as
[full-post]

Mewujudkan rumah tangga menjadi surga dunia.

Labels:
[facebook]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.