Maret 2017

Sebuah postcard yang mengilustrasikan para wanita yang sedang melukis pirografi diatas media kulit disebuah 'pyrography-factory'

Pirografi (pyrography, pyrogravure) atau disebut juga 'woodburning' sudah ada sejak jaman pra-sejarah. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya  'menulis dengan api' (pur=api, graphos=menulis). Menggambar adalah salah satu metode manusia pra-sejarah dalam bercerita dan berkomunikasi. Setelah penemuan penting yaitu api, maka pembakaran dengan menggunakan bahan kayu pun mulai terbangun. Sisa-sisa pembakaran kayu/ arang digunakan untuk membuat pola-pola dan lukisan di dinding gua. Sayangnya karya seni tersebut tidak bisa permanen.

Setelah manusia mulai mengenal logam dan menggunakannya sebagai peralatan untuk pelbagai keperluan (misal; mata tombak dan anak panah untuk berburu, dsb) maka mulailah digunakan alat pirografi sederhana berupa logam yang dipanaskan/dibakar. Mereka menorehkannya ke lembaran kulit binatang, kayu dan tulang. Metode menggambar secara primitif dengan menggunakan logam yang langsung dipanaskan ke bara api ini sangat mereka sukai hingga era Medieval (450SM-1400Masehi, disebut juga abad pertengahan).
Tabut/peti abad pertengahan di Burnt Wood
English Workmanship, awal abad 16
Dimiliki oleh Henry Cabot Lodge

Penandaan kemajuan nenek moyang masa itu dalam hal teknik 'woodburning' dengan penemuan artefak-artefak kuno di Peru dan Romawi Inggris sebelum abad 1 Masehi. Setelah era abad pertengahan dan memasuki era Renaissance dan Victoria, pirografi makin populer meskipun hanya sebatas sebuah hobi.
Pada era ini digunakan toolkit berupa poker (batangan logam) yang dipanaskan diatas panci pembakaran atau kompor portable. Berbagai bentuk poker disisipkan melalui lubang-lubang panci atau kompor pembakaran.  Karena setelah digunakan untuk menggambar diatas kayu ataupun kulit, batangan logam itu menjadi cepat dingin, maka harus ada beberapa poker yang tetap dipanaskan dalam tungku dan dipakai secara bergantian. Metode ini disebut pokerworks.

James William Fosdick sedang bekerja dalam studionya.
Berpose dengan Alat Thermo-Pyrography .
Diterbitkan dalam artikelnya di The Art Interchange bulan Juli 1894

Portrait Detail after Rembrandt's
"The Prodigal Son in the Tavern"
By Norman W. Kingsley, June 1901
Pyrography on wood panel, 12 in. wide by 17 in. tall (30.2 cm. by 43.2 cm.)
in its original Arts and Crafts frame, measuring 18-7/8 in. by 23-5/8 in.
After Rembrandt's painting of "The Prodigal Son in the Tavern"
Image courtesy of S. Peck

Perkembangan dari hanya sebatas hobi ke penggunaan secara komersial muncul ketika mesin/ alat yang lebih modern diciptakan. Munculah istilah Pyrography. Pada awal abad 20 kemajuan peralatan pyrography atau solder listrik memberi kemudahan dalam kotrol alat dan akses ke berbagai bentuk dan desain seni dengan teknik bakar ini.

https://www.ironcore.com.au

www.arizonagourds.com
Bahkan dengan kemajuan teknologi, menggunaan solder juga semakin canggih dengan dilengkapi berbagai pengaturan suhu sehingga hasil pengerjaan lukisan bakar bisa lebih halus dan lebih cepat. 

Note:
images courtesy of  E-Museum of  Pyrographic Art  / www.pyromuse.org



Ini adalah pesanan pertama saya untuk melukis wayang seri punokawan. Dan menurut si pemesan (yang krmudian memesan lagi...lagi dan lagi) lukisan diatas laku hanya dalam waktu 1 hari setelah dipajang di tokonya. Alhamdulillah ! 😀

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.