Dongeng Tentang Reformasi - Bagian 3


Salah seorang yang menjadi tokoh kunci keberhasilan reformasi 98 adalah Cak Nun (MH Ainun Najib). Pejuang, Jurnalis, Budayawan dan seabrek predikat lain yang melekat padanya (beliau nggak suka dipanggil kyai, ustad, bahkan ulama). Sepak terjang beliau dalam mendorong perubahan 20 tahun lalu cukup besar. Namun Cak Nun yang rendah hati dan bersahaja, tidak pernah menghitung-hitung jasa yang telah diberikan untuk bangsa ini. Beliau juga bukan tipe orang yang kemaruk jabatan dan gila kedudukan, beda dengan reformis lainnya. Begitu pula Sri Sultan HB X, dimata saya, beliau juga pejuang reformasi yang sejati.

Mbarang jantur jajah desa milang kori, itulah kegiatan mbah Nun (Cak Nun) sekarang, bersama Pengajian Padang Bulan dan Gamelan Kyai Kanjeng. Berkeliling dari desa ke desa mengadakan Sinau / Ngaji Bareng yang selain membangun kesadaran ruhani umat islam, sekaligus memberikan pendidikan politik secara sederhana untuk masyarakat kecil di pedesaan. Sebelum rezim sekarang mencanangkan pembangunan (fisik) dari pinggiran, Mbah Nun telah memulainya lebih dulu dengan membangun mental-ruhani masyarakat pinggiran.

Disaat para reformis mengaku paling berjasa dan sibuk berebut kekuasaan, Mbah Nun memilih laku prihatin demi kebaikan anak-cucu bangsa Indonesia. Semoga Allah SWT memuliakan Mbah Nun dan seluruh anak cucunya, juga jamaah dan para pengikutnya. Amin.

-Tamat-
Credit image:Robbi Gandamana

Bagi artikel ke :

Artikel terkait

Buka Komentar
Tutup Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar